FIFA Balik Serang UEFA, Tuduh Lakukan Kampanye Hitam terhadap Gianni Infantino

SKOR.id — Perseteruan antara FIFA dan UEFA memasuki babak baru. FIFA balik menuding badan sepak bola Eropa tersebut melakukan kampanye hitam terhadap organisasi dan Presiden FIFA Gianni Infantino terkait polemik rencana investasi komersial yang kini telah dibatalkan.
Konflik ini bermula dari proyek Fifa Forward Enterprise (FFE), sebuah skema yang sempat dirancang untuk mendatangkan investasi swasta dalam jumlah besar ke FIFA. Rencana tersebut kemudian dihentikan setelah memicu kontroversi di kalangan sepak bola dunia.
Pekan lalu, UEFA mengambil langkah hukum di Amerika Serikat. Mereka meminta pengadilan membuka akses terhadap sejumlah bukti dan dokumen FIFA sebagai bagian dari upaya yang berpotensi berkaitan dengan proses pidana di Swiss.
UEFA bahkan melontarkan tuduhan serius kepada Infantino. Mereka menyebut adanya dugaan kesalahan pengelolaan secara kriminal serta menilai harga yang ditawarkan dalam skema tersebut berada di luar mekanisme pasar dan berpotensi menguntungkan pihak tertentu.
Baca Juga: Melihat Rekor Chelsea yang Lepas 39 Pemain Musim Panas Ini
Baca Juga: Deretan Bantuan FIFA yang Bantu Perkuat Pertumbuhan Sepak Bola Indonesia
FIFA kemudian merespons melalui dokumen hukum yang diajukan ke pengadilan Amerika Serikat. Badan sepak bola dunia itu meminta agar permintaan UEFA untuk mengakses dokumen ditunda atau ditolak hingga akhir September.
Dalam dokumen tersebut, FIFA menilai langkah UEFA memiliki kelemahan mendasar.
“UEFA berupaya memperoleh dokumen untuk mendukung proses pidana di luar negeri yang sebenarnya tidak ada dan yang diakui sendiri oleh UEFA tidak memiliki kewenangan untuk memulainya,” tulis FIFA dalam dokumen pengadilan, seperti dikutip BBC.
FIFA juga menegaskan bahwa FFE sejak awal hanyalah sebuah proposal. Proyek tersebut, menurut FIFA, tidak bisa berjalan tanpa dukungan mayoritas asosiasi anggota dan persetujuan dari Dewan FIFA.
Alih-alih mengikuti proses tersebut, FIFA menilai UEFA memilih menyerang organisasi melalui pernyataan publik.
“Alih-alih berpartisipasi dalam proses demokratis tersebut, UEFA mengeluarkan siaran pers—yang menjadi awal dari kampanye hitam selama berminggu-minggu terhadap FIFA dan kepemimpinannya,” lanjut FIFA.
FIFA kemudian membawa persoalan tersebut ke ranah yang lebih luas. Mereka menilai UEFA memiliki kepentingan ekonomi untuk mempertahankan dominasi sepak bola Eropa.
FIFA mengeklaim penguatan sepak bola di negara-negara berkembang dapat meningkatkan persaingan global dan pada akhirnya mengurangi kekuatan pasar UEFA.
“Jika sepak bola di negara-negara berkembang semakin kuat, persaingan global akan meningkat. Hal tersebut pada akhirnya mengurangi kekuatan pasar UEFA dan menciptakan lebih banyak persaingan bagi turnamen andalan mereka,” kata FIFA.
Menurut FIFA, FFE justru dirancang untuk membantu negara-negara anggota yang lebih kecil mendapatkan dukungan finansial lebih besar.
Tambahan pendanaan itu diharapkan membuat negara-negara tersebut mampu mengembangkan kompetisi domestik dan mempertahankan lebih banyak pemain berbakat agar tidak seluruhnya berkarier di luar negeri.
Dalam proses hukumnya, UEFA juga meminta pengadilan New York memerintahkan pengungkapan dokumen dan kesaksian dari investor Amerika Serikat, Joshua Kushner, serta perusahaannya, Thrive Eternal.
Kushner sebelumnya diproyeksikan menjadi investor utama dalam proyek FFE. Perusahaannya sempat berdiskusi dengan Infantino mengenai investasi senilai 4,2 miliar dolar AS untuk mengambil 20 persen saham di sebuah anak perusahaan komersial baru FIFA.
Rencana tersebut akhirnya ditinggalkan hanya beberapa hari setelah terungkap ke publik pada Juli dan memicu penolakan besar.
Saat proyek tersebut masih diperkenalkan, FIFA mengklaim FFE berpotensi meningkatkan dana yang diterima setiap asosiasi nasional untuk periode 2027-2030 dari 5,9 juta poundsterling menjadi 14,7 juta poundsterling.
Kushner pada Minggu (30/8/2026) juga menyatakan penyesalannya karena terlibat dalam proyek tersebut.
“Meski kami tetap mendukung motivasi di balik FFE, kami gagal memahami dinamika politik sepak bola global dan sejauh mana beberapa pihak akan bertindak. Seandainya kami mengetahui sejak awal akan berkembang seperti ini, kami tidak akan terlibat,” ujar Kushner.
UEFA juga meminta dokumen dari Greg Maffei, investor asal Amerika Serikat yang menjadi salah satu penasihat penting dalam kesepakatan tersebut.
Meski begitu, UEFA menyatakan Kushner dan Maffei tidak diperkirakan menjadi terdakwa dalam proses hukum apa pun.
UEFA mengklaim konsep FFE pertama kali dibahas oleh Kushner dan Maffei pada Juli 2025. Mereka juga menyebut Infantino telah membicarakan konsep tersebut dengan Kushner selama hampir satu tahun sebelum persyaratan kesepakatan akhirnya ditandatangani.
UEFA Persoalkan Nilai Piala Dunia
Salah satu poin utama yang dipermasalahkan UEFA adalah valuasi terhadap aset komersial FIFA.
UEFA menilai nilai Piala Dunia sengaja dipatok terlalu rendah, yakni sekitar 15 miliar poundsterling.
Menurut UEFA, angka tersebut tidak berasal dari proses lelang terbuka dan kompetitif serta tidak pernah diuji oleh penilai independen.
UEFA juga mengeklaim Infantino tidak berkonsultasi secara memadai dengan struktur kepemimpinan FIFA sebelum menjalankan rencana tersebut.
Sejauh ini, UEFA memilih tidak memberikan komentar atas respons terbaru FIFA. Namun, sumber internal yang dikutip BBC Sport disebut meyakini bahwa jika FIFA memang tidak memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan, organisasi tersebut seharusnya membuka dokumen-dokumen yang dipersoalkan dan mempercepat proses hukum.
Perseteruan ini menjadi semakin serius karena UEFA kini berada di barisan terdepan dalam kritik terhadap kepemimpinan Infantino. Presiden FIFA tersebut bahkan menghadapi desakan untuk mundur dari tiga konfederasi sepak bola.
Dengan kedua pihak kini saling berhadapan melalui jalur hukum, polemik FFE berpotensi menjadi salah satu konflik terbesar yang mengguncang kepemimpinan FIFA dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber: BBC
