Home > Super League

Tak Cuma Indonesia, Sejumlah Liga Top Eropa dan ASEAN Juga Terapkan Sistem Head to Head

Aturan head to head sebagai tie-breaker dalam kompetisi sepak bola sejatinya lazim digunakan di berbagai penjuru dunia.
Image
Teguh Kurniawan Editor : Teguh Kurniawan
Kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League 2025-2026. Sumber:(Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)
Kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League 2025-2026. Sumber:(Grafis: Deni Sulaeman/Skor.id)

SKOR.id - Super League 2025-2026 baru saja rampung, dengan Persib Bandung berhasil merangkai tiga gelar beruntun.

Tim asuhan Bojan Hodak angkat trofi usai menyisihkan Borneo FC lewat pertarungan panjang hingga pekan pamungkas.

Kedua tim akhirnya finis dengan poin setara (79), tapi Persib bertahan di puncak klasemen berkat keunggulan head to head atas sang rival.

Mereka menang 3-1 di Bandung, lalu mampu menahan Pesut Etam 1-1 di Samarinda.

Titel yang didapatkan secara fair karena Liga Indonesia memang menggunakan head to head sebagai tie-breaker sejak lama.

Namun, pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes, kurang puas. Menurutnya, head to head bukan patokan yang pas buat menentukan juara liga jika kedua penantang sama kuat.

"Sayang sekali, gelar juara hilang hanya karena aturan head to head. Padahal, jika kita bicara data statistik, performa kami di atas kertas jauh mengungguli siapapun," katanya.

Bukan omong kosong. Faktanya, Borneo FC memang superior di banyak aspek musim ini.

Mereka adalah tim dengan selisih gol terbaik (+43), paling produktif (74 gol), dan paling banyak meraih kemenangan (25).

Jika bukan karena head to head, Mariano Peralta dan kawan-kawan mungkin sudah mempersembahkan gelar perdana dalam sejarah klub.

Namun, sentimen tersebut dilawan oleh gelandang Persib, Thom Haye. Baginya, penentuan juara antara dua tim setara memang pantas dilakukan lewat head to head.

Selain menjadi cerminan langsung kualitas kedua tim, sistem tersebut bisa meminimalisir 'kecurangan'.

"Mungkin aturan itu ada untuk melindungi juara sejati dari hasil seperti pertandingan terakhir," ujar Haye.

Penyataannya merujuk kepada kemenangan telak 7-1 Borneo FC atas Malut United. Skor yang cukup mengejutkan karena Naga Gamalama termasuk salah satu tim kuat di Super League 2025-2026.

Terlepas dari semua kontroversi yang mengikuti kesuksesan Persib, tak ada yang salah dengan sistem head to head di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Aturan sudah diterapkan sejak lama, bahkan setidaknya sejak era Liga 1 pada 2017. Semua klub tahu dan paham risikonya.

Format ini juga lazim digunakan kompetisi elite di berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa yang merupakan kiblat sepak bola.

LaLiga alias Liga Spanyol masih menerapkannya sampai detik ini, Serie A Italia juga penganut setia sampai diberlakukannya duel play-off single match buat dua tim teratas sejak 2022-2023.

Dari kawasan Asia Tenggara alias ASEAN, Thai League 1 (Thailand), V.League 1 (Vietnam), Cambodian Premier League (Kamboja), hingga Liga Timor Leste, juga memakai aturan head to head untuk tie-breaker.

Jadi, semua tergantung kesepakatan operator kompetisi dengan klub peserta.

× Image