Home > Culture

Mengenal Gangguan Prostat dan Pilihan Penanganan Terkini

Gangguan prostat menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami pria, terutama seiring bertambahnya usia.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp. U, Subsp. Onk. (K). (Foto: Dok. RS Pondok Indah/Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id) 
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp. U, Subsp. Onk. (K). (Foto: Dok. RS Pondok Indah/Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)

SKOR.id — Gangguan prostat menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami pria, terutama seiring bertambahnya usia. Keluhan yang muncul dapat berkaitan dengan aktivitas buang air kecil dan, apabila tidak ditangani dengan tepat, berpotensi mengganggu kualitas hidup.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp. U, Subsp. Onk. (K), menjelaskan bahwa prostat merupakan kelenjar berukuran kurang lebih sebesar kacang kenari yang menjadi bagian penting dari sistem reproduksi pria.

Prostat berada tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, yaitu saluran yang membawa urine keluar dari tubuh. Salah satu fungsi utama prostat adalah menghasilkan cairan semen yang membantu memberikan nutrisi sekaligus membawa sperma.

Menurut dr. Andar, ukuran prostat secara alami dapat mengalami pembesaran seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh hormon testosteron. Ketika ukuran prostat membesar, jaringan prostat dapat menekan uretra dan menyebabkan gangguan pada aliran urine.

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026: Jadwal, Hasil, dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: 5 Manfaat Puasa Syawal untuk Kesehatan Tubuh dan Mental

Keluhan yang muncul dapat berupa pancaran urine yang melemah, lebih sering buang air kecil, hingga sensasi bahwa urine belum keluar sepenuhnya. Namun, dr. Andar menegaskan bahwa keluhan tersebut tidak selalu disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

“Sering buang air kecil dapat termasuk gejala gangguan saluran kemih, tetapi penyebabnya tidak selalu BPH. Prostatitis dan kondisi lainnya juga dapat menimbulkan keluhan saluran kemih. Karenanya, diperlukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis,” jelas dr. Andar.

Dr. Andar menjelaskan bahwa terdapat sejumlah gangguan prostat yang umum ditemukan. Salah satunya adalah BPH, yaitu pembesaran prostat yang bersifat jinak dan bukan disebabkan oleh kanker.

BPH termasuk gangguan yang banyak dialami pria lanjut usia. Ketika prostat semakin membesar, jaringan tersebut dapat menekan uretra sehingga aliran urine menjadi terhambat. Kondisi ini kemudian dapat menimbulkan berbagai keluhan yang dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) atau gejala saluran kemih bagian bawah.

Keluhan tersebut dapat berupa sulit memulai buang air kecil, pancaran urine yang melemah, harus mengejan ketika buang air kecil, lebih sering buang air kecil, terbangun pada malam hari untuk buang air kecil, serta merasa kandung kemih belum benar-benar kosong.

“Keluhan-keluhan tersebut termasuk dalam Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) atau gejala saluran kemih bagian bawah. Meskipun pada awalnya mungkin terasa ringan, keluhan yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kualitas tidur, aktivitas sehari-hari, hingga kualitas hidup. Karenanya, keluhan buang air kecil yang menetap sebaiknya tidak diabaikan,” ujar dr. Andar.

Ia menambahkan, usia menjadi salah satu faktor risiko penting dalam gangguan prostat. Risiko, khususnya terhadap kanker prostat, meningkat seiring pertambahan usia dan kejadian tersebut meningkat secara progresif setelah memasuki usia 50 tahun.

Selain usia, riwayat keluarga juga perlu diperhatikan. Pria yang memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan riwayat kanker prostat memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut. Faktor genetik tertentu, termasuk mutasi BRCA, juga dapat menjadi faktor risiko.

Gaya hidup dan penyakit penyerta turut menjadi perhatian. Kurangnya aktivitas fisik, obesitas, penyakit kardiovaskular, hipertensi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi dapat berpengaruh terhadap kesehatan prostat.

