Home > National

Obituari Iwan Setiawan: Dijuluki Jose Mourinho-nya Indonesia, Buat Sepak Bola Indonesia Lebih Berwarna

Pelatih lokal berpengalaman Iwan Setiawan meninggal dunia pada Kamis (3/9/2026).
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Pelatih Iwan Setiawan tutup usia pada Kamis (3/9/2026). (Foto: Dok. Instagram Iwan Setiawan/Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id) 
Pelatih Iwan Setiawan tutup usia pada Kamis (3/9/2026). (Foto: Dok. Instagram Iwan Setiawan/Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)

SKOR.id – Sepak bola Indonesia kembali kehilangan salah satu pelatih lokal yang telah mewarnai perjalanan kompetisi selama puluhan tahun. Iwan Setiawan terkonfirmasi meninggal dunia pada Kamis (3/9/2026) pagi WIB.

Kabar kepergian Iwan menghadirkan duka mendalam bagi sepak bola Indonesia. Dia bukan sekadar pelatih yang berpindah dari satu klub ke klub lainnya. Iwan adalah karakter. Sosok yang kehadirannya kerap terasa bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Bagi sebagian pencinta sepak bola Indonesia, nama Iwan Setiawan mungkin akan selalu dikenang bersama pernyataan-pernyataan berani, kepercayaan diri yang tinggi, dan psywar yang kerap menghiasi pemberitaan menjelang pertandingan.

Karakter itulah yang kemudian membuatnya mendapat julukan “Jose Mourinho-nya Indonesia”.

Baca Juga: Super League 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen

Baca Juga: Gabung Java United, Ini Target Gustavo Almeida

Seperti Mourinho, Iwan memahami bahwa pertandingan sepak bola tidak hanya dimainkan selama 90 menit di atas lapangan. Perang psikologis, permainan kata-kata, dan keberanian berhadapan dengan tekanan menjadi bagian dari caranya menjalani profesi sebagai pelatih.

Namun, di balik sosok yang kerap menjadi sorotan karena komentarnya, ada perjalanan panjang seorang pelatih lokal yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk sepak bola.

Hampir Tiga Dekade di Pinggir Lapangan

Iwan lahir di Medan, Sumatera Utara, 5 Juli 1958. Ia memulai perjalanan kepelatihannya pada 1997 bersama Persija Junior.

Dari sana, kariernya berkembang ke berbagai penjuru Indonesia. Persikabo Bogor, Persija Jakarta, Persijatim Solo FC, Persekaba Badung, hingga Timnas U-17 Indonesia pernah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Ia kemudian melatih Persibom Bolaang Mongondow, PSMS Medan, kembali ke Persija, hingga menangani Borneo FC dan Persela Lamongan.

Nama Iwan juga pernah menghiasi bangku pelatih Persebaya Surabaya pada 2017. Setelah itu, ia kembali menangani Borneo sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah klub lain, termasuk Persidi Idi, Persela, Serpong City, PS Siak, dan Persibo Bojonegoro.

Pada 2026, dia sempat menangani Persema Malang sebelum mendapat tantangan bersama Sriwijaya FC.

Bersama Sriwijaya FC, Iwan menghadapi salah satu tantangan terberat dalam kariernya.

Ia datang ketika Laskar Wong Kito sedang terpuruk dan membutuhkan sosok yang mampu mengangkat performa tim di tengah persaingan Championship 2025-2026 yang ketat.

Namun, upayanya belum cukup untuk menyelamatkan Sriwijaya FC dari degradasi.

Hasil tersebut tentu menjadi bagian dari catatan terakhir perjalanan kepelatihannya. Tetapi sepak bola tidak pernah hanya berbicara mengenai menang atau kalah.

Ada perjalanan. Ada keberanian untuk menerima tantangan. Dan ada kesetiaan untuk terus berdiri di pinggir lapangan ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Iwan memilih jalan itu selama bertahun-tahun.

Ada pelatih yang dikenang karena trofi. Ada pula yang dikenang karena filosofi permainan.

Iwan Setiawan mungkin akan dikenang dengan cara yang berbeda. Dia dikenang karena karakternya.

Pernyataannya menjelang pertandingan sering menjadi bahan perbincangan. Tidak jarang komentar Iwan memanaskan atmosfer pertandingan bahkan sebelum kedua tim bertemu.

Bagi lawan, psywar itu bisa terasa mengganggu. Bagi pendukungnya, keberanian tersebut justru menjadi hiburan sekaligus bentuk kepercayaan diri.

Di situlah Iwan menjadi sosok yang unik. Dia tidak pernah benar-benar menjadi figur yang mudah dilupakan.

Ketika sepak bola Indonesia semakin dipenuhi pelatih asing, Iwan tetap menjadi salah satu nama lokal yang bertahan dan terus mendapatkan kepercayaan untuk menangani klub. Sekadar informasi, dia adalah salah satu pelatih Indonesia angkatan pertama yang mendapatkan lisensi AFC Pro.

Ia melewati pergantian generasi pemain, perubahan format kompetisi, naik-turunnya klub, hingga kerasnya tuntutan suporter. Dan ia tetap kembali ke lapangan.

Kepergian Iwan Setiawan adalah kehilangan bagi ekosistem sepak bola Indonesia yang telah menyaksikan perjalanan panjangnya.

Hampir tiga dekade berada di dunia kepelatihan membuat Iwan menjadi bagian dari sejarah sepak bola nasional.

Mungkin tidak semua musim berakhir dengan trofi. Tidak semua klub yang ditanganinya mencapai target. Tidak semua pernyataannya diterima dengan senyuman.

Tetapi satu hal sulit dibantah: Iwan Setiawan selalu memberikan warna.

Selamat jalan, coach Iwan Setiawan.

× Image