Penerapan Sistem Home and Away di IBL Dorong Pertumbuhan Basket Indonesia

SKOR.id - Transformasi kompetisi bola basket Indonesia, IBL, sejalan dengan pesan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, di Indonesia Sports Summit 2026.
Erick mengatakan bahwa pengembangan kompetisi olahraga profesional perlu dilihat sebagai sebuah investasi jangka panjang untuk membangun industri dan ekosistem olahraga yang berkelanjutan, bukan semata-mata sebagai biaya penyelenggaraan.
Hal tersebut yang diusahakan oleh IBL dalam beberapa tahun terakhir, mengubah mindset para pelaku olahraga bola basket tanah air.
Direktur Utama IBL, Junas Miradiarsyah, menjelaskan transformasi liga dilakukan secara bertahap.
Baca Juga: Atlet dan Klub Juara Berbagi Resep Sukses di Champions Stage Indonesia Sports Summit 2026
Baca Juga: Lewat Indonesia Sports Summit 2026, Erick Thohir Dorong Agar Olahraga Dijadikan Investasi
Tahun 2020 menjadi titik awal bagi IBL dalam membangun fondasi baru kompetisi profesional, mulai dari penguatan tata kelola jadwal, arah transisi klub berbasis kota, komersial hingga pengembangan ekosistem liga.
Fondasi tersebut kemudian memasuki fase revolusi pada 2023, ketika IBL mulai menerapkan format home and away.
Perubahan ini memberikan kesempatan kepada klub untuk bermain di kandang masing-masing sekaligus membangun pasar, basis penggemar, dan identitas yang lebih kuat di daerah.
Transformasi itu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan penonton IBL dan tentunya basis massa para klub.
“Penonton naik 400 persen dari format series ke format home and away. Ini merupakan indikator bahwa insyaallah kita sudah mengarah ke yang lebih tepat,” ujar Junas.
Menurutnya, perubahan tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari investasi untuk membangun nilai kompetisi dalam jangka panjang.
Penyelenggaraan pertandingan di berbagai kota memberikan ruang lebih besar bagi klub untuk mengembangkan fanbase, memperkuat engagement dengan komunitas lokal, serta menciptakan peluang komersial di pasar masing-masing.
Sekali lagi, pandangan tersebut sejalan dengan pesan Menpora RI di ISS 2026 mengenai pentingnya melihat pengembangan olahraga sebagai investasi, bukan sekadar biaya.
Investasi terhadap kompetisi dan ekosistem diharapkan dapat menciptakan nilai yang semakin besar bagi klub, atlet, sponsor, penggemar, hingga industri olahraga nasional.
Skala kompetisi IBL pun berkembang. Perubahan tersebut membuat pertandingan hadir lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memberikan kesempatan kepada klub untuk mengembangkan potensi di kota masing-masing.
Potensi untuk mengembangkan ekosistem tersebut dinilai sangat besar. Berdasarkan data yang dipaparkan Junas, tingkat ketertarikan terhadap basket di kalangan anak muda Indonesia berada di atas 80 persen.
“Ini adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan bersama-sama,” kata Junas.
Dengan potensi tersebut, investasi yang dilakukan saat ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan kompetisi dalam jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi industri basket yang semakin kuat dan berkelanjutan.
