Mengapa Resolusi Sehat Awal Tahun Sering Gagal Terealisasi

Kunta Bayu Waskita

Editor: Kunta Bayu Waskita

Bagi Skorer yang memiliki resolusi sehat pada awal tahun 2025, tekadkanlah untuk konsisten menjaga kesehatan agar resolusi tercapai (Yusuf/Skor.id).
Bagi Skorer yang memiliki resolusi sehat pada awal tahun 2025, tekadkanlah untuk konsisten menjaga kesehatan agar resolusi tercapai (Yusuf/Skor.id).

SKOR.id – Menyambut Tahun Baru 2025, apa resolusi kalian, Skorer? Pastinya salah satunya adalah soal kesehatan. 

Misalnya ingin menurunkan berat badan, lebih rajin berolahraga, mulai menjaga makanan, sembuh dari penyakit, dan lain-lain.

Bisa jadi semua resolusi kesehatan semacam itu sebenarnya sudah dicanangkan dari tahun ke tahun, namun terlupakan begitu saja seiring berjalannya waktu.

Penyebabnya bisa macam-macam. Dari tidak tahan godaan untuk makan enak, lingkungan tidak mendukung, hilang motivasi, dan lain-lain.

Alhasil, program kesehatan yang sudah disusun sejak awal tahun menjadi berantakan, dan lucunya, diulangi lagi tahun berikutnya.

Jadi, mengapa resolusi sehat awal tahun sering gagal? Apa saja penyebabnya? Bagaimana cara agar resolusi kesehatan bisa terealisasi?

Itulah yang akan dibahas dalam Skor Special edisi kali ini. (Skor Special adalah artikel yang akan memberikan perspektif berbeda setelah Skorer membacanya dan artikel ini bisa ditemukan dengan mencari #Skor Special atau masuk ke navigasi Skor Special pada homepage Skor.id).

Secara singkat, beberapa faktor penyebab kegagalan resolusi sehat awal tahun terangkum dalam poin-poin pada infografis berikut ini:

Beberapa penyebab gagalnya resolusi kesehatan di awal tahun (Yusuf/Skor.id).
Beberapa contoh penyebab gagalnya resolusi kesehatan di awal tahun (Yusuf/Skor.id).

Untuk lebih jelasnya, simak penjabaran poin-poin tersebut dalam artikel di bawah ini:

1. Ekspektasi yang Tidak Realistis

Salah satu alasan terbesar kegagalan resolusi adalah menetapkan tujuan yang tidak realistis atau terlalu ambisius. 

Misalnya, menargetkan penurunan berat badan 20 kilogram dalam sebulan atau berolahraga enam hari seminggu bisa jadi sangat membebani dan tidak dapat dicapai. 

Ketika tujuan terasa mustahil, mudah untuk menyerah sebelum melihat kemajuan apa pun.

2. Resolusi Kurang Spesifik

Sasaran yang tidak jelas seperti "menjadi lebih sehat" atau "menjadi lebih bahagia" sulit untuk ditindaklanjuti karena tidak memberikan arahan yang jelas. 

Tanpa langkah-langkah yang spesifik dan dapat ditindaklanjuti, sulit untuk mengukur kemajuan atau tetap termotivasi.

3. Mentalitas dan Pola Pikir

Banyak orang menetapkan parameter ketat untuk diri mereka sendiri, seperti berolahraga beberapa hari dalam seminggu atau hanya mengonsumsi makanan "bersih". 

Jika mereka “terpeleset” dan melewatkan latihan atau menikmati makanan ringan, mereka dapat merasa telah gagal total dan menyerah sepenuhnya. 

Pola pikir seperti ini dapat menggagalkan kemajuan dan membuat mereka mudah menyerah. Apalagi jika memiliki mentalitas yang lemah.

4. Kelelahan

Ketika orang terlalu memaksakan diri terlalu cepat mencapai target, menurunkan berat badan misalnya, mereka sering mengalami kelelahan.

Mencoba mengubah terlalu banyak kebiasaan sekaligus, atau menetapkan terlalu banyak harapan tinggi, dapat menyebabkan kelelahan, frustrasi, dan akhirnya, mengabaikan resolusi.

5. Tekanan Eksternal

Resolusi sehat yang dipengaruhi oleh ekspektasi atau tren masyarakat dapat membuat Anda lebih sulit untuk tetap termotivasi karena Anda hanya ikut-ikutan saat menjalaninya.