Selain BPH, terdapat prostatitis yang merupakan kondisi berupa peradangan atau pembengkakan pada prostat. Menurut dr. Andar, prostatitis sering kali berkaitan dengan infeksi bakteri dan dapat menimbulkan rasa nyeri. Gangguan ini juga lebih banyak ditemukan pada pria usia muda atau paruh baya dibandingkan BPH yang lebih umum terjadi pada pria lanjut usia.

Sementara itu, kanker prostat merupakan pertumbuhan sel ganas yang berasal dari jaringan prostat. Salah satu tantangan dalam mendeteksi kanker prostat adalah kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Bahkan ketika gejala mulai muncul, keluhannya dapat menyerupai gangguan saluran kemih yang terjadi akibat BPH. Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan dan menegakkan diagnosis secara tepat.

“Pembesaran prostat tidak berarti kanker prostat. BPH merupakan pembesaran prostat yang bersifat jinak dan berbeda dengan kanker prostat. Namun, gejala BPH dan kanker prostat dapat menyerupai satu sama lain sehingga diagnosis yang tepat tetap diperlukan,” kata dr. Andar.

Perkembangan teknologi di bidang urologi membuat pilihan penanganan BPH semakin beragam. Penanganan tidak serta-merta harus dilakukan melalui operasi, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Untuk pasien dengan gejala yang masih ringan, dokter spesialis urologi dapat melakukan observasi serta memberikan anjuran perubahan gaya hidup. Obat juga dapat diberikan apabila diperlukan. Sementara tindakan pembedahan atau prosedur lainnya dipertimbangkan berdasarkan tingkat keparahan gejala, respons terhadap pengobatan, ukuran prostat, hingga ada atau tidaknya komplikasi.

“Kalau prostat membesar, tidak harus langsung operasi. Untuk gejala yang masih ringan, dokter spesialis urologi dapat melakukan observasi dan memberikan anjuran perubahan gaya hidup. Obat dapat digunakan jika diperlukan,” jelasnya.

Salah satu prosedur yang telah lama digunakan untuk menangani BPH adalah Transurethral Resection of the Prostate atau TURP. Pada prosedur ini, jaringan prostat yang menyebabkan sumbatan diangkat melalui uretra menggunakan instrumen khusus.

TURP terutama ditujukan untuk prostat dengan ukuran di bawah sekitar 80 gram. Jaringan prostat diangkat melalui proses reseksi menggunakan energi listrik, dengan waktu pemulihan yang umumnya membutuhkan sekitar dua hingga empat hari rawat inap.

Selain TURP, terdapat Anatomical Endoscopic Enucleation of the Prostate atau AEEP. Teknik ini merupakan prosedur untuk mengangkat jaringan prostat yang membesar melalui saluran kemih dengan mengikuti batas anatomi alami prostat.

HoLEP atau Holmium Laser Enucleation of the Prostate dan ThuLEP atau Thulium Laser Enucleation of the Prostate merupakan dua prosedur yang termasuk dalam kelompok AEEP. Perbedaan keduanya terutama terletak pada jenis laser yang digunakan.

Menurut dr. Andar, AEEP memiliki sejumlah keunggulan dalam menangani sumbatan akibat pembesaran prostat. Teknik tersebut dinilai dapat memberikan perbaikan gejala dan aliran urine yang baik, memiliki risiko perdarahan lebih rendah, serta memungkinkan lebih banyak pasien dapat buang air kecil tanpa kateter.

AEEP juga dapat digunakan pada pasien dengan kandung kemih yang telah melemah dan tetap aman serta efektif untuk prostat berukuran besar. Hasil penanganannya juga dinilai tahan lama dan efektivitasnya tidak bergantung pada usia pasien.

“AEEP seperti HoLEP/ThuLEP dapat digunakan pada berbagai ukuran prostat, termasuk yang berukuran sangat besar, dengan waktu rawat inap sekitar 1–2 hari,” ungkap dr. Andar.

Pilihan lain adalah Rezum Water Vapor Therapy. Berbeda dengan AEEP yang mengangkat jaringan prostat, prosedur Rezum menggunakan energi panas dari uap air steril yang disuntikkan langsung ke jaringan prostat yang menyumbat.

