Home > Badminton

Leani Ratri Oktila, Cetak Sejarah Empat Emas Beruntun Asian Para Games

Berpasangan dengan Hikmat Ramdani, Leani Ratri Oktila meraih medali emas nomor ganda campuran SL3-SU5 Asian Para Games 2026.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Leani Ratri Oktavia/Hikmat Ramdani meraih medali emas ganda campuran para bulu tangkis SL3-SU5 Asian Para Games 2026. (Foto: Dok. Kemenpora/Grafis: Skor.id) 
Leani Ratri Oktavia/Hikmat Ramdani meraih medali emas ganda campuran para bulu tangkis SL3-SU5 Asian Para Games 2026. (Foto: Dok. Kemenpora/Grafis: Skor.id)

SKOR.id – Atlet para bulu tangkis Indonesia, Leani Ratri Oktila, kembali menorehkan prestasi bersejarah bagi Indonesia di Asian Para Games 2026. Berpasangan dengan Hikmat Ramdani, Ratri meraih medali emas nomor ganda campuran SL3-SU5 setelah menaklukkan wakil India, Thulasimathi Murugesan/Nitesh Kumar, pada final, Jumat (23/10/2026).

Kemenangan tersebut memastikan Ratri mencatatkan quattrick atau empat medali emas ganda campuran secara beruntun di Asian Para Games. Catatan itu dimulai sejak Incheon 2014, berlanjut di Jakarta 2018 dan Hangzhou 2022, hingga kembali terulang di Nagoya 2026.

Emas ini sekaligus menjadi medali emas ke-11 bagi kontingen Indonesia di ajang yang berlangsung di Nagoya, Jepang, tersebut.

Namun, kemenangan Ratri/Hikmat tidak diraih dengan mudah. Pasangan yang meraih emas Paralimpiade Paris 2024 itu harus berjuang selama 51 menit dalam pertandingan tiga gim melawan wakil India.

Baca Juga: Jelang Asian Para Games 2026, Kholidin Dapat Dukungan Pihak Swasta

Baca Juga: Erick Thohir Serahkan Surat Dukungan Presiden Prabowo Subianto untuk Gianni Infantino

Ratri/Hikmat mengawali pertandingan dengan kekalahan 11-21. Mereka kemudian bangkit pada gim kedua dengan kemenangan tipis 21-19, sebelum memastikan gelar juara melalui kemenangan 21-14 pada gim penentuan.

Ketatnya pertandingan terlihat dari statistik perolehan poin kedua pasangan. India bahkan mengumpulkan satu poin lebih banyak, yakni 54 poin berbanding 53 poin milik Indonesia. Reli terpanjang dalam pertandingan tersebut juga berlangsung hingga 90 detik.

Ratri mengakui bahwa dirinya dan Hikmat memang telah memasang target emas. Meski demikian, tekanan yang mereka rasakan selama pertandingan ternyata jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.

“Sebenarnya hasil emas ini, kalau saya sama Hikmat secara pribadi sudah menargetkan emas. Cuma saya tidak expect kalau tekanan di dalam lapangan sebesar ini,” ujar Ratri.

Ia mengungkapkan, rasa tegang sempat memengaruhi permainannya pada awal pertandingan. Padahal, Ratri/Hikmat sudah beberapa kali berhadapan dengan pasangan India tersebut dan biasanya mampu meraih kemenangan dengan relatif nyaman.

“Saya hanya tegang, di belakang juga belum tenang, masih ada beban di lapangan yang berat. Dan untuk set kedua saya mencoba tenang. Alhamdulillah,” ungkapnya.

“Padahal sebelum-sebelumnya kita cukup mudah, cukup enjoy melawan pasangan India ini,” tambah Ratri.

Bangkit Setelah Kehilangan Emas Tunggal Putri

Tekanan yang dihadapi Ratri di final ganda campuran juga tidak terlepas dari hasil pertandingan sebelumnya. Pada hari yang sama, ia lebih dahulu tampil di final tunggal putri, tetapi harus mengakui keunggulan lawan dan puas membawa pulang medali perak.

Kondisi tersebut membuat Ratri harus kembali membangun fokus untuk menghadapi final berikutnya. Ia menyadari bahwa mengembalikan mental bertanding setelah kekalahan bukan perkara mudah.

“Saya barusan juga final di single dan kalah tadi. Mungkin kalau saya bangkit dari situ, memulai dari awal lagi kan sulit. Tapi kalau untuk mixed double, saya sebenarnya selalu percaya diri,” tuturnya.

