Home > National

Perjalanan Timnas U-17 Lolos Piala Dunia Jadi Disertasi, Misi Sofie Imam Faizal Bangun Standar Fisik Pemain Muda Indonesia

Perjalanan mengawal Timnas U-17 Indonesia hingga lolos ke Piala Dunia U-17 2025 dijadikan Sofie Imam Faizal fondasi penelitian ilmiah untuk pembinaan sepak bola nasional.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Pelatih fisik Timnas U-20 Indonesia, Sofie Imam Faizal. (Foto: Dok. Sofie Imam Faizal/Grafis: Kevin Bagus Prinusa/Skor.id) 
Pelatih fisik Timnas U-20 Indonesia, Sofie Imam Faizal. (Foto: Dok. Sofie Imam Faizal/Grafis: Kevin Bagus Prinusa/Skor.id)

SKOR.id - Keberhasilan Tim Nasional (Timnas) U-17 Indonesia lolos ke Piala Dunia U-17 2025 tidak hanya menyisakan cerita tentang pencapaian di atas lapangan. Di balik keberhasilan Garuda Muda menembus panggung dunia, ada proses panjang yang kini ingin diabadikan dalam sebuah penelitian ilmiah oleh Pelatih Fisik Timnas U-20 Indonesia, Sofie Imam Faizal.

Sofie Imam Faizal adalah pelatih fisik yang mendampingi Timnas U-17 sepanjang periode 2024-2025, termasuk saat tampil di Piala Dunia U-17 2025 di Qatar pada 3-27 November 2025.

Sofie pun menjadikan pengalamannya itu sebagai bahan utama disertasi doktoralnya di Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Penelitian tersebut akan mengulas perubahan fisiologis pemain secara longitudinal selama menjalani proses pembinaan hingga tampil di kompetisi level dunia.

Bagi Sofie, setiap sesi latihan, pemusatan latihan, laga uji coba hingga pertandingan resmi bukan sekadar agenda tim nasional. Seluruh rangkaian itu merupakan laboratorium nyata untuk memahami bagaimana kualitas fisik pemain muda Indonesia dapat dibangun secara sistematis.

Baca Juga: Piala AFF 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap

Baca Juga: Piala Presiden 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen

“Selama mendampingi Timnas U-17 Indonesia, setiap sesi latihan, pemusatan latihan, pertandingan uji coba hingga kompetisi internasional menjadi bagian dari proses yang terus saya pelajari dan evaluasi. Tujuan kami sederhana, yaitu membantu setiap pemain mencapai kondisi fisik terbaiknya pada waktu yang tepat,” ujar Sofie.

Untuk mencapai target tersebut, staf pelatih menyusun program latihan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas aerobik, anaerobik, massa otot, sekaligus menurunkan persentase lemak tubuh. Seluruh proses dilakukan dengan mempertimbangkan fase pertumbuhan pemain yang masih berada pada usia remaja.

Menurut Sofie, setiap keputusan latihan selalu berangkat dari data hasil monitoring fisiologis yang dilakukan secara berkala.

“Kami ingin setiap keputusan dibuat berdasarkan data, bukan sekadar intuisi. Karena itu kami terus memantau komposisi tubuh, massa otot, persentase lemak hingga kapasitas aerobik pemain sepanjang proses persiapan,” katanya.

Sebelum bergabung bersama Timnas Indonesia, Sofie lebih dulu menimba pengalaman sebagai pelatih fisik di luar negeri. Pengalaman tersebut kemudian ia lanjutkan saat menjabat sebagai Head of Performance Persis Solo Youth Academy.

Dua pengalaman itu menjadi bekal penting ketika dipercaya PSSI bergabung dalam staf kepelatihan Timnas U-17 Indonesia di bawah arahan pelatih kepala Nova Arianto.

Perjalanan Garuda Muda sendiri dimulai dari finis di peringkat ketiga Piala AFF U-16, kemudian menjadi runner-up Kualifikasi Piala Asia U-17 di Kuwait. Performa tim terus meningkat saat tampil di Piala Asia U-17 dengan keluar sebagai juara grup, termasuk mencatat kemenangan bersejarah 1-0 atas Korea Selatan U-17 yang membuka jalan menuju Piala Dunia U-17 2025 di Qatar.

Di balik pencapaian tersebut, Sofie mengungkapkan bahwa seluruh agenda uji coba telah dirancang secara khusus melalui pendekatan competition block. Pemilihan lawan bukan dilakukan secara acak, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan tim agar pemain terbiasa menghadapi berbagai karakter permainan dunia.

Timnas U-17 menghadapi negara-negara Asia dengan karakter permainan yang mengandalkan kekuatan fisik dan intensitas tinggi. Di Eropa, Garuda Muda menguji kemampuan melawan Makedonia Utara, Skotlandia, Bulgaria, hingga Swiss yang memiliki gaya bermain berbeda-beda. Sementara di Afrika, Indonesia menghadapi Mali dan Pantai Gading yang terkenal dengan kekuatan fisik serta eksplosivitas pemainnya, sebelum juga menantang Paraguay sebagai representasi sepak bola Amerika Selatan.

“Setiap negara memiliki karakteristik fisiologis dan tuntutan permainan yang berbeda. Semakin banyak pengalaman menghadapi berbagai gaya bermain dunia, semakin baik pula kemampuan adaptasi fisik pemain Indonesia,” jelas Sofie.

Selama proses tersebut, tim pelatih melakukan pemantauan fisiologis secara longitudinal. Fokus utama pengukuran meliputi komposisi tubuh, terutama persentase lemak dan massa otot, serta kapasitas aerobik atau VO max.

Data dikumpulkan secara berkala pada setiap fase persiapan hingga kompetisi untuk melihat bagaimana tubuh pemain beradaptasi terhadap latihan maupun tuntutan pertandingan internasional.

Puncaknya terjadi ketika Indonesia tampil di Piala Dunia U-17 2025. Ketika itu, Mathew Baker dan kawan-kawan mampu meraih kemenangan 2-1 atas Honduras U-17 sebelum menghadapi Brasil U-17 dan Zambia U-17.

“Bagi saya, hasil pertandingan memang penting. Namun yang jauh lebih berharga adalah kesempatan melihat secara langsung bahwa pemain Indonesia mampu bersaing secara fisik dengan pemain-pemain terbaik dunia,” tutur Sofie.

Pengalaman itulah yang kini dibawa Sofie ke dunia akademik. Penelitian doktoralnya akan dibimbing Prof. Dr. Sapta Kunta Purnama, M.Pd. sebagai promotor dan Rumi Iqbal Doewes, S.Pd., M.Or., Ph.D. sebagai ko-promotor.

Melalui riset tersebut, Sofie berharap lahir standar fisiologis pemain elite muda Indonesia yang dapat menjadi acuan pembinaan di berbagai level, mulai dari akademi, Elite Pro Academy hingga tim nasional kelompok umur.

“Saya percaya sepak bola modern membutuhkan keputusan yang didasarkan pada data dan bukti ilmiah. Harapan saya, penelitian ini tidak berhenti sebagai disertasi, tetapi menjadi kontribusi nyata bagi pembinaan sepak bola Indonesia. Pada akhirnya, pengalaman panjang ini bisa menjadi warisan ilmu pengetahuan yang membantu melahirkan generasi pemain Indonesia yang semakin kompetitif di tingkat Asia maupun dunia,” pungkasnya.

× Image