Sebelum Yann Sommer, Banyak Legenda Munchen ke Inter

Tri Cahyo Nugroho

Editor: Tri Cahyo Nugroho

Sebelum Yann Sommer, ada 7 pemain Bayern Munchen yang pindah ke Inter atau sebaliknya, yakni Jurgen Klinsmann, Karl-Heinz Rummenigge, dan Andreas Brehme serta Lucio, Lothar Matthaus, dan Ciriaco Sforza. (Hendy AS/Skor.id)
Sebelum Yann Sommer, ada 7 pemain Bayern Munchen yang pindah ke Inter atau sebaliknya, yakni Jurgen Klinsmann, Karl-Heinz Rummenigge, dan Andreas Brehme serta Lucio, Lothar Matthaus, dan Ciriaco Sforza. (Hendy AS/Skor.id)

SKOR.id – Yann Sommer resmi bergabung dengan Inter Milan pada Senin (7/8/2023) malam lalu. Inter harus menyerahkan 6 juta euro kepada Bayern Munchen untuk mendapatkan kiper interasional Swiss yang sudah 83 kali membela negaranya itu. 

Dengan kedatangan sang kiper di Nerazzurri, daftar pemain yang pindah di poros Munchen-Inter semakin panjang. Sebelum Sommer, dua orang Swiss lainnya telah melakukan perjalanan yang sama: Ciriaco Sforza dan Xherdan Shaqiri. 

Berikut sejumlah pemain Die Bayern yang pindah ke Nerazzurri – atau sebaliknya, dari Inter ke Munchen – sebelum Yann Sommer. Beberapa di antaranya adalah legenda, termasuk dua pemain peraih Ballon d'Or:

1) Karl-Heinz Rummenigge 

Sukses di dalam dan di luar lapangan di Munchen, mantan CEO Bayern Karl-Heinz Rummenigge bermain untuk Inter antara tahun 1984 dan 1987, setelah memperkuat Die Bayern pada 1974 sampai 1984.

Salah satu pemain terbaik di generasinya, penyerang yang cepat dan serba bisa ini dua kali memenangi Piala Eropa (kini Liga Champions), Bundesliga, dan Piala DFB (DFB Pokal) selama dekade di Bayern. 

Dia juga finis sebagai pencetak gol terbanyak di Jerman tiga kali, dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa (sebelum 2007, Ballon d’Or dikenal dengan European Footballer of the Year) pada 1980 dan 1981 dan memenangi UEFA Euro 1980 bersama Jerman Barat. 

Setelah mencetak 162 gol dalam 310 pertandingan liga untuk Bayern, Rummenigge pindah ke Italia tak lama sebelum ulang tahunnya yang ke-29. Dia berhasil mencetak 42 gol dalam 107 pertandingan bersama Inter. 

Namun saat di Milan – ketika menjadi runner-up di Piala Dunia 1986 bersama Jerman Barat – terhalang oleh cedera. Dia tidak memenangkan trofi di Italia dan menyelesaikan karier bermainnya dengan klub Swiss, Servette. 

Mantan kapten Jerman Barat itu kemudian kembali ke Bayern sebagai wakil presiden pada 1991, dan klub tersebut memenangi 14 gelar Bundesliga – di antara sejumlah trofi lainnya – setelah ia diangkat menjadi CEO pada 2002.

2) Lothar Matthaus

Matthaus adalah ikon Jerman lainnya yang menikmati dua periode sukses di Bayern. Gelandang tengah yang dinamis ini bergabung dari Borussia Monchengladbach pada tahun 1984, memenangi tiga gelar liga dan satu Piala DFB sebelum Inter membelinya dan rekan setimnya di Bayern Andreas Brehme pada Juli 1988. 

Bekerja di bawah pelatih Bayern masa depan Giovanni Trapattoni, Inter menjadi juara Italia pada tahun 1989. Setahun kemudian, beberapa bulan sebelum reunifikasi Jerman, Matthaus menjadi kampiun Piala Dunia 1990 di Italia. Ia mencetak empat gol di sepanjang turnamen dan menjadi kapten tim untuk meraih kejayaan.

