SKOR.id - Ada beberapa alasan yang membuat Como 1907 tak akan bisa jadi klub besar di Serie A Liga Italia, dan mari membantah alasan-alasan tersebut.
Como 1907 jadi salah satu klub yang paling menarik minat para pencinta sepak bola dunia, tak terkecuali di Indonesia, dari gelaran Serie A Liga Italia musim ini.
Tak hanya karena kisah inspiratif yang mereka miliki, pergerakan Como 1907 di pasar transfer juga membuat banyak mata melirik ke arah klub berjuluk I Lariani ini.
Meski begitu, tak sedikit pula ada pihak-pihak yang memandang sebelah mata pencapaian Como sejauh ini.
Dalam artikel Skor Special ini, mari kita lihat alasan-alasan apa saja yang mungkin akan membuat Como 1907 bisa gagal menjadi sebuah tim besar, dan juga bantahan soal alasan-alasan tersebut.
(Skor Special adalah artikel yang akan memberikan perspektif berbeda setelah Skorer membacanya dan artikel ini bisa ditemukan dengan mencari #Skor Special atau masuk ke navigasi Skor Special pada homepage Skor.id.).
1. Baru Promosi
Kegemilangan Como 1907 saat ini dimulai saat klub dibeli oleh Grup Djarum dari Indonesia.
Saat itu, Como baru saja juara Girone B di Serie D 2018-2019 dan promosi ke Serie C, alias kembali masuk ke liga profesional di Italia.
Hanya dua musim, Como 1907 langsung jadi juara Serie C 2020-2021 dengan 75 poin, unggul tujuh angka dari pesaing terdekat, dan promosi ke Serie B.
Mereka juga tak bertahan lama di Serie B, hanya tiga musim mereka berada di kasta kedua sebelum musim lalu jadi runner-up dan mendapat tiket promosi otomatis ke kasta teratas.
Tiga kali promosi dalam lima tahun bisa jadi perubahan yang terlalu cepat bagi sebuah klub. Como 1907 bisa saja belum siap menghadapi Serie A musim ini.
BANTAHAN:
Tiga kali promosi dalam lima tahun artinya justru Como 1907 bisa beradaptasi dengan cepat dengan liga yang mereka ikuti.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membentuk tim yang siap bersaing dan bahkan menjuarai divisi tempat mereka bermain.
Kisah ini mirip dengan RB Leipzig di Liga Jerman yang sempat promosi dari kasta kelima ke kasta teratas hanya dalam waktu tujuh tahun saja.
Kini, RB Leipzig adalah salah satu klub terbesar di Bundesliga dan Eropa. Bukan tak mungkin Como 1907 mengikuti jejak mereka.
2. Tak Punya Sejarah
Tim besar biasanya punya sejarah panjang di sepak bola. Bertahun-tahun berkompetisi di level teratas membuat mereka memiliki banyak penggemar dan terbukti memiliki kestabilan serta mental yang teruji.
Banyak yang mengatakan Como 1907 tak demikian.
Sukses mereka baru-baru ini membuat klub ini belum memiliki kekuatan mental dan identitas yang bisa membuat mereka jadi tim besar.
BANTAHAN:
Seperti namanya, sejarah Como tak dimulai pada 2019 lalu, tetapi sejak tahun 1907. Artinya, klub ini sudah berdiri lebih dari satu abad lamanya.
Sepanjang sejarah, 14 musim mereka berkomptisi di kasta teratas Liga Italia, 37 musim di kasta kedua, 35 musim di kasta ketiga, dan hanya tujuh musim di kasta keempat.
Selain itu, tiga trofi Serie B, empat trofi Serie C, dan dua trofi Serie D ada di dalam lemari piala mereka.
Como 1907 bisa melihat Manchester City misalnya. Sebelum era sekarang, Man City bukanlah tim raksasa, meski sudah pernah memiliki beberapa trofi juara, sama seperti Como.
Kini, Manchester City adalah salah satu klub paling besar di dunia, hal yang tak mungkin juga diraih Como ke depannya.
3. Penduduk Como Sedikit
Klub besar butuh dukungan yang besar pula, biasanya. Masalahnya, Kota Como sebagai markas Como 1907 bukanlah sebuah kota yang besar.
Kota Como adalah Ibu Kota Provinsi Como di Region Lombardy Italia, sebuah provinsi di pojok utara Italia berbatasan langsung dengan Swiss.
Kota Como hanya punya penduduk 84.250 orang (data sensus 2022), sedangkan Provinsi Como penduduknya total hanya 599.905 orang (data sensus 2015).