Energi tersebut bertujuan mengecilkan jaringan prostat secara bertahap sehingga saluran kemih dapat kembali terbuka. Prosedur ini rata-rata berlangsung sekitar lima hingga 10 menit dan dapat dilakukan pada prostat berukuran di bawah sekitar 80 gram. Pemulihannya dilakukan secara rawat jalan, meski pasien biasanya masih menggunakan kateter selama beberapa hari.

Penanganan Kanker Prostat Disesuaikan Kondisi Pasien

Untuk kanker prostat, pilihan penanganannya juga sangat bergantung pada karakteristik penyakit. Dokter perlu mempertimbangkan apakah kanker masih terlokalisasi di prostat atau sudah berkembang dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Salah satu pilihan adalah operasi robotik atau Radical Prostatectomy, yakni tindakan mengangkat seluruh kelenjar prostat menggunakan teknologi robotik dengan tingkat ketelitian tinggi. Pendekatan tersebut bertujuan mengangkat seluruh jaringan kanker, terutama pada kanker yang masih terbatas di prostat.

Ada pula terapi fokal seperti High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU) dan cryotherapy. Pendekatan ini bekerja lebih terarah dengan menghancurkan bagian prostat yang mengandung sel kanker menggunakan energi tertentu, baik gelombang ultrasonik maupun suhu yang sangat rendah, dengan tetap berupaya mempertahankan jaringan prostat yang sehat di sekitarnya.

Sementara itu, terapi hormonal atau terapi deprivasi androgen merupakan pengobatan yang bertujuan mengurangi atau menghambat hormon testosteron yang dapat membantu pertumbuhan sel kanker prostat. Terapi tersebut terutama digunakan pada kanker prostat yang sudah menyebar atau berada pada stadium lanjut.

Dr. Andar menekankan bahwa menjaga kesehatan prostat tidak seharusnya baru dilakukan ketika keluhan muncul. Pola hidup sehat dan pemeriksaan berkala menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan prostat sekaligus kesehatan tubuh secara umum.

Pria dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang dan tetap aktif melakukan aktivitas fisik secara rutin. Asupan cairan juga perlu diatur, terutama dengan menyesuaikan jumlah dan waktu minum agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari maupun waktu tidur.

Pemeriksaan berkala juga penting dilakukan, khususnya bagi pria yang telah memasuki usia berisiko atau memiliki faktor risiko tertentu.

Menurut dr. Andar, perhatian terhadap perubahan pola buang air kecil juga tidak kalah penting. Keluhan yang muncul secara terus-menerus sebaiknya tidak dianggap sebagai hal yang semata-mata berkaitan dengan faktor usia.

Pemeriksaan lebih dini dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai. Dengan demikian, kesehatan prostat dan kualitas hidup pasien dapat tetap terjaga.

Dr. Andar R. Siregar merupakan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi di RS Pondok Indah – Pondok Indah. Ia aktif menangani kasus prostat, termasuk prosedur prostat fusi MRI dan HoLEP. Ia juga terlibat sebagai proctor serta instruktur HoLEP bersertifikat di berbagai pusat kesehatan di Indonesia dan Asia.

Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis urologi di Universitas Indonesia, dr. Andar memperoleh gelar subspesialis urologi onkologi pada 2023. Ia kemudian memperdalam kompetensinya melalui berbagai fellowship nasional dan internasional, termasuk Endourology Fellowship di Seoul National University Hospital, Korea Selatan, pada 2023, serta Fellowship in High-Intensity Focused Ultrasound for Prostate Cancer di Jepang pada 2025 yang disupervisi Professor Sunao Shoji, MD, PhD, MBA.

Dr. Andar juga aktif sebagai pembicara, instruktur, dan proctor dalam berbagai workshop urologi onkologi. Pada 2026, ia terpilih sebagai penerima beasiswa European Urological Scholarship Programme di Jerman.

Di tingkat organisasi, dr. Andar tergabung dalam Société Internationale d’Urologie dan European Association of Urology. Ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat Bidang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Ikatan Ahli Urologi Indonesia sejak 2021.

× Image