Home > Timnas Indonesia

Lompatan Ranking FIFA Timnas Indonesia di Era Erick Thohir: Tiga Pelatih, Naik 31 Peringkat

Meski begitu, Akmal Marhali mengingatkan masih ada PR untuk membawa Timnas Indonesia menembus 100 besar dunia.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Ketum PSSI, Erick Thohir. (Foto: Yogie Gandanaya/Grafis: Skor.id) 
Ketum PSSI, Erick Thohir. (Foto: Yogie Gandanaya/Grafis: Skor.id)

SKOR.id — Ranking FIFA Timnas Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah pergantian pelatih dan dinamika prestasi di level internasional, posisi Garuda justru terus menunjukkan tren positif.

Sejak April 2023 hingga Agustus 2026, Indonesia berhasil mendaki 31 peringkat dalam ranking FIFA. Dari posisi 149 dunia, Timnas Indonesia kini menempati peringkat 118.

Perjalanan tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI dan melibatkan tiga pelatih dengan karakter serta pendekatan berbeda.

Shin Tae-yong menjadi sosok yang membuka fase tersebut. Menangani Timnas Indonesia sejak periode sebelum Erick Thohir hingga Januari 2025, pelatih asal Korea Selatan itu membawa Indonesia naik dari peringkat 149 ke posisi 127 dunia.

Baca Juga: 7 Fakta Unik Enzo Fernandez yang Harus Kamu Tahu

Baca Juga: Emil Audero Gabung Rayo Vallecano, Bulan Ini Bisa Hadapi Real Madrid

Setelah era Shin Tae-yong berakhir, tongkat kepelatihan beralih kepada Patrick Kluivert. Dalam masa kerja sekitar sembilan bulan, dari Januari hingga Oktober 2025, Indonesia kembali mengalami peningkatan ranking, dari posisi 127 menjadi 122.

Tongkat estafet kemudian diteruskan John Herdman. Pelatih asal Kanada itu mulai menangani Timnas Indonesia pada Januari 2026 dan dalam tujuh bulan pertamanya membawa Garuda naik empat tingkat, dari peringkat 122 ke posisi 118 dunia.

Dengan demikian, ketiga pelatih tersebut memiliki kontribusi dalam perjalanan Indonesia memperbaiki posisi di ranking FIFA.

Pengamat sepak bola sekaligus Founder Save Our Soccer, Akmal Marhali, menilai perkembangan tersebut patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa ranking FIFA bukanlah tujuan akhir dari perjalanan Timnas Indonesia.

“Kita patut bersyukur dan mengapresiasi progres ini, tetapi tetap harus rendah hati. Ranking FIFA bukan tujuan akhir. Ia adalah cermin dari konsistensi prestasi dan kualitas pertandingan yang kita jalani. Dari 149 ke 118 adalah kemajuan, tetapi pekerjaan rumah kita masih besar karena target berikutnya adalah masuk 100 besar dunia,” ujar Akmal Marhali di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Akmal, peningkatan ranking juga tidak bisa dilepaskan dari kualitas lawan yang dihadapi. Dalam sistem ranking FIFA, hasil pertandingan serta kekuatan lawan turut menentukan perolehan poin.

Karena itu, setiap agenda pertandingan internasional memiliki nilai strategis. Menghadapi tim dengan peringkat lebih tinggi, misalnya, dapat menjadi kesempatan untuk memperoleh tambahan poin sekaligus mengukur sejauh mana perkembangan kualitas permainan Indonesia.

Akmal menilai tren positif tersebut semestinya tidak berhenti pada pencapaian angka di ranking FIFA. Federasi perlu menjadikannya sebagai pijakan untuk menyusun kalender pertandingan yang semakin kompetitif sekaligus membangun program pembinaan Timnas secara berkelanjutan.

“Ranking harus dibaca secara proporsional. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kualitas pertandingan dan konsistensi prestasi,” katanya.

Target berikutnya pun sudah jelas, yaitu menembus 100 besar ranking FIFA.

Kesempatan untuk mempertahankan momentum itu akan hadir dalam waktu dekat melalui ajang FIFA ASEAN Cup 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir September hingga awal Oktober 2026 di Jakarta dan Bandung.

Bagi Indonesia, turnamen tersebut bukan hanya soal mengejar trofi. Setiap pertandingan juga menjadi kesempatan untuk menjaga tren positif ranking FIFA sekaligus menguji perkembangan Timnas di bawah John Herdman.

Perjalanan dari peringkat 149 ke 118 menunjukkan bahwa Indonesia telah bergerak cukup jauh dalam tiga tahun terakhir. Namun, jika target berikutnya adalah masuk 100 besar dunia, konsistensi akan menjadi tantangan utama.

Lompatan 31 posisi tersebut menjadi modal penting. Kini, tantangannya adalah memastikan kenaikan itu bukan sekadar tren sementara, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju level yang lebih tinggi.

× Image