Ketenangan menjadi salah satu faktor penting yang membawa Ratri/Hikmat membalikkan keadaan. Selain itu, dukungan penonton Indonesia yang hadir di tribun turut memberikan tambahan semangat bagi pasangan tersebut.

Saat tertinggal jauh pada gim pertama, suasana di tribun sempat hening. Namun, sorakan dari pendukung Indonesia yang kembali terdengar membantu Ratri/Hikmat menjaga motivasi untuk mengejar ketertinggalan.

Hikmat mengakui bahwa ia menyadari keberadaan banyak pendukung Indonesia di arena, meskipun suasana sempat senyap ketika mereka berada dalam posisi tertinggal.

“Di poin-poin awal saja, ketika senyap, saya tahu penonton Indonesia banyak. Tapi ketika senyap, saya tahu mereka mungkin belum dapat menerima kami, karena kami memang ketinggalan jauh. Tapi ketika ada suara itu, tetap menambah motivasi,” ujar Hikmat.

Menurutnya, komunikasi dan kemampuan menjaga ketenangan menjadi kunci kebangkitan mereka hingga berhasil mengamankan dua gim berikutnya.

“Saya mencoba tenang. Komunikasi lebih lagi di lapangan, saya tenang, tenang, tenang untuk mencari kemenangan kita,” katanya.

Bagi Ratri, keberhasilan meraih emas ganda campuran juga tidak terlepas dari fokus latihan yang selama ini dijalani bersama Hikmat. Nomor tersebut menjadi andalan sekaligus nomor yang paling sering mereka persiapkan dalam latihan sehari-hari.

“Karena memang mixed double nomor favorit saya, nomor yang memang saya latihan setiap hari. Saya sama Hikmat itu latihannya setiap hari untuk mixed double. Jadi kalau emas di mixed double, saya sudah mengira akan emas. Cuma nggak mengira kalau bakalan seramai ini aja mainnya,” ungkapnya.

Ratri pun menyampaikan bahwa medali emas yang diraih di Nagoya dipersembahkan untuk orang-orang terdekat, terutama keluarganya.

“Tetap orang tua,” ucap Ratri singkat.

Medali emas di Nagoya semakin menegaskan konsistensi Ratri di nomor ganda campuran Asian Para Games. Sejak pertama kali meraih emas pada edisi Incheon 2014, ia selalu berhasil berdiri di podium tertinggi nomor tersebut dalam empat edisi beruntun.

Secara keseluruhan, Ratri kini telah mengoleksi 12 medali Asian Para Games, terdiri dari enam emas, empat perak, dan dua perunggu.

Pada Asian Para Games Incheon 2014, Ratri meraih emas ganda campuran, perak ganda putri, dan perunggu tunggal putri. Empat tahun kemudian di Jakarta 2018, ia kembali meraih emas ganda campuran dan menambah emas dari nomor ganda putri, serta perak tunggal putri.

Prestasinya berlanjut pada Asian Para Games Hangzhou 2022 dengan raihan emas ganda campuran, emas ganda putri, dan perak tunggal putri.

Sementara di Nagoya 2026, Ratri kembali meraih emas ganda campuran. Ia juga membawa pulang medali perak tunggal putri dan perunggu ganda putri. Hasil tersebut membuatnya melengkapi koleksi medali dengan satu medali dari setiap warna pada edisi kali ini.

Setelah menyelesaikan perjuangannya di Nagoya, Ratri dan Hikmat kini mengalihkan perhatian ke target besar berikutnya, yakni mempertahankan prestasi di Paralimpiade Los Angeles 2028.

Ratri berharap dapat menjaga kondisi fisik agar bisa kembali tampil pada pesta olahraga terbesar bagi atlet disabilitas tersebut.

“Semoga saya sehat, lebih kesehatan untuk bisa tampil di LA. Target otomatis saya sekarang untuk bisa tampil di LA,” tegas Ratri.

Target itu didukung oleh catatan prestasi keduanya dalam beberapa tahun terakhir. Selain meraih emas Paralimpiade Paris 2024, Ratri/Hikmat juga menjadi juara Kejuaraan Dunia BWF Para Badminton 2024 di Pattaya dan 2026 di Manama.

Mereka turut mengoleksi emas ASEAN Para Games dalam tiga edisi berturut-turut serta sejumlah gelar turnamen sirkuit internasional sepanjang 2026, termasuk di China dan Jepang.

Raihan emas di Nagoya bukan hanya memperpanjang dominasi Ratri di level Asia, tetapi juga menjadi modal penting bagi dirinya dan Hikmat untuk kembali memburu prestasi tertinggi di Los Angeles 2028.

Sumber: Kemenpora

× Image