Matthaus kemudian merebut Ballon d’Or 1990 dan Pemain Terbaik Dunia FIFA perdana pada 1991, usai mencetak 23 gol di semua kompetisi untuk Inter pada musim 1990-1991. Salah satunya datang dari titik penalti di leg pertama kemenangan di final Piala UEFA (kini Europa League) atas AS Roma. 

Gelandang elegan dengan 150 caps untuk negaranya itu kembali ke Bayern pada tahun 1992. Dia menunjukkan tekad untuk tetap menjadi sweeper kelas atas meskipun cedera serius. Pada tahun 1999 – pada usia 38 tahun – Matthaus dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Jerman untuk kedua kalinya. 

Tugas keduanya di Bayern yang berakhir pada tahun 2000, menghasilkan empat gelar Bundesliga, dua Piala DFB, dan Piala UEFA 1995-1996. Total dia mencetak 100 gol dalam 410 penampilan untuk Bayern, serta 53 gol dalam 154 pertandingan untuk Inter.

3) Jurgen Klinsmann

Klinsmann pertama kali mengukir namanya di VfB Stuttgart – salah satunya lewat tendangan salto brilian melawan Bayern yang membantunya menjadi pencetak gol terbanyak Liga Jerman 1987-1988 – sebelum bergabung dengan Matthaus dan bek kiri Brehme di Inter pada 1989. 

Ia mencetak 13 gol liga di musim pertamanya di Italia sebelum mencetak tiga gol dalam perjalanan untuk memenangi Piala Dunia 1990. 

Bersama dengan dua rekan setimnya di Jerman, Klinsmann menjadi starter di kedua leg penentuan Piala UEFA 1991 saat Inter mengalahkan Roma 2-1 secara agregat. Ia mencetak 40 gol dalam 123 pertandingan untuk Inter.

Pria yang pernah melatih timnas Jerman dan Amerika Serikat itu kemudian meninggalkan Inter pada 1992 dan menghabiskan waktu dengan Monaco dan Tottenham Hotspur sebelum kembali ke Jerman bersama Bayern pada tahun 1995. 

Dia memuncaki daftar pencetak gol Liga Jerman selama dua musim beruntun di Munchen, dengan total mencetak 31 gol dalam 65 penampilan bersama Die Bayern di semua ajang.

Pada 1995-1996 Klinsmann mencetak rekor 15 gol dalam 12 pertandingan di Piala UEFA (bertahan sampai 2011), termasuk satu gol di final saat Bayern mengalahkan Bordeaux yang diperkuat Zinedine Zidane. 

Klinsmann kemudian menjadi kapten Jerman saat merebut trofi UEFA Euro 1996, dan pada musim berikutnya dia mencatatkan 15 gol liga dan 10 assist untuk memenangi satu-satunya gelar Bundesliga sepanjang kariernya. 

Klinsmann meninggalkan Bayern pada 1997 dan segera pensiun. Namun, ia kembali sebagai pelatih, dua tahun setelah memimpin Jerman ke semifinal Piala Dunia 2006 di kandang sendiri. Dia meninggalkan Munchen sesaat sebelum akhir musim 2008-2009.

4) Andreas “Andy” Brehme 

Andreas Brehme, salah satu dari tiga pemain Jerman yang memperkuat Inter pada akhir 1980-an (tepatnya datang ke Milan pada 1988), juga datang dari Bayern, tepat setelah timnya kalah di final Piala Champions melawan FC Porto pada 1987.

Bersama Klinsmann dan Matthaus, Brehme membentuk trio legendaris Jerman di Inter. Bersama Nerazzurri, Brehme memenangi Serie A 1988–1989, Supercoppa Italiana 1989, dan UEFA Cup 1990–1991. 

Brehme adalah pencetak satu-satunya gol Jerman lewat titik putih di final Piala Dunia 1990 melawan juara bertahan Argentina yang diperkuat oleh Diego Maradona.

5) Ciriaco Sforza

Ciriaco Sforza adalah pemain asal Swiss pertama yang pindah dari Bayern Munchen ke Inter. Mencuat bersama 1. FC Kaiserslautern antara 1993-1995, sang gelandang serang lalu ditarik Munchen pada 1995, dan ikut membantu klub tersebut memenangi UEFA Cup 1995–1996. 

