Gelar Juara Piala Afrika Dibatalkan CAF, Senegal Murka dan Ajukan Banding ke CAS

SKOR.id - Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) akhirnya angkat bicara terkait keputusan kontroversial Dewan Banding Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang menyatakan timnas Senegal kalah forfeit 0-3 dari Maroko pada final Piala Afrika (AFCON) 2025.
Dalam pernyataan resminya, FSF mengonfirmasi telah menerima hasil putusan Dewan Banding CAF atas perkara DC23316. Kasus ini berawal dari sengketa pada pertandingan Senegal vs Maroko di final Piala Afrika 2025 yang berlangsung di Maroko tersebut.
Sebelumnya diberitakan, CAF melalui Dewan Banding memutuskan untuk menerima dan mengabulkan banding yang diajukan Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF). Keputusan itu sekaligus membatalkan putusan sebelumnya dari Komite Disiplin CAF, dengan alasan adanya pelanggaran terhadap hak untuk didengar dari pihak Maroko dalam proses awal.
Lebih lanjut, Komite Banding menilai bahwa tindakan tim Senegal melanggar Pasal 82 dan 84 Regulasi Piala Afrika. Berdasarkan penilaian tersebut, CAF menjatuhkan sanksi kekalahan melalui forfeit kepada Senegal, dengan skor resmi 0-3 untuk kemenangan Maroko.
Imbasnya, gelar juara Senegal dibatalkan, dan Maroko ditetapkan sebagai juara Piala Afrika 2025.
Maka itu, FSF bereaksi keras terkait putusan Dewan Banding CAF tersebut. Mereka pun memastikan akan mengambil langkah hukum lanjutan terkait kasus ini.
”Federasi Sepak Bola Senegal mengecam keputusan tersebut sebagai tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak dapat diterima, yang mencoreng citra sepak bola Afrika,” tulis FSF dalam pernyataan resminya di situs resmi mereka, Rabu (18/3/2026) WIB.
”Untuk membela hak-haknya serta kepentingan sepak bola Senegal, federasi akan segera mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne dalam waktu sesingkat-singkatnya.”
”FSF menegaskan kembali komitmennya yang teguh terhadap nilai-nilai integritas dan keadilan olahraga, serta akan terus menginformasikan perkembangan lanjutan terkait perkara ini kepada publik,” tambahnya.
Kasus ini pun berpotensi menjadi salah satu sengketa paling panas dalam sejarah Piala Afrika, sekaligus menyoroti aspek regulasi dan proses hukum dalam kompetisi sepak bola level benua.
Sumber: fsfoot.sn
