Dua Pemuda Indonesia Dikirim ke Panggung Global PBB, Bahas Peran Sepak Bola untuk Kesehatan Mental

SKOR.id - Sebuah tonggak sejarah baru resmi tercipta bagi pendidikan dan diplomasi kepemudaan Indonesia, yang berkaitan dengan sepak bola.
Untuk pertama kalinya ekosistem kompetisi sepak bola mahasiswa, Liga Universitas Coca-Cola, berhasil melahirkan dan memberangkatkan dua mahasiswa berprestasi.
Yakni sebagai delegasi resmi Indonesia ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Headquarters (UNHQ), di New York, Amerika Serikat.
Kedua delegasi muda tersebut akan berpartisipasi langsung dalam program pemuda internasional bertajuk “One World, One Game, One Goal: Football for Youth Mental Health & Well-being”.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Jadwal, Hasil dan Klasemen Lengkap
Baca Juga: Update Bursa Transfer Super League Menuju Musim 2026-2027
Langkah bersejarah ini mendapat dukungan penuh dari maskapai global Qatar Airways sebagai Official Airline Partner, yang berperan memfasilitasi transportasi udara.
Kedua pemuda Indonesia membawa pesan bahwa sepak bola dapat menjadi katalisator bagi kesehatan mental, perdamaian, dan kepemimpinan generasi muda.
Delegasi yang mewakili Indonesia di forum dunia ini adalah Elang Cikal Brajananta; Mahasiswa sekaligus kapten tim STKIP Pasundan di Liga Universitas Coca-Cola 2026, yang telah berkecimpung di sepak bola kompetitif selama lebih dari 13 tahun.
Serta M. Elyas Aryo Saputro; Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Presiden PS ITB yang memimpin organisasi sepak bola kampus dengan lebih dari 150 anggota aktif.
Kedua pemuda Tanah Air ini bertolak dari Jakarta menuju New York pada 14 Juli 2026 dan dijadwalkan kembali ke tanah air pada 19 Juli 2026 setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.
Agenda utama delegasi Indonesia di forum PBB tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari ini, Jumat (17/7/2026) waktu setempat, di mana mereka akan memperkenalkan pendekatan inovatif Football for Mental Health yang diimplementasikan melalui kompetisi Liga Universitas Coca-Cola.
Keterpilihan Elang dan Elyas tidak terlepas dari proses kurasi yang ketat dan transparan. Seleksi dilaksanakan secara kolaboratif oleh lembaga penentu kebijakan tingkat nasional dan internasional.
Yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu), United Nations Resident Coordinator Office (UNRCO) Indonesia, dan Penyelenggara Liga Universitas Coca-Cola.
Proses seleksi komprehensif ini mempertimbangkan berbagai aspek penting di luar keahlian bermain sepak bola, seperti rekam jejak kepemimpinan (leadership).
Lalu kontribusi nyata dalam pengembangan olahraga dan pemberdayaan pemuda, kecakapan berkomunikasi, hingga kesiapan mempresentasikan identitas bangsa di forum dunia.
Keduanya dinilai mampu merepresentasikan nilai inklusi sosial, kesehatan mental, dan kolaborasi lintas budaya. Direktur Garuda Gemah Nusantara, Rizky Aidi, pun mengungkapkan rasa bangganya.
"Melalui Liga Universitas Coca-Cola, kami berkomitmen menyediakan platform aktivitas mahasiswa yang tahun ini menyuarakan kampanye 'Play for Peace' sekaligus mengawal isu kesehatan mental generasi muda,” ucapnya.
“Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak, khususnya Qatar Airways yang mewujudkan perjalanan bermakna ini," Rizky menambahkan.
Rasa syukur mendalam juga disampaikan Elang, yang memandang kesempatan ini bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa olahraga adalah jembatan menuju peluang kepemimpinan global.
“Saya berharap ilmu, pengalaman, dan jaringan yang saya peroleh di New York dapat saya bawa pulang untuk memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan olahraga dan kepemudaan di Indonesia," ia melanjutkan.
Adapun inisiatif ini menegaskan bahwa Liga Universitas Coca-Cola telah bertransformasi lebih dari sekadar kompetisi olahraga antarmahasiswa.
Program ini terbukti mampu menjadi inkubator yang menjembatani dunia pendidikan tinggi, olahraga, diplomasi internasional, dan pemberdayaan generasi muda sebagai agen perubahan global.
