Sedih, tapi Anthony Hudson Bangga 10 Pemain Thailand Nyaris Permalukan Indonesia di SUGBK

SKOR.id - Pelatih Timnas Thailand, Anthony Hudson, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya pasca pasukan Gajah Perang gagal juara FIFA ASEAN Cup 2026™.
Tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026) malam, para pemain Thailand sejatinya mampu memberi perlawanan sengit kepada tuan rumah Indonesia.
Mereka sempat tertinggal oleh gol Dean James pada menit ke-84, tapi segera menyamakannya lewat aksi Iklas Sanron, tiga menit berselang.
Hebatnya, itu dilakukan setelah mereka kehilangan Nicholas Mickelson yang menerima kartu kuning kedua.
Pada babak tambahan, karena duel sama kuat 1-1 sepanjang waktu normal, Thailand bahkan mampu balik memimpin di menit ke-111 via Peeradon Chamratsamee.
Sayang, keunggulan tersebut hanya bertahan lima menit setelah Elkan Baggott menyelamatkan asa Indonesia.
Memasuki adu penalti, Thailand akhirnya tumbang menyusul dua penendang, Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya, gagal menunaikan tugas. Mereka pun kalah 2-4.
Baca Juga: John Herdman Sebut Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Pencapaian Terbaiknya
"Selamat yang sebesar-besarnya untuk Indonesia. Mereka jelas merupakan tim yang sedang bergerak ke arah yang tepat. Mereka memiliki skuad yang sangat tangguh dan saya mengucapkan selamat kepada mereka," kata Anthony Hudson usai laga.
"Secara pribadi, saya merasa sangat sedih. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan betapa sulitnya momen ini. Namun, saya juga harus mengatakan bahwa saya benar-benar bangga kepada para pemain atas apa yang mereka berikan di pertandingan ini, semangat yang mereka tunjukkan, serta bagaimana mereka merespons ketika harus bermain dengan 10 pemain."
"Saya rasa tidak ada yang perlu disalahkan. Mereka tidak mungkin bisa memberikan lebih dari apa yang sudah mereka berikan," tambahnya.
Pelatih berkebangsaan Inggris tersebut mengungkapkan bahwa timnya memang kesulitan ketika tampil dengan 10 pemain.
Mereka harus memutar otak untuk menemukan cara bagaimana meredam agresivitas Indonesia sembari tetap memberi ancaman lewat serangan balik.
Strategi yang diterapkan Hudson nyaris berbuah manis jelang peluit panjang. Tapi, pada akhirnya, Dewi Fortuna belum memihak kepada Thailand.
"Ketika kami kehilangan satu pemain, kami harus menemukan cara agar tetap berada dalam pertandingan, tetapi juga tetap memiliki ancaman dalam menyerang," ujarnya.
"Kami melakukan perubahan sebanyak dua kali karena situasinya berubah, dan kami mencoba pendekatan yang berbeda. Saya memberikan kredit penuh kepada para pemain karena mereka berani dan mampu membawa kami kembali ke pertandingan," dia melanjutkan.
Ketika Peeradon Chamratsamee mencetak gol kejutan, seluruh tim diliputi optimisme. Namun, saat pertandingan akhirnya harus ditentukan adu penalti, kekhawatiran mulai melanda.
Ya, skuad Thailand saat itu sudah dirundung kelelahan. Faktanya, semua pergantian pemain yang mereka lakukan bukan untuk taktikal, tapi dipaksa keadaan.
"Semua pergantian terjadi karena cedera atau kondisi pemain. Ada pemain yang mengalami masalah pada tulang rusuk, kram, dan berbagai masalah lainnya. Jadi, hampir tidak ada pergantian yang benar-benar bersifat taktis," tutur Hudson.
"Ketika pertandingan akhirnya ditentukan melalui adu penalti, para pemain sudah sangat kelelahan karena bermain dengan 10 orang. Mereka sudah memberikan semuanya."
"Oleh karena itu, kami mendatangi para pemain satu per satu dan bertanya, 'Apakah kamu merasa nyaman untuk mengambil penalti? Seberapa percaya diri kamu?' Dari situ, kami menentukan daftar penendang seperti yang kami pilih," lanjutnya.
Dan, memang, dua eksekutor akhirnya gagal. Namun, Anthony Hudson enggan mengambinghitamkan Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya.
Perjuangan yang mereka perlihatkan sepanjang waktu normal layak diapresiasi, apalagi hampir menang dengan 10 pemain.
"Dari sudut pandang saya, tidak ada yang perlu disalahkan, terutama pemain yang gagal mengeksekusi penalti. Mereka memberikan hati dan jiwa mereka untuk tim," kata mantan asisten pelatih Timnas Amerika Serikat itu.
"Tang, Nat, dan pemain-pemain lainnya memberikan segalanya untuk tim. Kami tidak akan berada di posisi ini tanpa pemain-pemain seperti mereka," tegasnya.
FIFA ASEAN Cup 2026™, yang didukung Coca-Cola sebagai salah satu sponsor utama, merupakan turnamen elite perdana di Asia Tenggara yang dicap resmi oleh FIFA.
Seandainya mampu mempermalukan Indonesia, skuad Thailand asuhan Hudson akan mengukir sejarah sebagai juara edisi pertama, sekaligus menegaskan status mereka sebagai Raja ASEAN.
Sayang, keterbatasan membuat ambisi tersebut gagal terwujud.
