Sejarah Islah Perdamaian Jakmania dengan Bobotoh, Bersatu!

SKOR.id - Bagaimana sejarah islah perdamaian Jakmania dengan Bobotoh?
Insiden buruk untuk sepak bola Indonesia kembali terjadi.
Bus Persib U-18 diserang sejumlah oknum The Jakmania di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah, pada 11 Oktober 2026, yang menimbulkan kerusakan, kehilangan, hingga luka.
Kasus ini kini sedang ditangani pihak kepolisian.
Baca Juga: Super League 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen
Baca Juga: Kasus Penyerangan Bus Persib EPA, Ketum The Jakmania Minta Maaf dan Kawal hingga Siap Cabut KTA
Sepanjang sejarah, meski sebagai rival sejak milenium baru, Jakmania dan Bobotoh sebenarnya sudah kerap melakukan islah perdamaian.
Pertama, sempat ada desakan islah yang sangat kuat dari publik pada Mei 2012 setelah insiden tewasnya seorang Bobotoh bernama Rangga Nugraha seusai laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Pihak manajemen kedua klub dan sesepuh suporter sempat mengadakan pertemuan belasungkawa dan merumuskan komunikasi damai.
Sayangnya, upaya saat itu gagal bertransformasi menjadi islah formal yang mengikat karena tensi tensi permusuhan di jalanan masih terlalu tinggi.
Tiga tahun berselang pada 2014, melihat tensi yang kian membahayakan, pihak kepolisian dan pemerintah mencoba memediasi perdamaian resmi.
Bertempat di Polres Bogor, Ketua Umum The Jakmania saat itu (Larico Ranggamone) dan Ketua Umum Viking (Heru Joko) menandatangani perjanjian damai resmi yang disaksikan oleh Wakapolda Jawa Barat dan Wakapolda Metro Jaya.
Meski begitu, upaya damai top-down (dari atas ke bawah) ini tampak kurang efektif.
Ikrar damai di tingkat pengurus pusat gagal meredam gesekan di tingkat akar rumput (underground) dan wilayah perbatasan (seperti Bekasi, Bogor, dan Karawang), sehingga bentrokan masih kerap terjadi.
Lalu pada 2017, perdamaian mulai tumbuh secara organik dari bawah setelah jatuhnya korban jiwa akibat salah sasaran, Ricko Andrean pada Juli 2017.
Ricko, seorang Bobotoh, wafat setelah dikeroyok sesama oknum Bobotoh karena berusaha melindungi seorang Jakmania yang tersusup di Stadion GBLA.
Tragedi memilukan ini memicu gelombang penyesalan massal.
Beberapa hari setelahnya, pada 29 Juli 2017, ratusan perwakilan Jakmania dan Bobotoh berkumpul bersama di depan Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi.
Mereka menggelar aksi damai menyalakan 1.000 lilin untuk Ricko dan menyanyikan lagu perdamaian bersama.
Aksi serupa dengan penandatanganan kain putih perdamaian juga menjalar ke wilayah perbatasan lain seperti Purwakarta.
Pemerintah melalui Menpora (saat itu Imam Nahrawi) menginisiasi pertemuan islah nasional pada 1 Agustus 2017 di Kantor Kemenpora, Jakarta.
Pertemuan ini dihadiri langsung oleh pimpinan The Jakmania (Bung Ferry) dan perwakilan suporter Persib.
Sebagai tindak lanjut nyata di internal Bandung, pada 4 Agustus 2017, tiga elemen besar Bobotoh (Viking Persib Club, Bomber, dan The Bomb) berkumpul dan secara resmi membacakan Resolusi Damai.
Mereka menginstruksikan seluruh distrik dan korwil hingga tingkat bawah untuk mewujudkan perdamaian dan menghilangkan yel-yel maupun lagu rasis terhadap Jakmania.
Islah ini juga menjalar ke area perbatasan seperti di Purwakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, hingga Karawang.
Terakhir, Tragedi Kanjuruhan menjadi momentum islah terbesar yang tidak hanya melibatkan Jakmania dan Bobotoh, melainkan seluruh aliansi suporter di Indonesia.
Melalui berbagai forum yang difasilitasi oleh PSSI dan perwakilan suporter lintas klub (termasuk Bonek dan Aremania), dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama untuk mereformasi kultur suporter Indonesia. Salah satu poin pentingnya adalah komitmen saling menjaga keamanan apabila ada perwakilan suporter yang bertamu.
Sumber: Google, Wikipedia
