Mengulik Secara Statistik, Kenapa Teja Paku Alam Tidak Dipanggil ke Timnas Indonesia

SKOR.id - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, telah menetapkan 41 pemain untuk persiapan menghadapi FIFA Series 2026. Nantinya, dari jumlah tersebut akan dikerucutkan kembali untuk dibawa ke turnamen yang diikuti empat negara tersebut.
Seperti diketahui, dari daftar yang ada, terdapat beberapa pemain yang sebelumnya menjadi langganan Timnas kelompok umur dalam beberapa tahun terakhir, kini dipromosikan ke Timnas senior.
Salah satu di antaranya adalah kiper Cahya Supriadi. Pemanggilan Cahya menjadi salah satu yang cukup mengejutkan, kendati jika melihat performanya pada musim ini bersama PSIM Yogyakarta memang layak untuk dicoba.
Dia menambah persaingan sengit di sektor kiper yang berlaga di kompetisi lokal, untuk memperebutkan tempat utama di bawah mistar gawang skuad Garuda.
Tapi muncul juga pertanyaan. Kenapa kiper Persib Bandung, Teja Paku Alam, tidak dipanggil? Padahal, Teja tampil memukau dan ikut berperan membawa Persib sebagai tim yang kemasukkan paling sedikit sementara ini di Super League 2025-2026. Persib tercatat baru kebobolan 13 kali dari 23 pertandingan yang telah dijalani. Mereka pun kini bertengger di pucuk klasemen.
Secara individu, berdasarkan data Sofascore, Teja baru kemasukkan 10 kali. Kita tidak bicara dulu, soal dua kiper diaspora Emil Audero Mulyadi (Cremonese) dan Maarten Paes (Ajax Amsterdam) yang diyakini menjadi dua opsi teratas Herdman di bawah mistar gawang.
Tapi persaingan di kiper yang berlaga pada Super League yang menarik untuk diulik. Meski tidak menutup kemungkinan bakal menjadi pilihan utama, tapi kalau menilik performa Emil dan Paes, rasanya cukup sulit untuk menggeser mereka dari dua teratas.
Mari kita bandingkan secara statistik antara Teja dengan tiga kiper dari klub Super League yang dipanggil ke Timnas. Dari data yang diambil berdasarkan Sofascore, berikut ulasannya:
Nadeo tampil dalam 24 pertandingan dengan kebobolan 24 gol atau rata-rata 1 gol per laga. Ia mencatat 83 penyelamatan, tertinggi di antara empat kiper yang dibandingkan. Angka ini menunjukkan bahwa Nadeo sering menghadapi tekanan, namun mampu merespons dengan baik.
Selain itu, ia juga mencatat 8 clean sheet, satu penyelamatan penalti, dan tidak melakukan kesalahan yang berujung gol. Dari sisi permainan modern, Nadeo cukup menonjol dengan akurasi operan 92,8% serta kontribusi defensif seperti 15 intersep dan 10 kemenangan duel udara. Profil ini menggambarkan kiper yang aktif, responsif terhadap ancaman, dan cukup nyaman dalam build-up permainan.
Berikutnya ada kiper Persebaya Surabaya, Ernando Ari Sutaryadi. Dia telah bermain 23 kali dengan 27 kebobolan dan 78 penyelamatan. Statistik ini menunjukkan ia juga cukup sering diuji oleh lawan. Ia mencatat 7 clean sheet dan tidak membuat kesalahan fatal.
Keunggulan Ernando terlihat pada aktivitas defensifnya dengan 20 intersep, tertinggi kedua di daftar ini. Hal tersebut menandakan peran aktif dalam membaca permainan dan keluar dari garis gawang untuk mengantisipasi bola. Meski begitu, akurasi operannya 79,7% masih lebih rendah dibanding beberapa kiper lain.
Lalu kiper PSIM, Cahya Supriadi, yang tampil dalam 22 pertandingan dengan 28 kebobolan dan 73 penyelamatan. Ia memiliki 8 clean sheet dan satu penyelamatan penalti.
Yang paling menonjol adalah aktivitas defensifnya: 21 intersep dan 16 duel udara dimenangkan, tertinggi di antara semua kiper yang dibandingkan. Ini menunjukkan gaya bermain yang agresif dan berani keluar dari area gawang. Akurasi operannya juga cukup stabil di angka 81,4%.