6. Kurang Dukungan

Kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat dapat membuat Anda lebih sulit untuk tetap pada jalur yang benar untuk mencapai target kesehatan tertentu. 

Memiliki teman atau keluarga yang mendukung dapat membantu Anda untuk tetap bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebugaran.

7. Keraguan dari Diri Sendiri

Jangan biarkan kegagalan masa lalu, misalnya dalam hal diet, membuat Skorer merasa ragu menentukan masa depan kesehatan. 

Rayakan tiap kemenangan kecil untuk memotivasi diri Anda agar berupaya lebih keras.

8. Berpikir Terlalu Jauh ke Depan

Menetapkan tenggat waktu yang lebih pendek untuk mencapai target kesehatan tertentu dapat meningkatkan kemungkinan Anda untuk mencapai tujuan.

9. Motivasi Menurun

Motivasi dapat menjadi hal yang membuat Skorer memulai untuk menjalani diet misalnya, tetapi akan memudar seiring berjalannya waktu. 

Anda dapat mencoba menggunakan motivasi awal tersebut untuk menciptakan kebiasaan yang akan membantu Anda terus berupaya keras untuk mencapai tujuan.

10. Tidak Tahan Godaan

Apa pun target kesehatan Anda, akan ada godaan untuk melanggarnya. Berbagai makanan enak dan tidak sehat untuk mereka yang menjalani diet tersedia di mana-mana.

Rasa malas berolahraga kerap menghantui. Mereka yang kesehatannya sedang terganggu juga kerap melanggar pantangan, sehingga malah memperlambat kesembuhan.

Alasannya kalau makan enak sedikit saja tidak apa-apa. Padahal lama kelamaan itu akan menjadi kebiasaan. 

Jika tidak tahan terhadap berbagai godaan tersebut, ucapkan selamat tinggal terhadap resolusi kesehatan Anda.

Cara Menerapkan Resolusi Kesehatan 

Sekarang setelah kita tahu mengapa resolusi sering gagal, mari kita lihat kiat-kiat praktis untuk membuat perubahan positif, sehingga resolusi bisa terealisasi:

1. Tetapkan Sasaran yang Lebih Kecil dan Dapat Dicapai

Daripada berfokus pada satu sasaran yang besar dan membebani, bagilah menjadi tonggak-tonggak yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. 

Misalnya, daripada bertekad untuk berolahraga lima hari seminggu, mulailah dengan dua atau tiga hari. Setelah Anda membangun kebiasaan, tingkatkan frekuensinya secara bertahap. 

Dengan cara ini, Anda menyiapkan diri untuk meraih kesuksesan, dan tiap kemenangan kecil memberi Anda motivasi untuk terus maju.

Mengapa Sasaran yang Lebih Pendek Berhasil?

Berfokus pada sasaran jangka pendek memberi Anda umpan balik langsung tentang kemajuan Anda. 

Sasaran yang lebih kecil ini lebih mudah dilacak, dirayakan, dan dibangun momentumnya.

Anda dapat merasa bangga dengan tiap langkah maju, daripada merasa putus asa dengan jarak antara posisi Anda saat ini dan sasaran besar Anda. 

Merasa bangga terhadap diri sendiri sangat memotivasi, jadi tetapkan kemenangan-kemenangan kecil di sepanjang jalan untuk meningkatkan kepercayaan diri Anda.

2. Hindari Angka-angka yang Dapat Menyebabkan Kelelahan

Menetapkan angka yang pasti untuk hal-hal seperti latihan, kalori, atau jam yang dihabiskan dapat menjadi kontraproduktif. 

Misalnya, jika Anda berencana untuk bermeditasi lima kali seminggu tetapi hanya berhasil melakukannya tiga kali, hal itu mungkin terasa seperti kegagalan.

Meskipun, tiga sesi masih merupakan pencapaian yang signifikan dibandingkan dengan tidak melakukan sesi sama sekali.

Pendekatan yang Lebih Baik:

Daripada hanya berfokus pada angka, cobalah berfokus pada konsistensi. Misalnya, usahakan untuk "menggerakkan tubuh" tiga kali seminggu, dengan fleksibilitas tentang cara melakukannya. 

