Buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951-1960 Ungkap Hal Menarik dan Sisi Lain Timnas

SKOR.id - Sejarah Timnas Indonesia tak hanya soal kemenangan dan kekalahan. Perjuangan para pemain, kontribusi pelatih asing, hingga keterbatasan yang dihadapi generasi awal sepak bola nasional menjadi bagian penting yang jarang terungkap.
Kisah tersebut kini diangkat kembali melalui buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960.
Buku karya Aulli Reza Atmam dan Dimas Wahyu Indrajaya ini diluncurkan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026). Melalui penelusuran arsip surat kabar dan majalah lawas, keduanya berupaya menghadirkan gambaran lebih utuh mengenai perjalanan Timnas Indonesia pada dekade 1950-an.
Gagasan penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan penulis terhadap minimnya pengetahuan masyarakat mengenai para pemain Indonesia pada masa lalu.
Baca Juga: MPL Indonesia Season 18: Hasil, Jadwal, Klasemen Lengkap
Baca Juga: Liga Champions 2026-2027: Jadwal, Hasil, dan Klasemen Lengkap
Menurutnya, publik lebih mengenal legenda sepak bola dunia seperti Pelé dan Diego Maradona dibandingkan tokoh-tokoh yang pernah membela Merah Putih.
Ketertarikan tersebut semakin berkembang ketika Dimas menemukan nama Ramang saat mengelola konten sejarah pada 2020. Penelusuran lebih lanjut membawanya pada berbagai kisah menarik yang belum banyak diketahui masyarakat.
“Timnas zaman itu nggak soal kekalahan saja, nggak prestasinya juga. Tapi juga bagaimana perjuangannya mendapatkan prestasi itu,” ujar Dimas.
Pengumpulan bahan dimulai pada 2021. Aulli dan Dimas menelusuri koleksi surat kabar di Perpustakaan Nasional serta memanfaatkan arsip digital dari luar negeri, termasuk Delpher di Belanda dan koleksi Perpustakaan Nasional Singapura.
Berbagai dokumen tersebut memuat laporan pertandingan, persiapan tim, hingga situasi yang memengaruhi perjalanan Timnas Indonesia. Naskah buku akhirnya rampung pada 2024 dan diterbitkan dalam dua jilid.
“Kita nemu banyak cerita yang sebenarnya menarik, tapi nggak banyak orang tahu. Kita merasa sayang bahwa ini cuma tersimpan di dalam pojokan ruang Perpustakaan Nasional,” kata Aulli.
Salah satu pembahasan penting dalam buku ini adalah peran pelatih asing dalam membangun fondasi Timnas Indonesia. Nama Choo Seng Quee, pelatih asal Singapura yang menangani Indonesia pada awal 1950-an, turut menjadi sorotan, termasuk kiprah tim di Asian Games 1951.
Selain itu, terdapat kisah Antun Pogačnik, pelatih asal Yugoslavia yang berperan dalam perjalanan Indonesia meraih medali perunggu Asian Games 1958 di Tokyo. Perekrutannya melibatkan Ketua Umum PSSI saat itu, Maladi, serta bantuan Presiden Soekarno.
Buku ini juga mengangkat nama-nama pemain yang kini jarang diperbincangkan, seperti Ramang, Maulwi Saelan, Aang Witarsa, Tan Liong Houw, Ashari Danu, Rukma Sujana, dan Van der Vin.
Penelusuran arsip turut memperlihatkan keberagaman latar belakang para pemain, termasuk keturunan Tionghoa, Arab, dan Eropa.
Melalui Para Pionir, pembaca diajak memahami bahwa identitas sepak bola Indonesia terbentuk melalui perjuangan panjang banyak pihak. Buku ini bukan sekadar dokumentasi masa lalu, melainkan pengingat bahwa fondasi Timnas hari ini dibangun oleh generasi terdahulu yang layak mendapat tempat dalam sejarah sepak bola nasional.