Bagaimana dengan Teja? Secara statistik dasar, Teja justru terlihat sangat impresif. Dari 21 pertandingan, ia hanya kebobolan 10 gol dan mencatat 14 clean sheet, angka tertinggi di antara semua kiper. Rasio kebobolannya bahkan hanya sekitar 0,48 gol per pertandingan.
Namun jika melihat data lain, aktivitasnya jauh lebih rendah. Teja hanya mencatat 49 penyelamatan, jauh di bawah kiper lain yang semuanya berada di atas 70 penyelamatan. Ini mengindikasikan ia tidak terlalu sering menghadapi tembakan, kemungkinan karena sistem pertahanan timnya sangat kuat.
Dari sisi aktivitas defensif, ia juga mencatat 11 intersep dan hanya 3 kemenangan duel udara, paling rendah dalam daftar ini. Meski distribusi bolanya cukup baik dengan akurasi operan 88,1%, kontribusi dalam mengantisipasi bola di luar area gawang relatif terbatas.
Jika dilihat secara statistik murni, Teja Paku Alam memang memiliki rasio kebobolan dan jumlah clean sheet terbaik. Namun sepak bola modern sering menilai kiper tidak hanya dari jumlah kebobolan, tetapi juga dari volume penyelamatan, aktivitas membaca permainan, dan keterlibatan dalam fase defensif maupun build-up.
Dalam konteks ini, Nadeo Argawinata, Ernando Ari, dan Cahya Supriadi terlihat lebih sering diuji dan lebih aktif dalam berbagai situasi permainan. Mereka menghadapi lebih banyak tembakan, melakukan lebih banyak intersep, dan berkontribusi lebih besar dalam duel udara.
Secara statistik, hal tersebut bisa menjadi salah satu alasan mengapa Teja Paku Alam tidak dipanggil ke Timnas Indonesia. Meski tampil sangat efisien di klubnya, datanya menunjukkan ia kurang mendapatkan volume situasi pertandingan yang kompleks dibanding kiper lain, sehingga staf pelatih mungkin lebih memilih penjaga gawang yang terbiasa menghadapi tekanan dan terlibat aktif dalam dinamika permainan.
Kemungkinan lainnya, Herdman butuh pemain yang siap untuk jam terbang di level Timnas dalam beberapa tahun terakhir. Jika melihat tiga kiper tersebut, Cahya memang sering dipanggil untuk Timnas U-23, sementara Nadeo dan Ernando langganan untuk Timnas senior. Sedangkan Teja terakhir kali dipanggil ke Timnas Indonesia pada 19 November 2019, saat menghadapi Malaysia di Kualifikasi Piala Asia di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia.
Berikut perbandingan data statistik Teja Paku Alam dengan tiga kiper klub Super League yang dipanggil ke Timnas Indonesia:
-Nadeo Argawinata (Borneo FC)
Main: 24
Kemasukan: 24
Penyelamatan: 83
Clean sheet: 8
Penalti diamankan: 1
Kesalahan berujung gol: 0
Intersep: 15
Menang duel udara: 10
Akurasi operan: 332 (92,8%)
-Ernando Ari Sutaryadi (Persebaya)
Main: 23
Kemasukan: 27
Penyelamatan: 78
Clean sheet: 7
Penalti diamankan: 0
Kesalahan berujung gol: 0
Intersep: 20
Menang duel udara: 9
Akurasi operan: 255 (79,7%)
-Cahya Supriadi (PSIM Yogyakarta)
Main: 22
Kemasukan: 28
Penyelamatan: 73
Clean sheet: 8
Penalti diamankan: 1
Kesalahan berujung gol: 0
Intersep: 21
Menang duel udara: 16
Akurasi operan: 263 (81,4%)
-Teja Paku Alam (Persib Bandung)
Main: 21
Kemasukan: 10
Penyelamatan: 49
Clean sheet: 14
Penalti diamankan: 1
Kesalahan berujung gol: 0
Intersep: 11
Menang duel udara: 3
Akurasi operan: 349 (88,1%)
Sumber: Sofascore
