Home > Films

Alasan Tidak Ada Shin Tae-yong di Film Timnas Indonesia The Longest Wait

Eksekutif Produser The Longest Wait, Sakti Parantean, menjelaskan dalam wawancara eksklusif dengan Skor.id pada Kamis (5/11/2026).
Image
Taufani Rahmanda Editor : Taufani Rahmanda
Shin Tae-yong saat menjadi pelatih Timnas Indonesia. (Grafis: Skor.id)
Shin Tae-yong saat menjadi pelatih Timnas Indonesia. (Grafis: Skor.id)

SKOR.id - Eksekutif Produser The Longest Wait, Sakti Parantean, menjelaskan alasan tidak adanya Shin Tae-yong dalam film dokumenter Timnas Indonesia yang digarapnya.

Film dokumenter Timnas Indonesia, The Longest Wait, sudah resmi tayang di bioskop Tanah Air sejak 28 Oktober 2026, dan langsung mendapat respons beragam.

Salah satu yang banyak disorot adalah tidak adanya (tampak muka) Shin Tae-yong sebagai mantan pelatih Timnas Indonesia, padahal dua pelatih lain, Patrick Kluivert dan John Herdman, muncul wajahnya.

Terkait sorotan dari film bergenre dokumenter, sports, dan human story itu, Sakti Parantean pun memberikan alasannya dalam wawancara eksklusif dengan Skor.id pada Kamis (5/11/2026).

Baca Juga: Indonesia Women's League 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: Championship 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen

“Saya sangat menghargai dan memahami polemik serta berbagai pertanyaan yang muncul, baik dari kalangan jurnalis maupun netizen, setelah kami meluncurkan film ini,” katanya.

“Secara umum, saya perlu menjelaskan bahwa pembuatan film dokumenter berbeda dengan pembuatan karya jurnalistik ataupun konten media sosial seperti YouTube.”

“Ada dua tanggung jawab yang harus kami emban. Pertama, tanggung jawab artistik. Kami harus bisa membuat sebuah inspiring entertainment yang nantinya dapat dinikmati penonton.”

“Harapannya, mereka bisa merasakan pengalaman sinematik dan membawa pulang pengalaman baru setelah menyaksikan film tersebut,” Sakti menguraikan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, yang kedua adalah tanggung jawab legal dan komersial. Itu merupakan bagian dari profesionalisme pihaknya dalam menggarap The Longest Wait.

“Apalagi, film ini ditayangkan di ruang publik sebagai tontonan masyarakat di bioskop dan memiliki nilai komersial. Untuk menjaga aspek komersial tersebut, ada sejumlah hal yang harus kami pastikan izinnya,” Sakti menambahkan.

“Misalnya, lisensi penggunaan lagu, seperti lagu Morfeem, kemudian izin penggunaan footage FIFA, termasuk potongan sejarah ketika Hindia Belanda, yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, tampil di Piala Dunia 1938,” ia melanjutkan.

Sakti pun menuturkan bahwa pihaknya juga sudah mengamankan seluruh materi pertandingan yang dijalani Timnas Indonesia selama ronde pertama, kedua, ketiga, hingga keempat.

“Selain itu, ada yang namanya consent atau izin untuk menampilkan wajah dan wawancara seseorang. Semua pihak yang tampil dalam film ini sudah memberikan izin,” lanjutnya.

Eksekutif Produser The Longest Wait, Sakti Parantean, saat wawancara eksklusif dengan Skor.id di Jakarta pada 5 November 2026. (Uut Kaharudin/Skor.id)
Eksekutif Produser The Longest Wait, Sakti Parantean, saat wawancara eksklusif dengan Skor.id di Jakarta pada 5 November 2026. (Uut Kaharudin/Skor.id)

“Sementara itu, ada beberapa alasan mengapa seseorang tidak ditampilkan dalam film. Pertama, apakah kami mendapatkan akses dan waktu untuk melakukan wawancara? Kedua, apakah cerita tersebut relevan dengan kesinambungan dramaturgi yang sedang kami bangun?.”

“Sebab, sudut pandang yang ingin kami hadirkan adalah point of view dari pembuat film. Para pemain yang ditampilkan tentunya sudah memberikan persetujuan melalui release form bahwa mereka bersedia muncul dalam film tersebut.”

“Bukan berarti orang-orang yang tidak tampil tidak memberikan izin atau consent. Namun, kami juga harus mempertimbangkan relevansi cerita mereka dalam membangun keseluruhan film,” Sakti menjabarkan.

Ia pun mengakui ada banyak wawancara, peristiwa, dan fakta yang ddapatkan pihaknya. Namun, ketika masuk ke tahap penyuntingan, harus kembali mempertanyakan apakah materi tersebut benar-benar memperkuat cerita atau tidak, meskipun sebenarnya sangat menarik.

“Sebagai contoh, kami pernah mengunjungi kampung halaman Miliano Jonathans di Depok. Kami masuk ke lingkungan tempat tinggalnya dan mewawancarai salah satu anggota keluarganya,” Sakti melanjutkan.

“Namun, ketika materi tersebut dimasukkan ke dalam proses penyuntingan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga Miliano Jonathans, kami merasa cerita itu belum terlalu masuk ke dalam sudut pandang pembuat film untuk membangun emosi yang diinginkan.”

“Dalam membuat film, ada struktur tiga babak yakni opening, middle, dan ending, yang mencakup konflik atau confrontation serta penyelesaian atau resolution. Kami tidak ingin film ini justru menjadi sekadar kumpulan profil pemain.”

“Padahal, semangat yang ingin kami tampilkan sudah terwakili melalui wawancara-wawancara lainnya. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa meskipun para pemain tersebut tidak lahir di Indonesia, mereka tetap memiliki kebanggaan karena mempunyai darah Indonesia.”

“Mereka juga memiliki keinginan untuk berjuang mati-matian bersama Timnas Indonesia yang saat ini bisa kita banggakan.”

“Jadi, pertanyaan tersebut sangat relevan. Namun, kami juga memiliki tanggung jawab legal dan komersial yang harus tetap dihormati,” ia memungkasi.

× Image