Wawancara Eksklusif Naufal Adya Fairuski: Dari Pemain SSB hingga Menjadi Wasit Elite Asia

SKOR.id - Wasit muda asal Indonesia, Naufal Adya Fairuski, telah berhasil menuntaskan program AFC Referee Academy selama tiga tahun. Pencapaian tersebut mengantarkannya meraih promosi sebagai AFC Elite Referee.
Ya, di usia 26 tahun Naufal menjadi salah satu wasit muda Indonesia yang akan menapaki jenjang internasional, khususnya di level Asia.
Wasit kelahiran Bogor Jawa Barat itu, menjadi wasit Indonesia ketiga yang dapat memimpin pertandingan AFC, setelah sebelumnya sudah dilakukan oleh Thoriq Alkatiri dan Yudi Nurcahya.
Baca Juga: Lolos Piala Asia U-20 2027, Nova Arianto Minta Timnas U-20 Indonesia Lebih Siap
Baca Juga: Piala Asia 2027 Bisa Jadi Magnet Suporter Timnas Indonesia untuk Terbang ke Arab Saudi
Kepada Skor.id, Naufal bercerita perihal proses mendapatkan titel wasit elite AFC. Berikut wawancara eksklusif bersama Naufal Adya Fairuski:
Bagaimana perasaan Anda setelah promosi sebagai AFC Elite Referee?
Alhamdulillah, perasaannya sangat senang. Apalagi, saya sudah melalui tiga tahun pendidikan, tiga tahun belajar selama di AFC Referee Academy. Pasti perasaannya sangat bahagia sudah melewati ini semua.
Bisa diceritakan proses untuk mendapatkan titel AFC Elite Referee?
Jadi, saya itu termasuk dalam program yang diutus oleh PSSI, masuk dalam program AFC Referee Academy. Jadi, AFC Academy itu program tiga tahunan.
Jadi, wasit itu mungkin setiap enam bulan sekali datang ke kantor AFC (di Malaysia) untuk dilakukan pengecekan. Pengecekan baik dari segi pengetahuan, kemampuan berbahasa Inggris, kemampuan fisik, dan kemampuan yang paling penting adalah bagaimana performa memimpin pertandingan.
Berapa lama proses itu dilakukan?
Selama tiga tahun.
Kapan Anda akan memimpin pertandingan AFC?
Dalam waktu dekat ini belum tahu. Kemungkinan karena saya mungkin akan melakukan refreshing, penyegaran wasit-wasit yang se-Asia di Jepang.
Berapa usia Anda saat ini?
Usia saya sekarang 26 tahun.
Dahulu, apa yang memutuskan Anda ingin menjadi wasit di sepak bola?
Jadi dulu kalau sedikit flashback, dulu saya itu mungkin kalau tahu di event-event SSB atau pelajar itu ada namanya Liga Pelajar Indonesia.
Nah, dulu setelah saya biasa mungkin kalah dalam pertandingan, kemudian kebetulan bapak saya juga seorang wasit. Dia menawarkan saya, kalau misalkan jadi pemain sekiranya nggak bisa untuk berprestasi, mau coba di wasit nggak?.
Dulu SSB saya itu saya pernah di Mandiri Jaya, kemudian di Jakarta Football Academy (JFA).
Kapan pertama kali mendapatkan lisensi wasit C3?
Saya C3 itu usia 14 tahun. Jadi, SMP kelas 2 saya baru, ya, SMP kelas dua sudah mau coba menjadi wasit.
Bagaimana kesan Anda saat memimpin pertandingan di Liga TopSkor?
Waktu itu memimpin di Liga TopSkor tentunya sangat menarik. Bagaimana saya melihat bibit-bibit potensial pemain-pemainnya juga sangat baik. Mereka sportif, semuanya respect juga, menampilkan penampilan baiknya di lapangan.
Apa yang berbeda saat memimpin laga internasional dan nasional untuk level junior?
Tentunya di level yang sama, di level junior tapi internasional hampir sama. Tekanannya agak berbeda ketika bertugas di pertandingan antarnegara dengan antarklub.
Apa pesan Anda untuk para wasit muda?
Berpikir panjang, set target setinggi mungkin, jangan ragu dan jangan tanggung-tanggung untuk bermimpi. Kalau mau sukses di satu bidang harus bermimpi setinggi-tingginya.
