Laporan Langsung dari Meksiko: Merasakan Magis Kuil Sepak Bola dari Dekat

SKOR.id – Ada stadion yang sekadar menjadi tempat pertandingan. Ada pula stadion yang telah menjelma menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia. Estadio Azteca atau sepanjang Piala Dunia FIFA 2026 disebut Ciudad de Mexico termasuk dalam kategori kedua.
Minggu (5/7/2026) menjadi salah satu hari paling berkesan dalam perjalanan saya sebagai jurnalis olahraga. Setelah sekian lama hanya mengenalnya lewat tayangan televisi, buku sejarah, dan dokumenter sepak bola, akhirnya saya berdiri langsung di dalam stadion yang selama puluhan tahun dijuluki Kuil Sepak Bola.
Kesempatan langka itu datang saat meliput babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Meksiko menghadapi Inggris di Mexico City. Sebuah pengalaman yang mungkin sulit terwujud tanpa undangan dan dukungan dari Coca-Cola Indonesia.
Sejak pertama kali melangkahkan kaki ke area stadion, saya langsung memahami mengapa Estadio Azteca begitu dihormati pecinta sepak bola di seluruh dunia. Bukan semata karena ukuran atau kemegahan bangunannya, melainkan karena setiap sudut stadion ini menyimpan cerita yang telah membentuk sejarah olahraga paling populer di muka bumi.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap
Baca Juga: Laporan Langsung dari Meksiko: Menyusuri Sejarah hingga Berjumpa Peter Crouch
Tak banyak stadion yang memiliki rekam jejak seperti Estadio Azteca.
Di sinilah Pelé mengangkat trofi juara Piala Dunia untuk ketiga kalinya pada 1970 setelah mengalahkan Italia 4-1 pada partai final. Enam belas tahun kemudian, stadion yang sama kembali menjadi saksi ketika Diego Maradona membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 usai mengalahkan Jerman Barat 3-2.
Nama Maradona bahkan seakan tak bisa dipisahkan dari Azteca. Pada perempat final Piala Dunia 1986 melawan Inggris, ia mencetak dua gol yang hingga kini terus dikenang. Gol pertama lahir melalui kontroversi “Tangan Tuhan”, sementara empat menit berselang ia mencetak “Goal of the Century” setelah menggiring bola melewati hampir seluruh pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton.
Estadio Azteca juga menjadi lokasi semifinal legendaris Piala Dunia 1970 antara Italia dan Jerman Barat yang berakhir 4-3 setelah perpanjangan waktu. Pertandingan tersebut dikenal sebagai Game of the Century dan hingga kini dikenang sebagai salah satu laga terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Stadion yang diresmikan pada 1966 itu berdiri di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut. Dengan kapasitas yang pada masa jayanya mencapai lebih dari 100 ribu penonton, atmosfer yang tercipta benar-benar mampu memberikan tekanan luar biasa kepada tim tamu.
Tak mengherankan apabila Estadio Azteca menjadi stadion pertama yang menggelar dua final Piala Dunia, yakni pada 1970 dan 1986. Kini, bersama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 oleh Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada, stadion ini kembali mencatat sejarah sebagai venue pertama yang digunakan dalam tiga edisi Piala Dunia berbeda.
Drama Hujan dan Petir Sebelum Laga Meksiko vs Inggris
Pengalaman berada di Azteca semakin lengkap karena pertandingan yang saya saksikan menghadirkan atmosfer luar biasa.
Beberapa saat sebelum kick-off, hujan disertai petir memaksa panitia menunda pertandingan selama hampir satu jam. Namun kondisi cuaca sama sekali tidak mengurangi antusiasme puluhan ribu suporter yang sudah memadati stadion.
Di area luar stadion, para pendukung Meksiko tetap bernyanyi dan menampilkan tarian tradisional yang menjadi ciri khas budaya mereka. Di sisi lain, ribuan pendukung Inggris membalas dengan chant-chant yang terus menggema.
Menariknya, suasana di antara kedua kelompok suporter berlangsung sangat kondusif. Mereka saling berbaur tanpa ketegangan, memperlihatkan bagaimana sepak bola dapat menjadi ruang pertemuan berbagai budaya.
Inggris Mengakhiri Rekor Azteca Milik Meksiko
Begitu pertandingan dimulai, intensitas langsung tinggi sejak menit pertama.
Meksiko datang dengan modal luar biasa. Sebelum laga ini, mereka tidak terkalahkan dalam 10 pertandingan Piala Dunia di Estadio Azteca. Namun Inggris datang dengan misi menghapus kenangan pahit mereka di stadion ini.
Terakhir kali The Three Lions bermain di Azteca adalah pada perempat final Piala Dunia 1986 ketika mereka kalah 1-2 dari Argentina dalam pertandingan yang melahirkan gol “Hand of God” Maradona.
Kali ini ceritanya berbeda.
Jude Bellingham tampil sebagai pembeda dengan mencetak dua gol sebelum menit ke-38. Catatan itu menjadi gol ganda tercepat kedua yang pernah dibuat pemain Inggris dalam satu pertandingan Piala Dunia setelah Gary Lineker pada edisi 1986.
Inggris akhirnya menang 3-2 dan memastikan tiket menuju perempat final untuk menghadapi Norwegia.
Kemenangan tersebut membawa Inggris lolos ke babak delapan besar Piala Dunia untuk ke-11 kalinya sepanjang sejarah. Hanya Brasil dan Jerman yang memiliki pencapaian lebih baik dengan masing-masing 14 kali mencapai fase tersebut.
Sebaliknya, kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Meksiko. Meski berstatus sebagai negara dengan jumlah pertandingan Piala Dunia terbanyak tanpa gelar juara, yakni 65 laga, impian mereka mengakhiri penantian kembali harus tertunda.
Lebih dari Sekadar Menonton Sepak Bola
Di luar hasil pertandingan, ada satu hal yang paling membekas dari perjalanan ini.
Saat peluit panjang berbunyi, para pendukung Meksiko memang tampak kecewa. Namun mereka menerima kekalahan dengan penuh sportivitas. Tidak ada kericuhan. Tidak ada kemarahan yang berlebihan. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah sedih karena tim kebanggaan gagal melanjutkan langkah di rumah sendiri.
Saya meninggalkan stadion ketika nuansa hujan masih terasa membasahi Mexico City.
Di belakang saya berdiri Estadio Azteca, stadion yang telah menyaksikan Pelé mengangkat trofi, Maradona menciptakan keajaiban, dan kini menjadi bagian dari perjalanan Piala Dunia 2026.
Sebagai jurnalis, ada banyak pertandingan yang mungkin akan saya liput di masa depan. Namun kesempatan berdiri di dalam stadion yang begitu sarat sejarah ini akan selalu menjadi pengalaman yang sulit tergantikan.
