Home > World

Laporan Langsung dari Meksiko: Menyusuri Sejarah hingga Berjumpa Peter Crouch

Rasa lelah setelah mengelilingi jantung kota Mexico City, seakan hilang ketika berjumpa Peter Crouch.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Palacio de Bellas Artes, salah satu bangunan ikonik dan bersejarah di Mexico City. (Foto: Rais Adnan/Grafis: Yudhy Kurniawan/Skor.id)
Palacio de Bellas Artes, salah satu bangunan ikonik dan bersejarah di Mexico City. (Foto: Rais Adnan/Grafis: Yudhy Kurniawan/Skor.id)

SKOR.id - Mexico City bukan hanya akan menjadi pusat perhatian pencinta sepak bola dunia. Kota terbesar di Meksiko itu juga menyimpan sejarah panjang, arsitektur megah, serta budaya yang hidup di setiap sudut jalannya.

Kesempatan itulah yang dimanfaatkan penulis pada hari kedua berada di Meksiko. Sebelum kembali disibukkan dengan agenda sepak bola, sehari penuh diisi dengan city tour yang memang sudah dirancang pihak Coca-Cola yaitu mengunjungi berbagai ikon bersejarah di ibu kota Negeri Sombrero.

Perjalanan dimulai dari hotel menuju pusat kota yang memakan waktu sekitar 30-45 menit. Di sepanjang perjalanan, pemandu wisata memperkenalkan sejarah Mexico City, mulai dari masa kejayaan peradaban Aztec hingga berkembang menjadi salah satu metropolitan terbesar di dunia.

Destinasi pertama adalah Fuente de Cibeles, sebuah air mancur yang mungkin terasa tidak asing bagi pencinta sepak bola Eropa.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: Laporan Langsung Dari Meksiko: Tetanggaan dengan Timnas Inggris

Monumen ini merupakan replika Fuente de Cibeles yang berada di Madrid, Spanyol. Bedanya, jika di Madrid lokasi tersebut identik dengan perayaan gelar Real Madrid, di Mexico City pun para pendukung Los Blancos memiliki tradisi serupa. Setiap Real Madrid meraih trofi besar, para fan di Meksiko berkumpul di kawasan ini untuk merayakannya bersama.

Para peserta Pildun FIFA bersama Coca-Cola dari Indonesia berfoto bersama di depan Fuente de Cibeles. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Para peserta Pildun FIFA bersama Coca-Cola dari Indonesia berfoto bersama di depan Fuente de Cibeles. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Berada di kawasan Roma Norte, suasana di sekitar Fuente de Cibeles terasa begitu nyaman. Trotoarnya ramah pejalan kaki, dipenuhi warga yang jogging, menikmati kopi, atau sekadar duduk santai menikmati suasana kota. Saat malam hari, lampu-lampu yang menyinari air mancur disebut membuat tempat ini semakin cantik dan menjadi salah satu lokasi favorit berburu foto.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju ikon paling terkenal di Mexico City, El Ángel de la Independencia.

Meski cukup menguras tenaga sebagai pemanasan pagi, rasa lelah langsung terbayar ketika monumen setinggi 45 meter itu mulai terlihat. Patung malaikat berlapis emas yang berdiri di puncak menjadi simbol perjuangan sekaligus kebanggaan masyarakat Meksiko.

Skor.id berpose di depan El Ángel de la Independencia. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Skor.id berpose di depan El Ángel de la Independencia. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Tak hanya menjadi landmark wisata, kawasan ini juga sering menjadi lokasi berbagai perayaan besar, termasuk pesta kemenangan Timnas sepak bola Meksiko maupun klub-klub kebanggaan warga setempat. Setiap hari Minggu, jalan utama Paseo de la Reforma bahkan ditutup untuk kendaraan sehingga masyarakat bisa menikmati area tersebut dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun berolahraga.

Perjalanan berlanjut menuju Monumento a la Revolución, salah satu monumen terbesar di dunia yang didedikasikan untuk mengenang Revolusi Meksiko.

Bangunannya tampak megah bahkan sejak dilihat dari kejauhan. Kini, kompleks tersebut tak hanya menjadi monumen, tetapi juga memiliki museum sejarah di bagian bawah serta dek observasi di bagian atas yang menawarkan panorama Mexico City dari ketinggian. Plaza luas yang mengelilinginya menjadi ruang publik favorit warga untuk bersantai.

Usai menikmati jejak sejarah revolusi, rombongan bergerak menggunakan kendaraan menuju Palacio de Bellas Artes, pusat kebudayaan paling ikonis di Mexico City.

Namun sebelum menikmati kemegahan bangunan tersebut, ada pengalaman unik yang sempat dialami. Kebutuhan mendesak mencari toilet umum ternyata menghadirkan kejutan tersendiri. Untuk menggunakan fasilitas tersebut, pengunjung dikenakan biaya 10 peso Meksiko atau sekitar Rp11 ribu.

Lanjut mengenai keindahan Palacio de Bellas Artes.

Gedung ini merupakan rumah bagi pertunjukan opera, konser musik klasik, sekaligus museum seni. Keistimewaannya terletak pada perpaduan dua gaya arsitektur yang berbeda tetapi harmonis.

