Wawancara Mike Tyson: Perihal Comeback, Tinju, dan Masa Lalu

I Gede Ardy Estrada

Editor:

  • Legenda tinju Mike Tyson telah mengalami periode pasang-surut sepanjang 54 tahun hidupnya.
  • Dari juara dunia tinju kelas berat, masuk penjara, hingga bangkrut pernah dialami Mike Tyson.
  • Mike Tyson mengungkap alasannya comeback, pandangan soal tinju, dan refleksi masa lalu. 

SKOR.id - Kisah kehidupan Mike Tyson selama 54 tahun selayaknya roller coaster. Ia pernah mencapai titik tertinggi, namun juga telah berada di bagian terendah.

Dari masa kecil yang sulit lalu bertemu pelatih tinju legendaris Cus D'Amato yang mengubah segalanya. Mike Tyson menjadi juara dunia kelas berat di usia 20 tahun.

Ia pernah mendekam tiga tahun di penjara karena tuduhan pemerkosaan yang selalu dibantahnya. Keluar dari bui, Tyson memiliki 400 juta dolar AS (Rp5,8 triliun, kurs saat ini).

Namun dalam beberapa tahun, semua uang itu raib. Si Leher Beton, julukan Mike Tyson, dinyatakan bangkrut. Gaya hidup glamor dan kecanduan narkotika jadi penyebab utama.

Setelah itu, mantan petinju kelas berat ini terpuruk dalam nadir. Namun seperti petarung tangguh, Tyson tidak menyerah. Ia bangkit dan mencoba karier sebagai entertainer.

Roda kehidupannya pun kembali berputar. Dalam umur 54 tahun, Mike Tyson telah bertransformasi. Ia kini juga dikenal sebagai aktor, pembawa acara, hingga pengusaha.

Kendati demikian, Si Leher Beton tidak pernah melupakan akarnya, tinju. Dan namanya kembali jadi sorotan setelah mengungkapkan keinginan kembali naik ring.

Tyson, dengan rekor 50 kemenangan dan enam kekalahan, dijadwalkan berhadapan dengan eks-petinju Roy Jones Jr dalam laga ekshibisi di Kalifornia, AS, pada 12 September 2020.

Tak hanya soal alasan di balik keinginan comeback, Mike Tyson memberikan pandangannya terhadap masa depan tinju kelas berat, dan refleksinya terhadap kehidupan dan kematian.

Berikut wawancara Si Leher Beton yang dikutip serta dihimpun dari The Sportsman dan The Tonight Show Starring Jimmy Fallon:

Ada masa dalam hidup Anda ketika semua orang mengatakan bahwa Mike Tyson itu spesial...

Sayangnya, saya merasa tidak seperti itu. Seperti Anda mungkin masuk penjara, menderita, diperlakukan dengan buruk, bahkan mati. Semuanya bisa terjadi tiba-tiba.

Saya tidak mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa saya, tetapi ketika hal tersebut terjadi, saya akan coba memahami dan mengatasinya.

Jadi, saya tidak berusaha menghindari hal-hal buruk. Saya tahu kemalangan pasti terjadi. Namun saat itu datang, saya tidak menyerah pada nasib.

Kalau begitu apakah bisa dikatakan bahwa Anda tidak takut mati?

Yeah, saya tidak takut. Bagi saya, hidup mungkin lebih rumit dibandingkan mati. Saya tidak tahu apakah itu benar. Namun saya percaya hidup membutuhkan banyak keberanian.

Tanpa keberanian, Anda tidak bisa hidup. Kehidupan adalah perjalanan sekaligus perjuangan. Banyak orang punya segalanya, tapi mereka kesulitan dan tak mampu bertahan.

Apa di masa lalu kematian pernah terlintas dalam pikiran Anda? Mengingat Anda menggeluti sesuatu yang berbahaya (tinju)...

Saya tahu ada kemungkinan saya mati dalam latihan atau pertandingan. Namun saya tidak takut karena berpikir jika seseorang ingin mati, saya yang akan "membunuhnya".

Anda paham maksud saya? Kepercayaan diri adalah salah satu mekanisme bertahan hidup. Tapi, dari pengalaman dan apa yang saya yakini, saya makin siap menghadapinya.