Ini dapat mencakup berjalan, yoga, menari, atau aktivitas apa pun yang Anda sukai.

Pendekatan ini membantu menghindari perangkap "semua atau tidak sama sekali", di mana kesalahan kecil terasa seperti kegagalan yang menentukan keberhasilan atau kegagalan.

3. Fokus pada Kesehatan Mental

Ketika fokus pada peningkatan kesehatan mental, kita menciptakan landasan yang kokoh untuk pertumbuhan di semua bidang kehidupan. 

Kesehatan mental sering kali menjadi kunci yang membuka potensi kita untuk membuat perubahan positif yang langgeng.

Mulai dari mengembangkan kebiasaan yang lebih sehat hingga mengejar tujuan jangka panjang. 

Ketika kita memprioritaskan kesehatan mental, baik melalui terapi, kesadaran, atau praktik perawatan diri lainnya, kita membangun ketahanan, kejernihan emosi, dan rasa kekuatan batin. 

Kualitas-kualitas ini memudahkan kita untuk mengadopsi kebiasaan baru, seperti berolahraga, makan dengan baik, atau memperbaiki hubungan.

Kita lebih siap untuk menghadapi tantangan dan kemunduran dengan pola pikir yang positif. 

Fondasi mental yang kuat tidak hanya meningkatkan motivasi dan fokus, tetapi juga memungkinkan kita mencapai tujuan dengan lebih banyak belas kasih dan kesabaran terhadap diri sendiri. 

Ketika kesehatan mental dipelihara, secara alami hal itu meningkatkan kemampuan untuk membuat perubahan berkelanjutan, menciptakan efek berantai yang meningkatkan berbagai aspek kehidupan. 

Dengan menjaga diri sendiri secara mental, kita tidak hanya meningkatkan satu area. Melainkan membuka jalan menuju pertumbuhan, kesuksesan, dan kepuasan dalam segala hal yang kita lakukan.

4. Ciptakan Rutinitas yang Mendukung Keberhasilan

Daripada hanya mengandalkan kemauan keras, buatlah rutinitas yang mendorong keberhasilan. 

Konsistensi, bukan kesempurnaan, adalah kuncinya. Jika Anda ingin makan lebih sehat, persiapkan makanan di awal minggu. 

Jika Anda ingin lebih banyak berolahraga, siapkan pakaian olahraga Anda malam sebelumnya. 

Menciptakan isyarat yang mendukung tujuan Anda dapat mempermudah Anda untuk menindaklanjutinya, bahkan pada hari-hari ketika motivasi sedang rendah.

5. Sayangilah Diri Sendiri

Sangat penting untuk bersikap baik kepada diri sendiri saat Anda melakukan kesalahan. Kritik diri sendiri sering kali dapat menyebabkan perasaan gagal, sehingga Anda cenderung menyerah. 

Sebaliknya, anggap kemunduran sebagai peluang untuk berkembang. Jika Anda melewatkan latihan atau makan berlebihan, akui hal itu tanpa menghakimi, lalu lanjutkan hidup, dan fokuskan kembali pada langkah berikutnya.

Cobalah untuk memperlakukan diri sendiri dengan belas kasih yang sama seperti yang Anda berikan kepada orang-orang yang Anda sayangi. 

Strategi di atas bisa membantu mencapai resolusi sehat pada 2025 (Yusuf/Skor.id).
Tiga srategi di atas bisa membantu mencapai resolusi sehat pada 2025 (Yusuf/Skor.id).

RELATED STORIES

Alasan Olahraga Musim Dingin Cenderung Mahal

Alasan Olahraga Musim Dingin Cenderung Mahal

Banyak faktor yang membuat olahraga musim dingin menjadi sangat mahal.

Kapan Harus Ganti Sepatu Lari dan Mengapa Perlu Diganti?

Kapan Harus Ganti Sepatu Lari dan Mengapa Perlu Diganti?

Jika Anda berlari rata-rata 25 km per minggu, Anda perlu ganti sepatu tiap 5-8 bulan.

Mengapa Wasit Rugbi Dianggap sebagai Wasit Paling Fit

Mengapa Wasit Rugbi Dianggap sebagai Wasit Paling Fit

Studi World Rugby mengukur tuntutan fisik yang diberikan kepada wasit dalam 360 pertandingan.

Mengapa J.League Ganti Periode Kompetisi Per 2026?

