Presiden AFC Melunak soal Gianni Infantino, Usulkan Reformasi FIFA dari Dalam
SKOR.id – Sikap Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino mulai menunjukkan perubahan. Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, yang sebelumnya cukup keras mengkritik kepemimpinan Infantino, kini mengusulkan pendekatan yang lebih kompromistis untuk membenahi tata kelola badan sepak bola dunia tersebut.
Dalam surat yang dikirim kepada Infantino pada Selasa (6/10/2026), dan turut dibagikan kepada sejumlah presiden konfederasi, termasuk Presiden UEFA Aleksander Ceferin dan Presiden Concacaf Victor Montagliani, Sheikh Salman mengajak FIFA mempertimbangkan penguatan sistem tata kelola yang sudah berjalan.
Usulan tersebut sekaligus menjadi indikasi bahwa Sheikh Salman mulai mengambil jarak dari gagasan perombakan besar-besaran di tubuh FIFA. Ia justru mendorong pembentukan kelompok kerja internal yang melibatkan institusi sepak bola untuk mengevaluasi sistem yang ada.
“Kita harus mempertimbangkan secara konstruktif apakah tata kelola FIFA yang ada saat ini dapat diperkuat,” tulis Salman dalam surat tersebut, dikutip dari The Athletic.
Baca Juga: Pemilihan Presiden FIFA, Dukungan Kuat untuk Gianni Infantino Masih Tersebar di 6 Konfederasi
Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Sukses Digelar, Presiden FIFA Puji Indonesia Tuan Rumah yang Hebat
Perubahan sikap ini cukup menarik mengingat Salman sebelumnya termasuk tokoh yang menentang Infantino setelah kontroversi FIFA Forward Enterprise (FFE). Proyek tersebut sempat membuka peluang investasi swasta sebesar 20 persen terhadap aktivitas komersial dan penyelenggaraan event FIFA sebelum akhirnya ditarik setelah mendapat penolakan luas.
Bahkan, AFC sebelumnya bergabung dengan UEFA dan Concacaf dalam tekanan terhadap kepemimpinan Infantino. Namun, dalam surat terbarunya, Sheikh Salman tidak lagi mendorong perombakan total tata kelola FIFA.
Ia justru menilai evaluasi terhadap sistem yang ada dapat dilakukan oleh institusi sepak bola itu sendiri.
“Dalam beberapa bulan terakhir, banyak hal telah dikatakan dan ditulis mengenai tata kelola FIFA, transparansi, proses pengambilan keputusan, serta mekanisme pengawasan dan keseimbangan kelembagaan,” kata Sheikh Salman.
“Kita harus mempertimbangkan apakah badan-badan yang ada saat ini memiliki tanggung jawab yang cukup jelas, apakah pembagian kewenangan di antara mereka sudah tepat, serta apakah mekanisme pengawasan dan keseimbangan yang diperlukan dapat berjalan secara efektif, baik dalam praktik maupun secara tertulis,” jelasnya.
Menurutnya, FIFA dan enam konfederasi yang berada di bawahnya memiliki sumber daya serta pengalaman yang cukup untuk menjalankan proses evaluasi tersebut tanpa harus menyerahkannya kepada pihak luar.
“Ada banyak pengalaman dan keahlian yang relevan di dalam konfederasi maupun FIFA sendiri, dan saya meyakini proses ini seharusnya digerakkan oleh institusi sepak bola itu sendiri, bukan diserahkan kepada pihak eksternal,” ujarnya.
AFC Mulai Ambil Jalan Tengah
Sikap terbaru Sheikh Salman menjadi penting karena posisi negara-negara anggota AFC sendiri sebelumnya tidak sepenuhnya seragam dalam menghadapi kontroversi Infantino.
Sejumlah federasi anggota justru memberikan dukungan kepada Presiden FIFA. Persatuan Federasi Sepak Bola Arab (UAFA), yang menaungi 22 federasi negara Arab, misalnya, telah menyatakan dukungannya kepada Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027.
Di sisi lain, terdapat pula federasi yang menuntut adanya perubahan dan evaluasi terhadap tata kelola FIFA.
Situasi tersebut membuat pendekatan Sheikh Salman kali ini dapat dibaca sebagai upaya mencari titik temu. Alih-alih langsung mendorong pergantian kepemimpinan atau membongkar struktur FIFA, ia menawarkan evaluasi terhadap mekanisme yang sudah ada.
Usulan itu juga berbeda dengan sikap yang sebelumnya disampaikan bersama UEFA dan Concacaf, yang menginginkan proses peninjauan dilakukan oleh pihak ketiga yang sepenuhnya independen.
Sementara itu, Infantino sendiri sebelumnya telah menyatakan terbuka terhadap pembahasan reformasi tata kelola FIFA. Ia mengusulkan kemungkinan dilakukannya peninjauan eksternal independen serta konsultasi dengan konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan lainnya.
Usulan Sheikh Salman muncul hanya sekitar sepekan sebelum rapat Dewan FIFA di Zurich pada 15 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut akan menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan arah pembahasan reformasi FIFA setelah kontroversi FFE. Agenda tata kelola dan tinjauan keuangan FIFA juga akan menjadi bagian dari pembahasan.
Tekanan terhadap Infantino belum sepenuhnya mereda. Sejumlah pihak masih meminta adanya perubahan kepemimpinan, sementara yang lain memilih mendorong reformasi sistem tanpa harus mengganti presiden FIFA.
Di tengah situasi tersebut, posisi Infantino untuk sementara masih cukup kuat. Ia sebelumnya menjadi satu-satunya kandidat yang telah menyatakan maju dalam pemilihan Presiden FIFA 2027. Namun, perkembangan terbaru membuat peta persaingan mulai berubah setelah mantan pemain Tottenham Hotspur, Ramon Vega, menyatakan niat untuk menantang Infantino.
Dengan demikian, surat Sheikh Salman tidak hanya menjadi sinyal perubahan sikap AFC terhadap Infantino. Surat tersebut juga berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan bagaimana FIFA merespons tuntutan reformasi menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Sumber: The Athletic