Apakah Anda merasa masih ada pertarungan yang terjadi dalam diri Anda?

Mungkin. Saya mendapatkan pertarungan batin sekarang dan juga di masa lalu. Tapi tidak sesering ketika saya masih aktif (bertinju) dan bertarung setiap hari.

Tinju bisa memberikan banyak hal, namun juga dapat mengambil banyak hal. Apa arti tinju untuk seorang Mike Tyson?

Ini adalah sekolah yang besar! Ada banyak pelajaran di sana. Dan Anda harus praktek agar bisa memahaminya. Anda tidak bisa belajar hanya dengan mendengarkan.

Anda juga dapat belajar dengan cara memberikan contoh kepada orang lain. Makin banyak melakukan itu, Anda akan sadar bahwa Anda sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Ya, tinju telah memberikan dan mengambil banyak hal dari saya. Tapi, saya tidak merasa menyesal atau membuang-buang waktu ketika melakukan semua itu.

Lalu, setelah 15 tahun, mengapa memutuskan kembali naik ring? Apa yang terjadi?

Saya ingin berbuat sesuatu yang baik dan positif. Saya memulai event untuk amal dan kami akan membantu berbagai kegiatan amal. Saya pikir itu hal bagus untuk dilakukan.

Tentu saja saya masih mampu melakukannya (bertinju). Jadi saya ingin membantu dengan apa yang bisa saya lakukan. Dan saya sudah tidak sabar untuk itu.

Dan Anda memilih Roy Jones Jr dari sekian banyak calon lawan yang bisa dihadapi? Anda Mike Tyson, Anda bisa melawan siapa pun...

Well, saya pikir Roy Jones Jr (pilihan lawan) brilian karena dia merupakan petarung terbaik di generasinya. Dan saya adalah petinju terbaik di generasi saya.

Jadi, sebenarnya tidak perlu diperdebatkan karena memang kami sudah seharusnya berhadapan di dalam ring.

Apa pertimbangannya juga karena Anda berdua belum pernah berhadapan?

Mungkin. Kami pernah merencanakan untuk bertarung (saat masih aktif), tapi tidak pernah terjadi. Dan sekarang kami mendapatkan kesempatan mewujudkannya.

Orang-orang melihat rekaman latihan Anda di Instagram. Sulit dipercaya Anda terlihat masih sangat tangguh...

Saya masih seorang petarung. Itu perlu digarisbawahi. Sulit menjelaskannya, tapi saat saya mulai latihan, saya kembali bugar dan semua (insting bertinju) tiba-tiba kembali.

Anda tahu saya tidak percaya dengan mitos Fountain of Youth. Namun entah mengapa saat berlatih, energi dan jiwa muda kembali menguasai saya, seperti terlahir kembali.

Bagaimana rasanya menjalani latihan pada usia 54 tahun dibandingkan ketika Anda masih 24 tahun?

Jujur saja, sangat menyakitkan. Dan dari pengalaman (latihan) di usia saat ini, saya tidak akan pernah lagi menganggap petinju lain lelucon.

Karena, siapa pun yang melakukan atau mencoba menjalani latihan ketika mereka sudah melewati masa keemasaan kariernya jelas bukan lelucon.

Anda berbincang langsung dengan Tyson Fury dalam podcast Hotboxin'. Bagaimana pendapat Anda tentang dia?

Saya sangat menyukainya. Saya bangga bahwa dia dinamakan karena terinspirasi oleh saya. Saya sangat menghargai dan merasa terhormat untuk itu.

Dia juga memiliki gaya bertinju yang unik dan itu sangat cocok untuknya. Saya pikir dia petinju bagus dan telah berhasil membuktikanya di dalam ring.

Tyson Fury juara dunia WBC dan ada Anthony Joshua, pemegang empat gelar. Pandangan Anda soal petinju kelas berat modern Inggris seperti mereka?

Saya bisa bilang saat ini mereka berada dalam kondisi terbaik untuk bisa menjadi petinju hebat dan meraih yang terbaik dari olahraga ini.

