Home > National

Semifinal Piala Presiden 2026 Jaga Nilai Fair Play, Tendang Semua Tudingan Miring

Walaupun berstatus turnamen pramusim, penyelenggaraan Piala Presiden terbukti selalu menyita perhatian, tanpa terkecuali di edisi 2026.
Image
Taufani Rahmanda Editor : Taufani Rahmanda
Semifinal Piala Presiden 2026 yang mempertemukan Persib Bandung dengan Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya melawan Arema FC di Bali pada 4 Agustus 2026. (Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)
Semifinal Piala Presiden 2026 yang mempertemukan Persib Bandung dengan Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya melawan Arema FC di Bali pada 4 Agustus 2026. (Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)

SKOR.id - Walaupun berstatus turnamen pramusim, penyelenggaraan Piala Presiden terbukti selalu menyita perhatian. Tanpa terkecuali di edisi kedelapannya, atau pada 2026.

Semifinal Piala Presiden 2026 jadi sorotan sebab menyajikan laga sarat gengsi dan rivalitas terbesar di Indonesia, yakni Persib Bandung melawan Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya vs Arema FC.

Dinilai menjadi pertandingan yang berisiko tinggi dan berpotensi mengancam keberlangsungan kompetisi atau liga, sempat menyeruak kabar duel-duel tersebut dibatalkan.

Lanjutan Piala Presiden 2026 yang berformat diadu silang (juara grup vs runner-up grup lain), disebut diubah menjadi langsung final (juara grup vs juara grup) dan perebutan peringkat ketiga (runner-up grup vs runner-up grup).

Baca Juga: Piala AFF 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: Piala Presiden 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen

Namun kabar tersebut segera dipatahkan. Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, memastikan ajang yang diurusinya itu tetap menjaga nilai fair play.

Tidak ada perubahan format turnamen secara mendadak, Piala Presiden 2026 tetap menerapkan babak semifinal sebelum memainkan laga penentu juara (final) dan perebutan peringkat ketiga.

Maruarar Sirait bahkan secara gamblang mengakui hendak memainkan duel empat besar di Surabaya, bahkan hendak menjadi panggung sepanjang fase knock out atau hingga penutupan.

Sebab, sebelumnya Bandung sudah mendapat jatah pembukaan. Dua kota tersebut memang menjadi lokasi gelaran terpusat persaingan grup Piala Presiden 2026.

Tetapi lelaki yang juga Menteri Perumahan dan Permukiman Republik Indonesia itu menghargai keputusan pemerintah setempat, yang merasa belum siap dan akhirnya lokasi digeser ke Bali.

“Saya terus terang mau (babak knock out) tempatnya di Surabaya. Tapi saya menghargai, tidak boleh memaksa. Kami sudah diskusikan dengan mendalam,” ucap Maruarar Sirait.

“Mungkin baru pada kesempatan yang lain bisa digelar di Surabaya. Jadi kami memutuskan lanjutan Piala Presiden 2026 dimainkan di Bali,” ia menambahkan pada konferensi pers jelang semifinal, Minggu (2/8/2026).

Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, dalam jumpa pers di Surabaya yang disiarkan secara daring pada 2 Agustus 2026. (Youtube PSSI)
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, dalam jumpa pers di Surabaya yang disiarkan secara daring pada 2 Agustus 2026. (Youtube PSSI)

Penyesuaian lalu dilakukan dengan tidak menjual tiket secara umum. Alasannya demi menjaga kemaslahatan bersama, seperti dijelaskan Anggota Exco PSSI sekaligus SC Piala Presiden 2026, Arya Sinulingga.

“Mohon maaf selama masih ada rasis dan pemukulan serta tidak ada perdamaian antar suporter, maka sepak bola kita akan tetap seperti ini,” katanya melalui unggahan di Instagram pribadinya.

“Masalah keamanan bukan hanya di stadion, tapi di jalan sampai ke rumah suporter. Jangan lagi ada jatuh korban karena permusuhan di sepak bola,” Arya menambahkan.

Kemudian dua hari berselang, Selasa (4/8/2026), keputusan menjaga nilai fair play di Piala Presiden 2026 terbukti tepat. Sebab semifinal berjalan dengan aman dan lancar.

Pertemuan Persib dengan Persija dan Persebaya lawan Arema FC pun dibuat seadil mungkin dengan penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR), yang tidak dipakai saat fase grup.

Semifinal Piala Presiden 2026 menjadi hiburan rakyat karena menyuguhkan pertandingan berkelas, dan tetap memberi ruang gratis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali.

Tudingan Miring

Tetap melangsungkan semifinal yang berisi laga-laga rawan gesekan bukan menjadi satu-satunya fakta penyelenggaraan Piala Presiden 2026 “menendang” tudingan miring.

Sejak kepastian pelaksanaan turnamen diumumkan secara resmi pada 6 Juli 2026 di Jakarta, langsung muncul berbagai tuduhan, yang akhirnya ditendang seraya simbolis pembukaan turnamen.

Pelaksanaan Piala Presiden 2026 dianggap “menabrak” gelaran ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026, sehingga bisa memecah animo dukungan terhadap Timnas Indonesia.

Kenyataannya, kedua turnamen bisa berjalan beriringan dan perjuangan Garuda mengejar trofi pertamanya di Piala AFF tetap mendapat dukungan penuh, sebab tak ada gesekan jadwal.

Kemudian klub-klub yang mengikuti Piala Presiden 2026 dinilai tidak akan serius, karena hanya berstatus turnamen pramusim. Namun nyatanya setiap peserta malah ngotot bertanding.

Aksi para pemain dalam pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, dalam semifinal Piala Presiden 2026 pada 4 Agustus 2026. (Dok. Media Piala Presiden 2026)
Aksi para pemain dalam pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, dalam semifinal Piala Presiden 2026 pada 4 Agustus 2026. (Dok. Media Piala Presiden 2026)

Persija yang telah merencanakan agenda pemusatan latihan ke Thailand bahkan memundurkan jadwalnya, sehingga yang tampil di Piala Presiden 2026 adalah skuad utama atau tidak jadi tim muda.

Hadiah yang ditawarkan memang menjadi daya tarik bagi tim kontestan, yakni sebesar Rp6 miliar yang kemudian ditingkatkan oleh Maruarar Sirait menjadi Rp8 miliar jelang semifinal.

Kemudian ada tudingan miring yang menyebut turnamen yang bernama Piala Presiden, malah jadi milik tim luar negeri. Faktanya, klub lokal bisa unjuk gigi hingga memenuhi slot di semifinal.

“Piala Presiden kali ini luar biasa karena ada tim-tim legendaris di Indonesia. Kita lihat saja apakah mereka bisa bersaing, menunjukkan kebesaran di negara sendiri,” kata Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.

× Image