Hasil RALB 2026: Kongres Pemilihan Eksekutif KOI Digelar Maret 2029

SKOR.id - Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau NOC Indonesia menggelar Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) di Kantor KOI, Senayan, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Salah satu keputusan penting dalam rapat tersebut adalah penetapan jadwal Kongres Pemilihan Eksekutif KOI yang akan digelar pada Maret 2029.
Sebelumnya, kongres yang juga menjadi agenda pemilihan Ketua Umum KOI dijadwalkan berlangsung pada 2027, sesuai masa bakti kepengurusan Ketua Umum KOI, Raja Sapta Oktohari.
Anggota Komite Eksekutif (Exco) KOI, sekaligus Ketua Pelaksana RALB, Jadi Rajagukguk, menjelaskan bahwa RALB membahas sejumlah agenda strategis, termasuk persiapan kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
"Ada beberapa agenda, yaitu persiapan Asian Games di Aichi-Nagoya pada 2026 yang tadi sudah disampaikan oleh CdM (Chef de Mission, Todutua Pasaribu)," kata Jadi Rajagukguk.
Selain itu, rapat juga mengesahkan pengecualian terkait penyelenggaraan kongres yang memuat pemilihan eksekutif KOI.
"Kedua adalah terkait pengesahan pengecualian terkait dengan penyelenggaraan kongres Komite Olimpiade Indonesia, dengan agenda pemilihan Ketua Umum yang disepakati dan diputuskan, kemudian ada beberapa yang disampaikan juga khusus terkait dengan jadwal kegiatan kongres Komite Olimpiade Indonesia sudah diputuskan akan diselenggarakan pada Maret 2029," tambah Jadi Rajagukguk.
RALB juga menyepakati penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KOI. Untuk proses tersebut, KOI telah membentuk tim perumus yang melibatkan unsur internal dan tenaga profesional.
"Kemudian juga diputuskan terkait penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) dan sudah dibentuk tim perumus kelompok kerjanya yang terdiri dari Komite Olimpiade Indonesia ditambah dengan pakar profesional," ujarnya.
Jadi Rajagukguk menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan merupakan perpanjangan masa kepengurusan, melainkan penundaan jadwal penyelenggaraan kongres karena padatnya kalender kegiatan olahraga internasional yang dihadapi KOI dalam beberapa tahun ke depan.
"Bukan perpanjangan, tapi penundaan waktu penyelenggaraan saja karena tahun depan itu agenda NOC begitu padat. Tahun ini ada Asian Games, tahun depan ada SEA Games, kemudian 2028 agenda Olimpiade," ucap Jadi Rajagukguk.
Adapun, keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari amanat Rapat Anggota 2026, di Hotel Fairmont, Jakarta, pada (9/5/2026).
"Sehingga keputusan rapat anggota beberapa bulan lalu sudah diputuskan bahwa penggunaan pasal pengecualian penundaan bukan perpanjangan, dengan jadwal yang harusnya dilakukan pada 2027 dilakukan selambat-lambatnya enam bulan setelah penyelenggaraan Olimpiade 2028 di Los Angeles," tuturnya.
Lebih dari itu, Sekretaris Jenderal KOI, Wijaya Noeradi menjelaskan bahwa penyesuaian jadwal Kongres memiliki landasan yang lebih mendasar, yakni menyelaraskan siklus kepengurusan dengan siklus Olimpiade sebagaimana praktik yang lazim diterapkan oleh berbagai organisasi olahraga di dalam Gerakan Olimpiade.
Wijaya menambahkan, penyelenggaraan Kongres setelah Olimpiade merupakan hal yang umum diterapkan oleh banyak Federasi Internasional maupun National Federation agar kepengurusan dapat bekerja secara optimal sepanjang satu siklus Olimpiade.
"Esensi utamanya adalah menyelaraskan siklus kepengurusan dengan siklus Olimpiade. IOC sendiri juga melaksanakan pemilihan Presiden setelah Olimpiade Paris 2024, di awal 2025. Dengan pola seperti ini, organisasi tidak terganggu oleh agenda pemilihan ketika sedang memasuki masa persiapan Olimpiade yang membutuhkan fokus penuh. Pendekatan ini juga telah kami konsultasikan kepada IOC dan memperoleh dukungan," sebut Wijaya.
Wijaya menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak mengubah struktur kepengurusan maupun AD/ART organisasi.
"Perlu dipahami bahwa yang dilakukan saat ini bukan perubahan AD/ART, melainkan penggunaan klausul pengecualian. Selama masa penyesuaian tersebut tidak ada perubahan kepengurusan. Kepengurusan tetap menjalankan mandat hingga Kongres diselenggarakan pada Maret 2029 sebagaimana diputuskan dalam Rapat Anggota," tegasnya.
Sementara, Ketua Dewan Etik Komite Olimpiade Indonesia Anthony C. Sunarjo mengatakan penyesuaian jadwal Kongres juga menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi organisasi menghadapi tantangan olahraga ke depan.
"Persiapan menuju Olimpiade tidak dapat dilakukan hanya dalam hitungan bulan, tetapi idealnya sudah dimulai setidaknya dua tahun sebelumnya. Karena itu, anggota memandang lebih tepat apabila Kongres dilaksanakan setelah Olimpiade sehingga organisasi dapat memberikan perhatian penuh terhadap pembinaan atlet dan target prestasi Indonesia," kata Anthony.
Menurutnya, keputusan tersebut memiliki dasar konstitusional yang kuat karena telah memperoleh persetujuan Rapat Anggota dan dilaksanakan melalui mekanisme yang diatur dalam AD/ART.
"Di sisi lain, momentum ini juga dimanfaatkan untuk menyempurnakan AD/ART agar selaras dengan perkembangan Undang-Undang Keolahragaan, Olympic Charter, Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga, serta berbagai regulasi internasional lainnya. Sebagai National Olympic Committee yang merupakan bagian dari IOC, Komite Olimpiade Indonesia harus memastikan seluruh tata kelola organisasinya tetap sejalan dengan Olympic Charter dan prinsip-prinsip good governance," tutup Anthony.