Dari apa yang saya lihat, keduanya telah membuktikan mampu untuk menjadi petinju kelas berat terbaik. Seperti banyak pencinta tinju, saya sangat menantikan duel mereka.

Deontay Wilder meminta rematch. Anda setuju dengan keputusannya atau dia seharusnya tidak buru-buru untuk duel lagi dengan Tyson Fury?

Dia harus kembali bertarung, secepatnya. Namun sebelum itu, dia harus berada dalam kondisi perfek. Yang saya maksud bukan hanya fisik, tapi juga pikiran.

Floyd Mayweather Jr enggan menghadapi petinju lagi karena merasa tak ada yang perlu dibuktikan. Apa Anda merasa petinju dan petarung UFC perlu diadu atau itu merusak integritas kedua olahraga?

Saya pikir luar biasa. Dia yang pertama melakukan itu (berduel dengan petarung UFC Conor McGregor). Saya menyukainya. Hal seperti ini (integrasi) akan lebih sering terjadi.

Saya tidak tahu seberapa bagus kami bertarung menghadapi mereka (petarung dari disiplin lain), itu akan selalu bergantung dengan aturan mana Anda bertarung.

Apakah ada sesuatu yang Anda rasa hilang dari tinju hari ini?

Sebagai olahraga, tinju adalah sebuah enigma, teka-teki. Dalam 200 tahun dari sekarang, mungkin hanya akan ada lima petinju yang akan diingat orang.

Bukan karena uang atau menjadi kaya. Orang akan ingat nama mereka karena kelebihannya dalam seni bertarung di dalam ring. Ini yang seringkali disalahpahami.

Kata "bertarung" selalu dikonotasikan negatif. Padahal yang terjadi bisa sebaliknya jika Anda melihatnya dari perspektif spiritual. Namun jarang terjadi.

Pertarungan itu spiritual, tapi Anda tidak bisa melihatnya karena didominasi oleh aspek fisik. Tapi dalam pikiran, kami (petinju) ingin menjadi Achilles, raja dari semua petarung.

Namun sosok seperti Achilles pun memiliki kelemahan...

Semua orang punya kelemahan. Itu takdir yang tak terhindarkan. Mungkin Achilles memiliki lebih banyak kelemahan, namun hanya satu yang diungkapkan.

Bicara soal Achilles, sebelum mati, saya sangat ingin mengunjungi makamnya di Yunani. Itu masuk dalam daftar keinginan saya.

Anda pernah jatuh-bangun di masa lalu. Apa saran atau nasehat bagi orang-orang yang sedang terpuruk dan bagaimana cara untuk bangkit?

Anda bisa mengubah pikiran kapan pun. Anda bisa menjadi apa pun. Anda bisa bilang, "Saya ingin menjadi seorang atlet hebat." Dan berusaha dan berjuanglah untuk itu.

Perlu diingat, Anda adalah pemegang otoritas tertinggi terhadap diri Anda sendiri, kecuali perkara hidup-mati. Jadi jika ingin sesuatu, berusahalah meraihnya.

Saya dulu punya gaya hidup yang kacau. Kini saya lebih teratur, seperti kaum pekerja. Saya pergi bekerja lalu kembali ke rumah bersama istri dan anak-anak.

Anda tahu, jika melihat masa lalu saya, mungkin saya tidak seharusnya tinggal di rumah yang hangat seperti ini. Dan untuk itu, saya merasa sangat bersyukur.

Ikuti juga InstagramFacebookYouTube, dan Twitter dari Skor Indonesia.

Berita Mike Tyson Lainnya:

Mengintip Kekuatan-Kelemahan Mike Tyson dan Roy Jones Jr

Mike Tyson Bertekad Menang KO Atas Roy Jones Jr. 

 

Source: The SportsmanThe Tonight Show Starring Jimmy Fallon

RELATED STORIES

Manny Pacquiao Bersedia hadapi Gennady Golovkin, Ini Syaratnya

Manny Pacquiao Bersedia hadapi Gennady Golovkin, Ini Syaratnya

Dua petinju top, Manny Pacquiao dan Gennady Golovkin, tengah menjadi sorotan setelah komentar Freddie Roach.