Sforza lalu direkrut Inter pada 1996 atas peran mantan pelatih Swiss yang kala itu menangani Inter, Roy Hodgson. Hodgson berencana menjadikan Sforza playmaker namun sang pemain kurang konsisten. 

Karena sering menjadi cadangan Sforza pun hanya semusim di Inter dengan hasil terbaik runner-up UEFA Cup 1996–1997.

Sforza kemudian kembali ke Kaiserslautern antara 1997 sampai 2000 untuk kemudian bergabung kembali ke Munchen pada 2000. Ia merupakan bagian dari tim Bayern yang merebut gelar Liga Jerman dan Liga Champions pada musim 2000-2001. 

Dua musim di Munchen, Ciriaco Sforza kembali lagi ke Kaiserslautern pada 2002 hingga gantung sepatu pada 2006. 

6) Lucio 

Bek tengah bernama lengkap Lucimar Ferreira da Silva ini didatangkan Bayer Leverkusen langsung dari Internacional, klub negara asalnya Brasil, pada Januari 2001. 

Lucio kemudian direkrut Bayern Munchen dan memperkuat klub tersebut selama lima musim antara 2001 sampai 2004 dengan merebut masing-masing tiga gelar Liga Jerman dan DFB Pokal (Piala Jerman) pada 2004–2005, 2005–2006, dan 2007–2008. 

Dikenal sebagai salah satu pemain bertahan terbaik di generasinya, Lucio lantas pindah ke Inter mulai musim 2009-2010. Pada musim perdananya di Inter itu pula Lucio berperan besar membantu klub merebut treble: Liga Italia, Liga Champions, dan Coppa Italia. 

Tiga musim di Inter, Lucio lalu pindah ke Juventus (2012-2013) lantas pulang ke Brasil memperkuat Sao Paulo (2013) dan Palmeiras (2014), lalu klub India Goa (2015, 2016), lantas kembali ke Brasil bersama Gama (2018) dan klub Serie D Brasiliense (2018, 2019) hingga gantung sepatu. 

7) Xherdan Shaqiri 

Dibesarkan sejak levol junior oleh klub negaranya FC Basel (2007-2012), Xherdan Shaqiri bisa dibilang menjadi pemain asal Swiss tersukses di Bayern Munchen hingga saat ini.

Memperkuat Munchen antara 2012 sampai 2015, Shaqiri total merebut sembilan gelar, di antaranya tiga Liga Jerman (2012–2013, 2013–2014, 2014–2015), dua Piala Jerman (2012–2013, 2013–2014), dan satu Liga Champions (2012–2013).

Winger kelahiran Gnjilane, Serbia (kini Gjilan, Kosovo) berusia 31 tahun itu lantas pindah ke Inter pada 9 Januari 2015. Namun, gaya bermainnya tidak cocok dengan sepak bola Italia. 

Setelah hanya 15 kali (1 gol) turun di Liga Italia dari total 20 penampilan (3) di semua ajang musim 2014-2015, Shaqiri pun meninggalkan Inter pada Agustus 2015 untuk bergabung ke Stoke City di Liga Inggris. 

Penampilan impresif membuat Liverpool menarik Xherdan Shaqiri pada Juli 2018 untuk kemudian pindah ke Lyon di Liga Prancis pada Agustus 2021 dan bergabung dengan klub Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat bersama Chicago Fire FC sejak 9 Februari 2022.    

RELATED STORIES

VIDEO: Momen Yann Sommer Ciptakan Rekor Penyelamatan di Bundesliga saat Melawan Bayern Munchen

VIDEO: Momen Yann Sommer Ciptakan Rekor Penyelamatan di Bundesliga saat Melawan Bayern Munchen

Penjaga gawang Borussia Monchengladbach, Yann Sommer, membuat rekor gemilang saat melawan Bayern Munchen di Bundesliga (Liga Jerman).

Piala Dunia 2022: Yann Sommer Dinobatkan Man of the Match Swiss vs Kamerun

Piala Dunia 2022: Yann Sommer Dinobatkan Man of the Match Swiss vs Kamerun

Kiper Swiss, Yann Sommer, memainkan peran kunci dalam membawa timnya mengalahkan Kamerun di pertandingan perdana Grup G Piala Dunia, Kamis (24/11/2022).

