Home > World

Ketika Rekrutmen Diaspora Jadi Pilar Utama Pembangunan Timnas Maroko

Maroko kembali menunjukkan para pemain diaspora mereka ikut mendongkrak performa tim di Piala Dunia 2026.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Brahim Diaz salah satu pemain diaspora Timnas Maroko di Piala Dunia 2026. (Grafis: Skor.id)
Brahim Diaz salah satu pemain diaspora Timnas Maroko di Piala Dunia 2026. (Grafis: Skor.id)

SKOR.id - Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi pertandingan-pertandingan epik, tetapi juga menjadi saksi bisu dari transformasi mendalam dalam lanskap sepak bola internasional.

Di tengah sorak-sorai penonton, fenomena sosiologis sedang berlangsung, dan Tim Nasional (Timnas) Maroko berada di garis depan revolusi ini. Dalam pertandingan melawan Brasil, Maroko menurunkan starting XI yang hampir seluruhnya terdiri dari pemain yang lahir di luar negara tersebut. Hanya Azzedine Ounahi yang lahir di Casablanca, Maroko. Ini manifestasi nyata dari globalisasi sepak bola yang semakin mengaburkan batas-batas geografis dan mendefinisikan ulang konsep kebangsaan olahraga.

Sukses Maroko menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar telah mengejutkan dunia, namun komposisi skuad mereka di tahun 2026 menceritakan kisah yang jauh lebih kompleks. Dari 26 pemain yang dibawa pelatih Mohamed Ouahbi, sebanyak 19 pemain lahir di luar Maroko. Artinya, hanya tujuh pemain di skuad Maroko saat ini yang lahir di negara tersebut. Angka ini melonjak dari 14 pemain pada edisi 2022, menegaskan strategi rekrutmen diaspora bukanlah solusi sementara, melainkan pilar utama pembangunan Timnas.

Menariknya, sang kapten Achraf Hakimi merupakan salah satu dari enam pemain Maroko yang justru lahir di Spanyol. Selain itu, ada Brahim Díaz, Chadi Riad, dan pencetak gol ke gawang Brasil, Ismael Saibari yang juga lahir di Negeri Matador.

Baca Juga: Disetujui Komisi X DPR RI, Mitchell Baker dan Luke Vickery segera Jadi WNI

Baca Juga: 5 Fakta usai Timnas Brasil Imbang Lawan Maroko di Piala Dunia 2026

Enam pemain berasal dari Prancis. Daftar tersebut mencakup Issa Diop, Ayyoub Bouaddi, dan Gessime Yassine.

Belanda menyumbang tiga pemain penting bagi Maroko, yaitu Sofyan Amrabat, Anass Salah-Eddine, serta bek sayap Manchester United Noussair Mazraoui yang lahir di Negeri Kincir Angin.

Dua winger muda berbakat, Bilal El Khannouss dan Chemsdine Talbi, lahir di Belgia, begitu juga dengan Zakaria El Ouahdi.

Sementara itu, kiper andalan Yassine Bounou lahir di Montreal, Kanada, sebelum kembali ke tanah air orang tuanya di Maroko saat berusia tiga tahun.

Fenomena ini sering disalahartikan sebagai sekadar 'impor' pemain. Namun, analisis lebih mendalam dari Oxford COMPAS menunjukkan realitas yang berbeda. Dari 61 pemain diaspora yang dievaluasi antara tahun 2017 dan 2026, lebih dari separuh (54%) telah memilih untuk mewakili Maroko sejak awal karier internasional mereka.

Hal ini membantah narasi bahwa para pemain ini hanya memilih Maroko setelah gagal menembus Timnas negara kelahiran mereka. Sebaliknya, ini menunjukkan keberhasilan Maroko dalam memobilisasi identitas sepak bola transnasional yang berakar pada sejarah migrasi, keterikatan keluarga, dan keterlibatan proaktif federasi.

Globalisasi dan Keuntungan Strategis Keberagaman

Kasus Maroko hanyalah puncak gunung es dari tren global yang lebih luas. Piala Dunia 2026 mencatatkan rekor dengan 289 pemain (hampir 25% dari total partisipan) yang mewakili negara selain tempat kelahiran mereka . Negara-negara seperti Curacao (96%) dan Republik Demokratik Kongo (85%) bahkan memiliki persentase pemain diaspora yang lebih ekstrem dibandingkan Maroko.

Penelitian akademis mendukung strategi ini. Sebuah studi dari Universitas Georgetown yang menganalisis Piala Dunia antara 1970 dan 2018 menemukan korelasi positif antara jumlah pemain asing dalam sebuah tim dengan seberapa jauh tim tersebut melaju dalam turnamen . Setiap tambahan pemain kelahiran luar negeri secara rata-rata dikaitkan dengan peningkatan jumlah pertandingan yang dimainkan.

Lebih lanjut, studi lain menunjukkan bahwa keragaman latar belakang pemain dalam sebuah skuad memberikan keuntungan taktis yang signifikan. Tim yang lebih beragam secara ancestral cenderung memiliki performa yang lebih baik, dengan peningkatan selisih gol rata-rata sekitar 1.35 per pertandingan.

Keuntungan ini berasal dari dua faktor utama: Perluasan pool pemain yang memungkinkan akses ke sistem pengembangan sepak bola terbaik di dunia (seperti akademi di Madrid, Amsterdam, atau Lille), dan peningkatan keragaman keterampilan fisik serta teknis dalam skuad.

Relevansi bagi Indonesia

Fenomena yang ditunjukkan Maroko dan tren globalisasi sepak bola ini memberikan validasi empiris bagi program naturalisasi yang digalakkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Sejak dipimpin Ketua Umum Erick Thohir, PSSI secara agresif mencari dan menaturalisasi pemain-pemain keturunan Indonesia yang berkarier di luar negeri, terutama di Eropa.

Langkah ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah, termasuk Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Hukum dan HAM . Nama-nama seperti Maarten Paes, Jay Idzes, Calvin Verdonk, kini menjadi tulang punggung skuad Garuda. Baru-baru ini, di bawah arahan pelatih John Herdman, PSSI bahkan telah memulai proses naturalisasi untuk pemain-pemain dari Australia seperti Mitchell Baker dan Luke Vickery, menandakan ekspansi pencarian bakat di luar Eropa.

Strategi PSSI memiliki kesamaan fundamental dengan pendekatan Maroko. Keduanya tidak sekadar mencari 'tentara bayaran', melainkan menargetkan pemain yang memiliki garis keturunan dan ikatan emosional dengan negara tersebut. Kehadiran pemain diaspora di Timnas Indonesia telah terbukti meningkatkan kualitas permainan secara instan, sekaligus memberikan efek domino berupa peningkatan standar kompetisi domestik dan motivasi bagi pemain lokal.

Tak heran jika Erick Thohir, secara konsisten menegaskan program naturalisasi adalah bagian integral dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan level Timnas Indonesia di Asia dan pada akhirnya menembus putaran final Piala Dunia. Erick juga menekankan PSSI tidak akan melupakan pembinaan usia dini di dalam negeri sebagai program jangka panjang berkelanjutan. Kesuksesan Maroko membuktikan membangun Timnas yang tangguh melalui optimalisasi potensi diaspora adalah strategi yang sah dan terbukti efektif.

× Image