Home > Tennis

Aryna Sabalenka Frustrasi Usai Tersingkir dari French Open 2026, Ingin Berhenti dari Tenis

Petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, mengungkapkan rasa frustrasinya usai tersingkir di perempat final French Open 2026 setelah kalah dari Diana Shnaider.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, tersingkir di babak perempat final French Open 2026. (Grafis: Skor.id) 
Petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, tersingkir di babak perempat final French Open 2026. (Grafis: Skor.id)

SKOR.id - Drama besar terjadi di Roland Garros. Petenis putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, mengalami kekalahan yang sulit dipercaya di perempat final French Open, sekaligus memicu ledakan emosi yang membuatnya berpikir untuk mundur dari dunia tenis.

Harapan Sabalenka untuk meraih gelar Grand Slam kelima sirna begitu saja setelah ia kehilangan 10 gim terakhir secara beruntun saat menghadapi Diana Shnaider—padahal sebelumnya ia hanya tinggal dua poin lagi menuju kemenangan.

Frustrasi Sabalenka bahkan terlihat jelas di lapangan. Ia sempat menendang bola usai gagal melakukan servis pertama, yang kemudian melayang ke arah hakim garis dan ball kids sebelum memantul ke tribun penonton. Insiden itu membuatnya harus meminta maaf.

Dalam pernyataannya usai pertandingan, Sabalenka mengungkapkan kondisi mentalnya yang benar-benar terpuruk.

Baca Juga: Wakil Indonesia Berguguran, Ganda Putra Alami Pukulan Berat

Baca Juga: Anggaran Menurun, Menpora Ingin Maksimalkan Persiapan Hadapi Asian Games 2026

“Tidak ada pikiran, tidak ada emosi. Saya hanya ingin berhenti bermain tenis sekarang, tapi kita lihat saja. Kita lihat dalam beberapa hari ke depan. Semoga saya bisa kembali menemukan kondisi mental saya,” kata Sabalenka.

“Saya tidak tahu kapan terakhir kali itu terjadi, saya kalah 10 gim berturut-turut. Saya rasa secara mental saya terjebak dalam lubang yang sangat dalam dan gelap, dan saya tidak bisa kembali ke kondisi yang tepat. Ini sesuatu yang harus saya evaluasi dan cari solusinya, karena saya sudah sangat lelah kalah dalam beberapa pertandingan bukan dengan cara terbaik hanya karena saya terlalu emosional,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sabalenka pun meyakini bisa menemukan solusi dari situasi yang dihadapinya saat ini dan kembali lebih lebih tangguh.

“Sebenarnya saya sudah tahu bagaimana cara mengatasinya. Anda tahu ruangan tempat kita bisa masuk dan menghancurkan semuanya? Saya mungkin akan menghabiskan satu hari penuh besok di sana untuk merusak barang-barang. Mungkin membantu, mungkin tidak,” ungkapnya.

Kekalahan ini mengingatkan pada final tahun lalu di turnamen yang sama, ketika Sabalenka sempat unggul 5-1 atas Coco Gauff di set pertama, namun akhirnya justru kalah dalam tiga set.

Di laga kali ini, Sabalenka sejatinya tampil meyakinkan. Ia merebut set pertama 6-3 dan bahkan memimpin 4-1 di set kedua. Namun, kondisi cuaca berangin di lapangan Philippe Chatrier mengubah segalanya. Debu yang beterbangan membuatnya kesulitan menjaga fokus, sementara emosinya semakin tak terkendali.

Momentum pun berbalik. Sabalenka kehilangan ritme permainan dan akhirnya mengalami “bagel” di set penentuan—yang pertama baginya sejak 2024.

Di sisi lain, Diana Shnaider tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya usai mencatat kemenangan besar dalam kariernya.

“Sejujurnya, saya kehabisan kata-kata,” ujar Shnaider.

“Saya sangat senang, kondisinya sulit dengan angin dan ini pertama kalinya saya melawannya. Saya sangat gugup. Set pertama hanya untuk beradaptasi dengan permainannya dan kondisi. Saya mencoba fokus pada setiap poin tanpa memikirkan skor. Dia adalah nomor satu dunia, jadi saya hanya berusaha melakukan yang terbaik sampai akhir dan berjuang di setiap poin,” tambahnya.

Menariknya, Sabalenka tetap mengenakan perhiasan mewah berupa kalung berlian dan garnet serta anting senilai £75.000—yang sebelumnya juga ia pakai saat melakukan protes media terkait tuntutan peningkatan hadiah uang.

Hasil ini juga menciptakan catatan langka dalam sejarah turnamen. Untuk pertama kalinya, babak semifinal Grand Slam berlangsung tanpa kehadiran mantan juara, baik di sektor tunggal putra maupun putri.

Sumber: Daily Mail

× Image