Home > World

Buat Surat Terbuka, AFC, UEFA, dan Concacaf Kompak Serang FIFA

Tiga konfederasi sepak bola dunia, AFC, UEFA, dan Concacaf, mengambil sikap bersama terkait persoalan tata kelola di tubuh FIFA.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Ilustrasi FIFA. (Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id)
Ilustrasi FIFA. (Grafis: Dede Sopatal Mauladi/Skor.id)

SKOR.id – Tiga konfederasi sepak bola dunia, AFC, UEFA, dan Concacaf, mengambil sikap bersama terkait persoalan tata kelola di tubuh FIFA.

Melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada seluruh keluarga sepak bola, Senin (10/8/2026), ketiganya menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh menjadi milik atau berada di bawah kendali satu individu maupun satu institusi.

AFC, UEFA, dan Concacaf menilai perkembangan sepak bola dunia dalam satu dekade terakhir merupakan hasil kerja kolektif. FIFA, konfederasi, asosiasi anggota, klub, pemain hingga berbagai pihak yang bekerja untuk sepak bola disebut memiliki peran dalam membangun perkembangan tersebut.

Karena itu, keberhasilan seperti perluasan turnamen, penetapan tuan rumah Piala Dunia FIFA 2030 dan 2034, hingga distribusi sumber daya kepada asosiasi anggota tidak seharusnya diklaim sebagai pencapaian satu pihak.

Baca Juga: Piala AFF 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: SUGBK dan Si Jalak Harupat Jadi Venue FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia

“Pertumbuhan selama satu dekade terakhir memang nyata. Namun, kemajuan tersebut tidak pernah merupakan hasil kerja satu individu,” demikian inti pernyataan dalam surat terbuka tersebut.

Ketiga konfederasi juga berusaha menegaskan bahwa sikap mereka bukan didorong persoalan finansial.

Mereka bahkan menyebut telah menyerukan agar cadangan dana FIFA yang besar dapat didistribusikan secara bertanggung jawab untuk memperkuat investasi dalam pengembangan asosiasi anggota.

Persoalan yang mereka soroti jauh lebih fundamental, yakni menyangkut integritas sepak bola dan mereka yang mendapat mandat untuk memimpinnya.

Dalam surat tersebut, kepemimpinan sepak bola dipandang sebagai bentuk pengabdian, bukan sebuah kekuasaan yang dapat dimiliki atau dipertahankan untuk kepentingan pribadi.

AFC, UEFA, dan Concacaf juga menyoroti proses pengambilan keputusan yang mereka nilai bermasalah. Mereka merujuk pada surat FIFA kepada para Wakil Presiden dan 211 asosiasi anggota yang mengakui adanya kesalahan dalam proses sebelumnya.

Namun, menurut ketiga konfederasi, persoalan tersebut tidak cukup disebut sebagai sekadar kegagalan komunikasi.

Mereka menilai proposal yang diajukan dalam waktu yang sangat singkat, tanpa konsultasi bermakna dan sebelum asosiasi anggota memiliki kesempatan yang cukup untuk mempelajari seluruh ketentuannya, menunjukkan adanya persoalan dalam proses pengambilan keputusan.

Lebih jauh, ketiganya mempertanyakan gagasan untuk menjual kepentingan terkait Piala Dunia FIFA. Menurut mereka, langkah tersebut bukan hanya persoalan prosedur, tetapi menyangkut kepercayaan terhadap institusi FIFA.

“Ini bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan dengan institusi-institusi yang justru menjadi alasan FIFA hadir untuk melayani mereka,” tegas mereka dalam surat tersebut.

Sorotan juga diarahkan terhadap rencana FIFA melakukan peninjauan internal atas rangkaian peristiwa tersebut.

FIFA sebelumnya menyatakan akan menyampaikan laporan lengkap mengenai kejadian itu kepada Dewan FIFA. Namun, AFC, UEFA, dan Concacaf menilai pemeriksaan terhadap persoalan serius semacam ini seharusnya dilakukan oleh pihak ketiga yang benar-benar independen.

Mereka bahkan menilai administrasi FIFA tidak seharusnya memiliki peran dalam proses peninjauan tersebut.

“Peninjauan harus dilakukan oleh pihak ketiga yang sepenuhnya independen, bukan oleh FIFA sendiri, stafnya, atau pihak mana pun yang memiliki kepentingan di dalam sepak bola,” tulis ketiga konfederasi.

Persoalan lain yang ikut disoroti adalah pertemuan kepemimpinan FIFA di Maroko.

Berdasarkan surat FIFA yang mereka rujuk, hanya satu pejabat terpilih yang hadir dalam pertemuan tersebut. Tidak ada anggota Dewan FIFA maupun asosiasi anggota yang diundang untuk berpartisipasi.

Yang hadir disebut merupakan komite manajemen yang terdiri dari staf senior FIFA.

Pertemuan berikutnya juga dianggap semakin memperkuat kekhawatiran tersebut. Sejumlah anggota Komite Manajemen FIFA disebut dipanggil ke luar negeri, bukan para pimpinan yang datang ke Zurich untuk berhadapan langsung dengan persoalan di pusat organisasi tersebut.

Bagi AFC, UEFA, dan Concacaf, pola seperti itu memperlihatkan persoalan tata kelola yang tidak bisa lagi dianggap sepele.

Mereka menilai sepak bola membutuhkan kepemimpinan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan kepemimpinan yang menciptakan jarak dengan pihak-pihak yang menjadi bagian dari ekosistem olahraga tersebut.

“Ini bukanlah perilaku seorang penjaga permainan, melainkan seseorang yang merasa bahwa permainan harus bertanggung jawab kepadanya,” demikian pernyataan mereka.

Meski menyampaikan kritik keras, ketiga konfederasi menegaskan bahwa langkah tersebut bukan dilakukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Mereka mengaku mengambil sikap secara bersama-sama karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap sepak bola.

Bagi mereka, kekuatan sepak bola selama ini justru lahir dari persatuan seluruh elemennya.

Karena itu, AFC, UEFA, dan Concacaf menyerukan agar prinsip tersebut tetap dijaga, termasuk dalam menentukan seperti apa kepemimpinan sepak bola dunia ke depan.

Pesan mereka pun ditutup dengan penegasan yang menjadi inti dari surat terbuka tersebut.

“Karena itulah kami mengambil sikap ini: Bukan dengan mudah dan bukan seorang diri, melainkan bersama-sama, serta sebagai bentuk tanggung jawab terhadap permainan yang kami layani. Kekuatan sepak bola selama ini selalu terletak pada persatuannya. Kini kami menyerukan agar persatuan tersebut dihormati, demi kepemimpinan yang melayani sepak bola, bukan berusaha menguasainya,” pungkas surat yang ditandatangani Presiden dan Sekjen AFC, Concacaf, dan UEFA itu.

Sumber: AFC

× Image