SKOR.id - Federasi Otomotif Internasional (FIA) berencana menggelar pertemuan penting dengan para pabrikan mesin Formula 1 dalam rangka membahas kemungkinan kembalinya mesin V10. Diskusi akan berlangsung pada 11 April mendatang saat seri Grand Prix Bahrain 2025.
Isu ini mencuat setelah Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, mengungkapkan wacana penggunaan mesin V10 yang ramah lingkungan melalui bahan bakar berkelanjutan. Gagasan tersebut mendapat respons serius dan kini mulai dieksplorasi lebih dalam oleh FIA.
Direktur FIA untuk kategori mobil tunggal, Nikolas Tombazis, membenarkan bahwa badan pengatur olahraga ini tengah mempertimbangkan kembalinya mesin legendaris tersebut, yang terkenal dengan suara menggelegar dan performa tinggi. Tombazis juga tidak menutup kemungkinan mesin V10 bisa diperkenalkan sebelum tahun 2031, saat regulasi mesin berikutnya direncanakan dimulai.
Meski belum ada proposal resmi, pertemuan ini diharapkan bisa mengukur sejauh mana minat dan dukungan dari para pabrikan. Namun, langkah ini juga memunculkan ketidakpastian terhadap arah pengembangan mesin V6 hybrid yang dijadwalkan mulai 2026 dan tengah dalam tahap investasi besar.
Sejumlah pabrikan besar telah angkat bicara. Audi, yang akan debut sebagai tim pabrikan pada 2026, telah berkomitmen pada teknologi hybrid dengan fokus elektrifikasi. Sementara itu, Honda, yang juga kembali ke F1 berdasarkan regulasi 2026, belum menyatakan sikap terkait rencana V10.
Dikabarkan, terdapat usulan untuk memperpanjang masa pakai mesin saat ini hingga 2028, sebelum beralih ke V10. Namun, opsi tersebut dinilai kurang realistis dan tahun 2031 dinilai lebih memungkinkan.
Menariknya, tren global di industri otomotif mulai berpindah dari elektrifikasi penuh ke pengembangan bahan bakar berkelanjutan. Dalam konteks ini, mesin V10 berbahan bakar ramah lingkungan dianggap lebih hemat biaya dan teknis dibandingkan mesin hybrid canggih saat ini.
Bos Mercedes Ragukan Rencana
Di sisi lain, Team Principal Mercedes F1, Toto Wolff, menyatakan keraguan besar terhadap rencana kembalinya mesin V10. Ia menilai wacana tersebut terlalu dini, mengingat mesin baru 2026 belum mulai digunakan.
“Kami bahkan tidak punya lagi peralatan dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk membangun mesin seperti itu. Tidak ada dyno, baterai, semuanya sudah tidak ada,” kata Wolff.
Menurutnya, meski mungkin Mercedes bisa membangun mesin untuk tim sendiri, akan mustahil menyuplai untuk tim pelanggan mengingat waktu pengembangan yang sangat panjang dan kompleksitas teknis yang tinggi.
Dengan pertemuan krusial ini, masa depan teknologi mesin F1 kembali menjadi sorotan. Apakah olahraga balap paling bergengsi ini akan kembali ke masa kejayaannya dengan suara V10 yang ikonik, atau tetap melaju ke arah elektrifikasi? Semua mata kini tertuju pada Bahrain.