Profil Yann Sommer, Inter Dapatkan Salah Satu Kiper Terbaik Eropa

Yann Sommer sudah lolos tes medis di Inter Milan pada Senin (7/8/2023).

Skor co creators network
RIGHT_ARROW
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
RIGHT_ARROW

THE LATEST

Euro 2024 (Piala Eropa 2024). (Jovi Arnanda/Skor.id)

World

Euro 2024: Semua Hal yang Harus Kamu Tahu tentang Turnamen Ini

Berikut ini adalah semua hal tentang Euro 2024 (Piala Eropa 2024), dari daftar tim hingga stadion digelarnya turnamen ini.

Pradipta Indra Kumara | 28 May, 07:28

Lautaro Martinez dan penalti. (Yusuf/Skor.id).

Liga Italia

Bahas Kontrak Lautaro Martinez, Inter Milan Segera Gelar Pertemuan

Inter Milan dikabarkan segera menggelar pertemuan untuk membahas kontrak baru Lautaro Martinez.

Pradipta Indra Kumara | 28 May, 07:27

Jens Lehmann, Gabor Kiraly, dan Lothar Matthaus, termasuk sebagai pemain tertua di Euro. (Hendy Andika/Skor.id).

World

6 Pemain Tertua Pemegang Rekor di Piala Eropa

Berikut ini enam pemain tertua dengan catatan rekor di ajang Piala Eropa (Euro).

Pradipta Indra Kumara | 28 May, 06:07

cover pieter huistra

Liga 1

Pelatih Borneo FC Ingat Pesan Ibu untuk Modal Lawan Bali United di Perebutan Peringkat Tiga

Pelatih Borneo FC, Pieter Huistra akan memperjuangkan kesempatan yang ada setelah merajai babak reguler Liga 1 2023-2024.

Taufani Rahmanda | 28 May, 05:25

Turnamen Mobile Legends, MPL Indonesia Season 13. (Yusuf/Skor.id)

Esports

Top Statistik Reguler Season MPL ID Season 13

Tiga pemain ONIC Esports atau Fnatic ONIC masuk dalam jajaran top statistik.

Gangga Basudewa | 28 May, 05:22

Pemain timnas putri Indonesia, Shafira Ika Putri. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Shafira Ika Beberkan Pemahaman yang Ditanamkan Satoru Mochizuki di Timnas Putri Indonesia

Bek Timnas Indonesia, Shafira Ika Putri mengaku sangat mengesankan Garuda Pertiwi bisa dilatih Satoru Mochizuki.

Nizar Galang | 28 May, 04:42

Slavko Vincic, wasit final Liga Champions antara Borussia Dortmund vs Real Madrid. (Hendy Andika/Skor.id)

World

Final Liga Champions 2023-2024: Wasit Slavko Vincic

Slavko Vincic akan menjadi wasit laga final Liga Champions 2023-2024 antara Borussia Dortmund vs Real Madrid.

Pradipta Indra Kumara | 28 May, 04:31

MS Glow For Men Racing Team tampil gemilang di Mandalika Racing Series Round 2 dengan meraih empat piala (Dede Sopatal Mauladi/Skor.id).

Other Sports

MS Glow For Men Racing Team Raih 4 Piala di Mandalika Racing Series Round 2

Dimas Ekky Pratama dan Rama Putra ungkap rahasia bisa tampil gemilang di kelas mesing-masing.

Kunta Bayu Waskita | 28 May, 04:30

Liga 1 2023-2024. (M. Yusuf/Skor.id)

Liga 1

Liga 1 2023-2024: Jadwal, Hasil, Klasemen, dan Profil Klub Lengkap

Jadwal, hasil, dan klasemen Liga 1 2023-2024 yang terus diperbarui seiring berjalannya kompetisi, plus profil tim peserta.

Taufani Rahmanda | 28 May, 04:21

Pro Futsal League 2023-2024. (Rahmat Ari Hidayat/Skor.id)

National

Pro Futsal League 2023-2024: Jadwal, Hasil, dan Klasemen Lengkap

Jadwal, hasil, dan klasemen Pro Futsal League 2023-2024 terus diperbaharui seiring berjalannya kompetisi.

Taufani Rahmanda | 28 May, 04:21

Load More Articles