Palacios de Bellas Artes. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Palacios de Bellas Artes. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Bagian luar didominasi gaya Art Nouveau dengan balutan marmer putih Carrara serta kubah berwarna kuning-oranye yang mencolok. Sementara interiornya mengusung konsep Art Deco lengkap dengan lampu gantung kristal dan ornamen yang terinspirasi dari kebudayaan Maya serta Aztec.

Pembangunannya dimulai pada 1904 atas prakarsa Presiden Porfirio Díaz sebagai bagian dari perayaan seabad Kemerdekaan Meksiko. Meski awalnya ditargetkan rampung dalam empat tahun, proyek tersebut sempat terhenti cukup lama sebelum akhirnya selesai dan menjadi salah satu bangunan paling bersejarah di negara itu.

Tak jauh dari sana berdiri Casa de los Azulejos atau House of Tiles.

Sesuai namanya, hampir seluruh fasad bangunan berlapis keramik biru-putih khas Puebla yang membuatnya begitu mencolok dibanding bangunan lain di sekitarnya.

Restoran Sanborns. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Restoran Sanborns. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Kini bangunan bersejarah tersebut difungsikan sebagai restoran Sanborns. Pengunjung tidak hanya dapat mengabadikan foto, tetapi juga menikmati suasana interior kolonial yang masih terawat dengan sangat baik. Menariknya, jaringan restoran ini dimiliki oleh Carlos Slim Helú, orang terkaya di Meksiko.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Museo del Templo Mayor.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, suasana jalanan Mexico City menghadirkan pengalaman tersendiri. Sejumlah pengamen menghibur para pejalan kaki dengan kualitas vokal yang mengesankan. Tak jauh dari lokasi museum, tampak pula aktivitas ritual pembersihan spiritual yang ditawarkan kepada wisatawan dengan tarif sekitar 50 peso Meksiko.

Museo del Templo Mayor sendiri menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh sejarah Mexico City.

Museo del Templo Mayor. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Museo del Templo Mayor. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Di sinilah dahulu berdiri kuil utama peradaban Aztec ketika kota ini masih bernama Tenochtitlan. Salah satu daya tariknya adalah keberadaan reruntuhan kuno yang berdampingan langsung dengan bangunan modern. Seolah-olah dua zaman bertemu dalam satu ruang yang sama.

Museum ini juga menyimpan ribuan artefak hasil penggalian yang menggambarkan kehidupan masyarakat Aztec, mulai dari ritual keagamaan hingga perkembangan kebudayaan mereka.

Sebenarnya, agenda berikutnya adalah mengunjungi FIFA Fan Festival. Namun antrean pengunjung yang sangat panjang membuat rencana tersebut dibatalkan.

Sebagai gantinya, perjalanan langsung diarahkan menuju Mercado de Artesanías La Ciudadela, salah satu pusat oleh-oleh paling populer di Mexico City.

Pasar ini menjadi surga bagi wisatawan yang ingin membawa pulang suvenir khas Meksiko. Mulai dari tas warna-warni, topi tradisional, kain tenun, keramik Talavera, perhiasan perak, hingga berbagai dekorasi rumah tersedia dengan pilihan yang sangat beragam.

Pernak-pernik baju Meksiko. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Pernak-pernik baju Meksiko. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Selain koleksinya lengkap, harga barang di pasar ini juga relatif lebih bersahabat dibandingkan toko-toko suvenir di kawasan wisata utama. Di sinilah kami para peserta berbelanja untuk oleh-oleh kerabat di Tanah Air.

Setelah seharian menjelajahi berbagai sudut kota, kami memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran Indonesia bernama Indonesian Asian Cuisine Enak by Angel’s Kitchen. Kehadiran cita rasa Nusantara di tengah Mexico City menjadi pelepas rindu sekaligus pengisi tenaga sebelum kembali ke hotel.

Perjalanan pulang ternyata belum benar-benar selesai. Kemacetan disertai hujan mewarnai perjalanan menuju hotel. Situasi semakin rumit karena akses sekitar hotel ditutup akibat pengamanan yang makin diperketat untuk Timnas Inggris jelang pertandingan melawan Meksiko.

Alhasil, sekitar 700 meter harus kami tempuh dengan berjalan kaki di tengah kondisi tubuh yang sudah cukup kelelahan.

Bertemu Peter Crouch

Skor.id berfoto bersama eks striker Timnas Inggris dan Liverpool, Peter Crouch. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)
Skor.id berfoto bersama eks striker Timnas Inggris dan Liverpool, Peter Crouch. (Foto: Dok. Rais Adnan/Skor.id)

Namun, penutup hari itu justru menghadirkan kejutan yang tak disangka.

Sesampainya di lobi hotel, tampak sosok mantan penyerang Timnas Inggris dan Liverpool, Peter Crouch, sedang berbincang santai dengan kerabatnya di sofa. Sontak, kesempatan langka tersebut tentu tidak penulis sia-siakan. Kamera pun segera diangkat untuk mengabadikan momen bersama pria bertubuh jangkung itu.

Lucky Me! Puas mengelilingi ikon bersejarah Meksiko City, diakhiri dengan berjumpa salah satu legenda sepak bola Inggris.

× Image