Jumlah penduduk yang sedikit bisa membuat Como kesulitan mendapatkan fans untuk menonton di stadion dan membantu mereka jadi klub besar.
BANTAHAN:
Meski memang pemasukan dan dukungan dari fans sangat berarti untuk sebuah klub, ini bukan satu-satunya faktor yang menjadikan sebuah klub menjadi besar.
AS Monaco misalnya yang delapan kali juara Liga Prancis, penduduk lokal Monaco hanya 39.050 orang (data 2022), itupun mereka selalu kesulitan untuk membuat stadion Stade Louis II penuh penonton.
Meski begitu, nyatanya mereka bisa jadi klub besar.
4. Stadion Kecil
Klub besar identik dengan stadion yang besar dan megah. Selain karena prestise, stadion besar juga bisa memuat banyak penonton, artinya semakin banyak pemasukan.
Como 1907 saat ini bermain di Stadio Giuseppe Sinigaglia, stadion yang berkapasitas hanya 13,602 penonton.
Stadion ini dibangun pada 1927 oleh perintah Benito Mussolini, dan diberi nama Giuseppe Sinigaglia, atlet rowing sekaligus pahlawan nasional Italia yang berasal dari Como.
Stadion ini pula yang bisa jadi penghambat Como 1907 untuk jadi salah satu tim besar Italia.
BANTAHAN:
Di Serie A musim ini, stadion ini bukanlah yang terkecil.
Stadioo Pier Luigi Penzo milik Venezia punya kapasitas yang lebih sedikit (11.150 penonton).
Villarreal di Liga Spanyol misalnya, Stadion La Ceramica milik mereka hanya punya kapasitas 23 ribu penonton, tetapi hal ini tak menghentikan mereka jadi salah satu klub besar Eropa.
Selain itu, kapasitas stadion Como lebih banyak daripada separuh lebih tim-tim di kasta teratas Liga Portugal.
5. Tak Bisa Rekrut Pemain Bintang
Pemain bintang bisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan juga katrol untuk menaikkan performa klub.
Como perlu merekrut banyak bintang untuk bisa bertahan di Serie A, apalagi menjadi klub besar.
BANTAHAN:
Alasan ini adalah yang paling mudah dipatahkan.
Como 1907 musim ini punya banyak pemain bintang yang sudah bernama, selain pelatih Cesc Fabregas.
Mereka kini memiliki Emil Audero, Patrick Cutrone, Andrea Belotti, Ali Jasim, Alberto Moreno, Pepe Reina, Simone Verdi, hingga Rapahel Varane.
Keberadaan Cesc Fabregas dan juga Thierry Henry sebagai pemilik saham minoritas sedikit banyak membantu soal perekrutan pemain bintang.
6. Tak Punya Fans di Luar Como
Presensi global memang sesuatu yang penting untuk bisa membuat sebuah klub menjadi lebih besar dan dikenal.
Como 1907 yang baru promosi mungkin akan perlu cukup banyak waktu untuk bisa mendapatkan fans baru di luar Como.
BANTAHAN:
Justru mungkin fans terbesar Como kini berada di luar wilayah Kota Como.
Instagram mereka sudah memiliki lebih dari setengah juta followers, dengan Instagram Cesc Fabregas punya lebih dari 15 juta pengikut.
Ali Jasim punya 1,8 juta follower, Raphael Varane 23,1 juta, Alberto Moreno 1,1 juta, belum lagi pemain-pemain lainnya.
Fans sepak bola di Indonesia juga memiliki daya tarik tersendiri terhadap Como dengan apa yang terjadi di belakang layar klub ini.
7. Tak Punya Rival
Rival dan laga sengit menjadi salah satu hal yang identik dengan sebuah tim besar.
Semakin besar laga, semakin sengit laga, semakin banyak orang yang ingin menonton, dan klub menjadi semakin besar.
Como 1907 mungkin tak memiliki hal itu.
BANTAHAN:
Hal ini sama sekali tak benar, rival terbesar Como 1907 kini ada di Serie A dan keduanya akan bertemu musim ini, AC Monza.
Keduanya sama-sama dari Region Lombardy, Italia, dan sudah memiliki rivalitas selama lebih dari setengah abad.
Semua dimulai pada 4 Juni 1967 saat Monza mengalahkan Como 1-0 pada laga playoff promosi Serie B.
Pada 1980, gantian Como yang menghentikan harapan Monza untuk promosi ke kasta teratas usai imbang 3-3 setelah Monza sempat unggul 1-0.
Monza kini naik ke kasta teratas Serie A sejak 2022 lalu dan kini akan kembali bertemu rival terbesar mereka, Como.