Perjuangan Kariernya di Dunia Basket Indonesia Membuat Cokorda Rai Adi Pramartha Mendapat Gelar Dokter

- Mantan pemain Aspac, Cokorda Rai Adi Pramartha mengaku perjuangannya di dunia basket Indonesia membawa pengaruh hingga dirinya mendapat gelar doktor.
- Cokorda Rai Adi Pramartha adalah satu dari tiga bersaudara Cokorda yang akan selalu dikenang pecinta bola basket Indonesia.
- Pada tahun 2018, Cokorda Rai Adi Pramartha meraih gelar doktor dan kini ia menjabat sebagai Asisten Profesor pada Departemen Ilmu Komputer Universitas Udayana Bali.
SKOR.id - Cokorda Rai Adi Pramartha adalah satu dari tiga bersaudara Cokorda yang akan selalu dikenang pecinta bola basket Indonesia.
Tata sapaannya adalah adik dari Cokorda Raka Satrya Wibawa alias Wiwin, dan kakak dari Cokorda Anom Indrajaya.
Cokorda bersaudara mengawali karier bola basket profesional mereka di Aspac pada tahun 1990-an.
Wiwin bergabung lebih dulu pada pada tahun 1995, setahun kemudian, 1996 Tata menyusul.
Anom mendarat di Aspac pada 1997. Mereka juga bermain untuk Bali pada PON 1996.
“Sebelumnya, selain Aspac, klub CLS dan Pelita Jaya juga pernah menghubungi kami, namun sepertinya sudah beredar kabar burung bahwa kami hanya ingin ke Aspac,” ujar Tata dilansir dari IBL.
“Juga beredar kabar kalau sudah mendapatkan kakaknya (Wiwin) maka adik-adiknya pasti mengikuti."
Tata mengakui mereka bertiga memiliki ikatan dan chemistry yang baik pada saat bermain bersama.
“Kami merasa memiliki spesialisasi dan posisi masing-masing. Wiwin sebagai center, saya di posisi power forward dan Anom adalah shooter,” ucap Tata.
Pada tahun 2001, Cokorda bersaudara memutuskan tetap bersama hijrah ke Satria Muda.
Kemudian tahun berikutnya mereka bertiga bergabung dengan Citra Satria hingga 2005. Tahun 2006, Tata kemudian memutuskan pensiun dari bola basket professional pada 2006 dan beralih ke dunia pendidikan.
“Setahun kemudian, 2007, pelatih Garuda menghubungi dan meminta saya bergabung, namun saya sudah memutuskan berkarier di dunia pendidikan,” katanya.
Kemudian, Tata menyelesaikan Pendidikan S1 Teknik Elektro di Universitas Trisakti dan Master in Bussines Administration di Universitas Bina Nusantara, lalu memutuskan pulang ke Bali, karena perintah orang tuanya.
“Mereka bilang, kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan mengembangkan orang-orang Bali. Saya pun luluh dan memutuskan kembali,” ucap Tata.
Dunia akademis memang taka sing bagi keluarga Cokorda. Mereka adalah putra pasangan Dr. dr. Tjokorda Alit Kamar Adnyana danProf. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.KJ .
Selanjutnya, Tata terus berusaha mencari beasiswa studi doktoral. Sebagai dosen ia dituntut harus terus mengejar pendidikan tertinggi.
"Saya mengambil program doctor karena merupakan jenjang tertinggi dalam dunia pendidikan dan karier saya," ujar Tata.
"Sama halnya saat bermain bola basket, maka tujuan tertinggi kita adalah sampai mewakili Indonesia."
Pada tahun 2013, Tata berhasil diterima di salah satu perguruan tinggi di Australia, Sydney University untuk menempuh program doctor Teknologi Informasi.
“Beruntung pada 2013 Kementerian Keuangan RI meluncurkan beasiswa perdana mereka, yaitu beasiswa LPDP yang sangat mementingkan kualitas kuliah dibanding biaya yang harus dikeluarkan. Beasiswa itu memberangkatkan saya ke Australia," kata Tata.
Kemudian, ia meraih gelar PhD alias doktor pada tahun 2018.Hingga kini Tata menjabat sebagai Asisten Profesor pada Departemen Ilmu Komputer Universitas Udayana Bali.
Tata mengakui bekal dari bola basket membantunya dalam pencapaian prestasi di luar lapangan.
“Spirit berjuang di lapangan basket terbawa dalam kehidupan. Di basket, hari ini kita kalah, besok harus kembali siap bertempur 100 persen untuk menang. Itu terbawa dalam perjalanan hidup saya,” ucapnya.
Ikuti juga Instagram, Facebook, dan Twitter dari Skor Indonesia.
Legend! Mario Wuysang dan Pengalamannya Membela Panji Indonesia di Laga Internasional https://t.co/fMCBbK6JVk— SKOR Indonesia (@skorindonesia) January 22, 2021
Berita Basket Lainnya:
Ulas Bintang: Kevin Yonas Sitorus, Andalan Timnas yang Sempat Kesulitan Cari Sepatu
Piala Dunia Basket 2023 Dipercaya Dongkrak Industri Basket di Indonesia
