Cek Fakta Film Timnas Indonesia The Longest Wait Sengaja Beri Kesan Kemenangan Era Shin Tae-yong Jadi Andil Patrick Kluivert

SKOR.id - Film dokumenter Timnas Indonesia, The Longest Wait, sudah resmi tayang di bioskop Tanah Air sejak 28 Oktober 2026, dan langsung mendapat respons beragam.
Salah satu yang banyak disorot adalah soal timeline (garis waktu), yaitu kemenangan Timnas Indonesia lawan Arab Saudi dimuat setelah ada scane saat momen pemecatan Shin Tae-yong dan penunjukkan Patrick Kluivert sebagai pelatih pengganti.
Timeline tersebut pun memunculkan anggapan bahwa film The Longest Wait memunculkan kesan kemenangan Garuda atas Timnas Arab Saudi adalah andil Patrick Kluivert.
Dari hasil pengecekan fakta yang dilakukan Skor.id, Co-Director The Longest Wait, Arief Soeliscane, mengungkapkan kebenaran soal garis waktu tersebut pada Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Indonesia Women's League 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap
Baca Juga: Championship 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen
“Saya juga mengikuti perkembangan di media sosial dan melihat banyak pihak yang ingin membahas hal ini. Mungkin ini kesempatan yang baik bagi saya untuk memberikan penjelasan,” katanya.
“Sejak awal, kami memang membuat film dokumenter yang tidak bertutur berdasarkan urutan kronologis atau chronological moment.”
“Artinya, jika menggunakan urutan kronologis, ceritanya akan disampaikan secara berurutan dari A sampai Z. Namun, film ini bergerak berdasarkan narasi emosional.”
“Jadi, hal yang kami ikuti adalah bagaimana emosi dalam cerita tersebut dibangun. Tentu saja, kami tidak mungkin mengubah fakta sejarah,” Arief menguraikan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa fakta sejarah tidak mungkin diubah karena sangat mudah diakses oleh semua orang. Hal tersebut juga sudah dipertimbangkan pihaknya dan dirasa tidak mungkin memutarbalikkan fakta sejarah.
“Jika diperhatikan dengan teliti, sebelum (tayangan) setiap pertandingan, kami selalu menampilkan informasi waktu. Misalnya, sebelum pertandingan melawan Arab Saudi, kami mencantumkan bulan dan tahun pertandingan tersebut,” ucap Arief lagi.
“Begitu juga ketika menghadapi Australia, kami menampilkan informasi bulan dan tahunnya. Dengan demikian, sebenarnya kami sudah memberikan penjelasan bahwa urutan pertandingan dalam film ini memang tidak disusun secara kronologis.”
“Bahkan, jika melihat keseluruhan film, kami justru memulainya dari pertandingan ronde keempat melawan Irak. Namun, tidak banyak yang mempertanyakan mengapa pertandingan tersebut ditempatkan di awal film, padahal secara kronologis berlangsung pada waktu yang berbeda.”
“Saya memahami mengapa muncul berbagai tanggapan seperti ini. Namun, hal yang ingin kami hadirkan sebenarnya adalah narasi emosional,” ia menegaskan.
Adapun Arief mengakui bahwa The Longest Wait berfokus pada cerita di balik layar, khususnya bagaimana para pemain menghadapi masa-masa sulit, mengalami rentetan kekalahan.
“Ketika berada dalam situasi terpuruk, apa yang mereka rasakan dan bagaimana mereka menghadapinya? Kami juga memperlihatkan kritik yang datang dari netizen serta bagaimana para pemain merespons berbagai kritik tersebut,” ujarnya lagi.
“Selain itu, kami menampilkan bagaimana rasa persaudaraan atau brotherhood di antara para pemain menjadi kekuatan yang membantu mereka bangkit kembali.”
“Setelah itu, kami menampilkan momen-momen kemenangan. Kemenangan tersebut kami angkat sebagai bagian dari perjalanan dan kebersamaan yang dibangun oleh para pemain sendiri.”
“Jadi, bukan berarti kami sengaja memutarbalikkan sejarah. Tidak demikian. Dalam setiap pertandingan yang ditampilkan, kami selalu mencantumkan informasi waktu.”
“Termasuk bulan dan tahun pertandingan berlangsung. Mudah-mudahan penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan yang berkembang,” Arief memungkasi.