Skor co creators network
RIGHT_ARROW
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
PLAY_ICON
RIGHT_ARROW

THE LATEST

Timnas U-17 Korea Selatan vs Timnas U-17 Indonesia (Korea Selatan U-17 vs Indonesia U-17) pada Grup C Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi, 4 April 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Head-to-Head Timnas U-17 Indonesia vs Korea Selatan: Pernah Kalah 0-9!

Pernah kalah 0-9, berikut ini adalah head-to-head Timnas U-17 Indonesia saat melawan Korea Selatan.

Thoriq Az Zuhri | 04 Apr, 02:37

Bukayo Saka mencetak gol setelah memanfaatkan assist Martin Odegaard. (Rahmat Ari Hidayat/Skor.id).

Liga Inggris

Prediksi dan Link Live Streaming Everton vs Arsenal di Liga Inggris 2024-2025

Berikut ini adalah prediksi pertandingan dan link live streaming Everton vs Arsenal dalam laga lanjutan Liga Inggris.

Thoriq Az Zuhri | 03 Apr, 23:32

AFC

World

Termasuk Indonesia, 5 Negara Asia dengan Lonjakan Ranking FIFA Tertinggi

Berikut ini adalah lima negara di Asia yang punya lonjakan Ranking FIFA tertinggi untuk ranking tanggal 3 April 2025.

Thoriq Az Zuhri | 03 Apr, 23:15

Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi atau AFC U-17 Asian Cup Saudi Arabia 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Piala Asia U-17 2025: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Jadwal, hasil, dan klasemen Piala Asia U-17 2025, yang terus diperbarui seiring berjalannya turnamen.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 16:54

Timnas U-17 Korea Selatan vs Timnas U-17 Indonesia (Korea Selatan U-17 vs Indonesia U-17) pada Grup C Piala Asia U-17 2025 di Arab Saudi, 4 April 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

Prediksi dan Link Live Streaming Korea Selatan vs Indonesia di Piala Asia U-17 2025

Timnas U-17 Indonesia mengawali kiprah di Piala Asia U-17 2025 dengan bersua Korea Selatan U-17, Jumat (4/4/2025) malam WIB.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 16:05

Klub asal Filipina, Makati FC, yang diperkuat empat pemain Timnas putri Indonesia pada PFF Womens Football League 2025. (Deni Sulaeman/Skor.id)

Timnas Indonesia

4 Pemain Timnas Putri Indonesia Gabung Klub Filipina di PFF Womens Football League 2025

Tiga pemain Timnas putri Indonesia bahkan langsung unjuk gigi bersama Makati FC di PFF Womens Football League 2025.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 14:04

Honor of Kings (Jovi Arnanda/Skor.id)

Esports

Aksi Mulia Komunitas Honor of Kings di Hari Raya

Honor of Kings mengajak komunitasnya untuk turut serta dalam program donasi yang digelar melalui acara Ramadhan Livestream Fest.

Gangga Basudewa | 03 Apr, 14:03

Ketua Umum PSSI Erick Thohir. (Foto: Yogie Gandanaya/Grafis: Yusuf/ Skor.id)

Timnas Indonesia

Timnas Indonesia Naik Peringkat FIFA, Erick Thohir Tegaskan Terus Kejar 100 Besar

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, merespons peningkatan peringkat Timnas Indonesia pada Ranking FIFA terbaru.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 11:44

ragnar oratmangoen timnas

National

Ragnar Oratmangoen Beri Bantuan untuk Anak-anak di Gaza Rayakan Lebaran Idulfitri 2025

Penyerang Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen, memberikan bantuan hadiah, permen, minuman, dan kegiatan bermain.

Taufani Rahmanda | 03 Apr, 10:05

Kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia, Liga 1 2024-2025. (Hendy Andika/Skor.id)

Liga 1

Liga 1 2024-2025: Tiga Tim Dipastikan Aman dari Degradasi

Liga 1 2024-2025 menyisakan tujuh pekan lagi, dan tiga tim sudah dipastikan tidak akan terdegradasi.

Rais Adnan | 03 Apr, 09:00

Load More Articles