Home > Liga TopSkor

Jacksen F. Tiago: Liga TopSkor Ikut Jadi Pilar Pembinaan Pemain, Borneo FC dan Kaltim Berburu Talenta Muda

Pelatih senior Jacksen F. Tiago memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Liga TopSkor yang telah konsisten menggelar kompetisi usia muda selama 15 tahun.
Image
nizar galang Editor : Nizar Galang
Jacksen F. Tiago (kanan) bersama Direktur Liga TopSkor, M. Yusuf Kurniawan, saat menyaksikan pertandingan di TopSkor National Championship 2026 (TNC 2026), di Lapangan ATG, Sentul, Selasa (28/7/2026). (Eko Zulhar Kurniawan/Skor.id)
Jacksen F. Tiago (kanan) bersama Direktur Liga TopSkor, M. Yusuf Kurniawan, saat menyaksikan pertandingan di TopSkor National Championship 2026 (TNC 2026), di Lapangan ATG, Sentul, Selasa (28/7/2026). (Eko Zulhar Kurniawan/Skor.id)

SKOR.id - Pelatih senior Jacksen F. Tiago memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Liga TopSkor yang telah konsisten menggelar kompetisi usia muda selama 15 tahun.

Menurut sosok asal Brasil itu, kompetisi seperti Liga TopSkor ikut menjadi pilar penting dalam pembinaan sekaligus sumber lahirnya pemain-pemain berbakat.

Jacksen menyampaikan hal tersebut saat memantau TopSkor National Championship (TNC) 2026 di ATG Sentul, Selasa (28/7/2026). Ia hadir dalam kapasitasnya sebagai Direktur Akademi Borneo FC sekaligus Direktur Teknik Asprov PSSI Kalimantan Timur.

Bagi Jacksen, keberhasilan Liga TopSkor bertahan hingga 1,5 dekade menjadi bukti kompetisi usia muda yang berkelanjutan memiliki peran besar dalam membangun fondasi sepak bola nasional.

"Sudah jelas Liga TopSkor menjadi salah satu wadah yang konsisten, berkualitas, dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sepak bola Indonesia," kata Jacksen.

Tak sekadar memberi apresiasi, Jacksen mengungkapkan Borneo FC kini mulai aktif memanfaatkan Liga TopSkor sebagai salah satu tempat untuk mencari pemain-pemain muda potensial.

Menurut mantan pelatih Persipura Jayapura, Barito Putera, hingga Timnas Indonesia itu, kompetisi yang berlangsung secara rutin jauh lebih efektif dalam memantau perkembangan pemain dibandingkan seleksi sesaat.

"Karena itu, Borneo FC juga mencoba terlibat dalam kegiatan ini agar kami bisa menemukan bibit-bibit pemain berkualitas untuk membangun masa depan Borneo FC," ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Liga TopSkor kini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga telah berkembang menjadi ‘talent pool’ bagi klub-klub profesional dalam mencari pemain masa depan.

Jacksen bahkan berharap model pembinaan seperti Liga TopSkor bisa dikembangkan di Kalimantan Timur. Ia mengungkapkan telah melakukan komunikasi dengan KONI dan, sebagai Direktur Teknik Asprov PSSI Kalimantan Timur, tengah menyiapkan konsep kompetisi usia muda yang berkesinambungan.

"Kami sedang membangun sebuah wacana besar agar anak-anak Kalimantan Timur, bukan hanya dari Samarinda, memiliki wadah kompetisi tahunan. Pusat kegiatannya direncanakan di Samarinda, sehingga para pemain muda bisa menunjukkan kemampuan mereka dan memiliki kesempatan berkiprah di sepak bola, termasuk di luar Kalimantan Timur," kata Jacksen.

Menurutnya, keberadaan kompetisi reguler merupakan kebutuhan utama dalam proses pembinaan. Tanpa kompetisi yang berkesinambungan, perkembangan pemain muda akan sulit terukur.

Jacksen kemudian membandingkan sistem pembinaan di Indonesia dengan negara asalnya, Brasil. Ia menjelaskan klub-klub profesional di Brasil memiliki jaringan sekolah sepak bola sendiri sehingga proses pencarian bakat dilakukan langsung oleh klub melalui kompetisi internal.

Meski sistemnya berbeda, ia melihat Liga TopSkor menjalankan fungsi yang sama bagi Indonesia, yaitu menjadi wadah kompetitif yang mempertemukan pemain-pemain muda terbaik sebelum mereka direkrut klub profesional.

Karena itu, ia berharap semakin banyak daerah yang mengadopsi konsep pembinaan serupa agar kesempatan pemain muda untuk berkembang semakin luas. Hal itu sekaligus memperkuat mata rantai pembinaan sepak bola Indonesia dari level akar rumput hingga klub profesional.

× Image