Mulai tahun 2026 mendatang, Liga Jepang alias J.League akan mengganti periode kompetisi mereka jadi dimulai di musim panas.

Skor co creators network
RIGHT_ARROW
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
RIGHT_ARROW

THE LATEST

Striker asal Montenegro, Boris Kopitovic menjadi bagian dari Bali United di paruh musim Liga 1 2024-2025 setelah punya catatan cemerlang bersama Tampines Rovers di Singapura, Januari 2025. (Foto: Bali United/Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id)

Liga 1

Rapor Apik 4 Pemain Asing Debutan Liga 1 yang Direkrut Pertengahan Musim

Ada empat pemain asing debutan yang direkrut para pertengahan musim langsung memberikan dampak bagi klubnya.

Rais Adnan | 04 Apr, 09:21

Maarten Paes sebagai kiper Timnas Indonesia. (Jovi Arnanda/Skor.id)

Timnas Indonesia

Maarten Paes Bicara Persaingan dengan Emil Audero di Timnas Indonesia

Maarten Paes memberikan komentar bijak soal persaingan dengan Emil Audero untuk menjadi kiper utama Timnas Indonesia.

Rais Adnan | 04 Apr, 08:18

Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi atau AFC U-17 Asian Cup Saudi Arabia 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Piala Asia U-17 2025: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Jadwal, hasil, dan klasemen Piala Asia U-17 2025, yang terus diperbarui seiring berjalannya turnamen.

Taufani Rahmanda | 04 Apr, 07:34

Yu-Gi-Oh Master Duel (Konami)

Esports

Rayakan 80 Juta Download, Yu-Gi-Oh Master Duel Bagi-bagi Gems

Untuk merayakan pencapaian ini, Yu-Gi-Oh! MASTER DUEL menawarkan total 1.000 Gems gratis.

Gangga Basudewa | 04 Apr, 07:31

Nintendo Switch 2. (Nintendo)

Esports

Nintendo Resmi Umumkan Jadwal Rilis Switch 2

Konsol ini akan meluncur pada 5 Juni 2025 dengan dua edisi berbeda yang bisa dipilih oleh para penggemar.

Gangga Basudewa | 04 Apr, 07:25

Timnas U-17 Korea Selatan vs Timnas U-17 Indonesia (Korea Selatan U-17 vs Indonesia U-17) pada Grup C Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi, 4 April 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Head-to-Head Timnas U-17 Indonesia vs Korea Selatan: Pernah Kalah 0-9!

Pernah kalah 0-9, berikut ini adalah head-to-head Timnas U-17 Indonesia saat melawan Korea Selatan.

Thoriq Az Zuhri | 04 Apr, 02:37

Bukayo Saka mencetak gol setelah memanfaatkan assist Martin Odegaard. (Rahmat Ari Hidayat/Skor.id).

Liga Inggris

Prediksi dan Link Live Streaming Everton vs Arsenal di Liga Inggris 2024-2025

Berikut ini adalah prediksi pertandingan dan link live streaming Everton vs Arsenal dalam laga lanjutan Liga Inggris.

Thoriq Az Zuhri | 03 Apr, 23:32

AFC

World

Termasuk Indonesia, 5 Negara Asia dengan Lonjakan Ranking FIFA Tertinggi

Berikut ini adalah lima negara di Asia yang punya lonjakan Ranking FIFA tertinggi untuk ranking tanggal 3 April 2025.

Thoriq Az Zuhri | 03 Apr, 23:15

Timnas U-17 Korea Selatan vs Timnas U-17 Indonesia (Korea Selatan U-17 vs Indonesia U-17) pada Grup C Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi, 4 April 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Prediksi dan Link Live Streaming Korea Selatan vs Indonesia di Piala Asia U-17 2025

Timnas U-17 Indonesia mengawali kiprah di Piala Asia U-17 2025 dengan bersua Korea Selatan U-17, Jumat (4/4/2025) malam WIB.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 16:05

Klub asal Filipina, Makati FC, yang diperkuat empat pemain Timnas putri Indonesia pada PFF Womens Football League 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

4 Pemain Timnas Putri Indonesia Gabung Klub Filipina di PFF Womens Football League 2025

Tiga pemain Timnas putri Indonesia bahkan langsung unjuk gigi bersama Makati FC di PFF Womens Football League 2025.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 14:04

Load More Articles