Home > World

Bawa Pesan FIFA, PSSI Minta Fans Sampaikan Kritik Tanpa Ujaran Kebencian

PSSI serukan program FIFA Social Media Protection Service untuk melindungi para pemain hingga tim dari ujaran kebencian di media sosial.
Image
Pradipta Indra Kumara Editor : Pradipta Indra Kumara
FIFA memiliki program untuk melindungi para pemain dari ujaran kebencian di media sosial. (Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id)
FIFA memiliki program untuk melindungi para pemain dari ujaran kebencian di media sosial. (Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id)

SKOR.id - Maraknya komentar negatif dan pelecehan secara daring (online), membuat FIFA melakukan inisiatif untuk melindungi para pesepak bola, hingga tim.

FIFA Social Media Protection Service menjadi program andalan badan tertinggi sepak bola dunia tersebut untuk memerangi kekerasan yang terjadi di media sosial.

Pesan dari FIFA ini juga diharapkan oleh PSSI agar dapat diterapkan, khususnya oleh fans sepak bola Indonesia, untuk menghindari ujaran kebencian di media sosial.

Mengenal Apa Itu FIFA Social Media Protection Service?

Baca Juga: Liga Inggris 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: La Liga 2026-2027: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Social Media Protection Service melindungi para pemain, tim, dan staf tim dari pelecehan online. Langkah ini diambil agar menjaga media sosial mereka bebas dari ujaran kebencian, dan memungkinkan mereka menikmati partisipasi dalam setiap agenda FIFA.

Upaya ini juga akan mencegah para pengikut mereka di media sosial terpapar komentar yang bersifat kasar, diskriminatif, dan mengancam.

Pencegahan ini bertujuan, agar hal-hal negatif di media sosial seperti itu tidak dinormalisasi.

Mengapa FIFA Menyediakan Layanan Ini?

Upaya ini muncul setelah adanya laporan independen menggunakan kecerdasan buatan, melacak ada lebih dari 400 ribu unggahan di media sosial selama semifinal Euro 2020 dan Piala Afrika 2021.

Laporan tersebut mengidentifikasi bahwa lebih dari 50 persen pemain menerima beberapa bentuk pelecehan diskriminatif yang menyebabkan kerugian bagi mereka dan pengikut mereka.

Sejak Piala Dunia 2022, program ini telah berlangsung di berbagai ajang resmi FIFA, termasuk pada Piala Dunia U-17 2023 yang berlangsung di Indonesia, hingga ajang Piala Dunia Wanita 2023.

Sejak 2024, setiap pemain dari 211 anggota asosiasi FIFA, dapat mengakses Social Media Protection Service, tak hanya di ajang Piala Dunia.

Dalam unggahanya sebanyak 30 juta lebih komentar berbahaya telah dihapus, selain itu lebih dari 11 juta komentar disembunyikan dari tampilan publik.

Upaya tersebut tak hanya melindungi para pemain, tetapi juga keluarga, teman, hingga pengikut mereka agar tak melihatnya di media sosial.

PSSI Ingin Stop Perundungan di Media Sosial

Pesan FIFA terkait penghentian ujaran kebencian di media sosial, relevan dengan sepak bola Indonesia. Kegagalan melaju ke semifinal Piala AFF 2026, memicu hujatan dan serangan personal di media sosial.

Meski mengecewakan, tetapi tak bisa menjadi pembenaran untuk penghinaan dan perundungan, bahkan hingga menyebarkan data pribadi dan ancaman terhadap keluarga pemain.

Situasi yang sempat dialami bek Timnas Indonesia, Justin Hubner beserta keluarganya dan beberapa pemain lain, menjadi bukti bahwa kekecewaaan di lapangan dapat berubah menjadi bahaya nyata jika tak dikendalikan.

PSSI melalui Ketua Umum, Erick Thohir, dan Sekjen, Yunis Nusi, menyampaikan keprihatinan terkait ujaran kebencian dan ancaman yang menyasar Justin Hubner beserta keluarga, dan meminta agar kritik tak menjadi serangan personal.

“Kami mengakui bahwa hasil di Piala AFF 2026 belum memenuhi harapan. Namun, evaluasi harus dilakukan dengan kepala dingin dan tanggung jawab, bukan melalui kebencian. Pemain boleh dikritik secara sportif, tetapi martabat dan keselamatan mereka—termasuk keluarga—harus tetap dihormati. Kekalahan bukan alasan untuk membenarkan kebencian," ujar Yunus Nusi di Jakarta pekan lalu.

Dukungan publik yang sehat tak berarti menutup ruang kritik. Kritik yang disampaikan seharusnya berdasarkan permainan, keputusan, dan proses yang dapat dievaluasi, bukan menghukum pemain secara pribadi di ruang digital.

Kompetisi I.League 2026-2027 kususnya melalui Super League dan Championship 2026-2027 diharapkan menjadi momentum kebangkitan.

PSSI mengajak pencinta sepak bola nasional untuk mengubah kekecewaan menjadi dukungan yang bermartabat.

PSSI juga meminta suporter untuk menolak dan melaporkan konten yang mengandung ujaran kebencian, perundungan, doxing, hingga ancaman di media sosial, dengan cara tidak ikut menyebarluaskan.

"Saya berharap dukungan kepada pemain tidak berhenti ketika hanya berseragam Timnas. Dukungan juga saat mereka bersama klub masing-masing. Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian. Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepakbolanya," pungkas Yunus Nusi.

× Image