Home > World

Drama Final Piala Afrika Berujung 18 Suporter Dipenjara, Senegal Kecam Maroko

PM Senegal, Ousmane Sonko, melontarkan kecaman keras terhadap keputusan Maroko yang memenjarakan 18 suporter Timnas Senegal.
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Ilustrasi Piala Afrika 2025 (AFCON 2025). (Grafis: Kevin Bagus Prinusa/Skor.id) 
Ilustrasi Piala Afrika 2025 (AFCON 2025). (Grafis: Kevin Bagus Prinusa/Skor.id)

SKOR.id - Perdana Menteri Senegal, Ousmane Sonko, melontarkan kecaman keras terhadap keputusan Maroko yang memenjarakan 18 suporter Senegal usai final Africa Cup of Nations (AFCON) atau Piala Afrika 2025 di Rabat, Maroko, pada Januari lalu.

Vonis tersebut dijatuhkan setelah kericuhan yang terjadi pada laga final, ketika pertandingan sempat dihentikan secara kontroversial. Para pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap penalti di menit akhir yang diberikan kepada tuan rumah Maroko.

Situasi memanas di tribun. Sejumlah pendukung Teranga Lions, julukan Timnas Senegal, mencoba masuk ke lapangan pada laga 19 Januari itu. Aparat keamanan kemudian menangkap 18 orang yang selanjutnya didakwa melakukan hooliganisme serta kekerasan terhadap petugas.

Pengadilan Maroko menjatuhkan hukuman penjara antara tiga bulan hingga satu tahun, disertai denda maksimal 5.000 dirham (sekitar 545 dolar AS).

Sonko menilai persoalan ini sudah melampaui batas olahraga.

“Sepertinya masalah ini telah melampaui ranah olahraga dan itu sangat disayangkan,” kata Sonko di parlemen Senegal, Selasa (24/2/2026).

“Bagi dua negara yang saling menyebut sebagai sahabat, seperti Maroko dan Senegal, seharusnya hal ini tidak sampai sejauh ini.” tegasnya.

Kedelapan belas suporter tersebut membantah melakukan pelanggaran, namun tidak mengajukan banding. Pemerintah Senegal kini berupaya meminta pengampunan langsung dari Raja Maroko, Mohammed VI.

Sonko juga membuka opsi lain jika pengampunan tidak diberikan.

“Jika tidak, kami memiliki perjanjian yang mengikat kedua negara dan memungkinkan kami meminta agar para suporter menjalani hukuman di negara mereka sendiri,” ujarnya.

Federasi sepak bola Senegal sebelumnya juga telah mengecam putusan tersebut. Mereka menyebut hukuman yang dijatuhkan sangat berlebihan.

Ketua komite komunikasi federasi, Bacary Cisse, menilai insiden serupa kerap terjadi di berbagai stadion dunia tanpa berujung hukuman seberat itu.

“Bentrok terjadi di banyak stadion di seluruh dunia, termasuk setiap akhir pekan di Maroko, tanpa berujung pada sanksi seperti ini,” ujarnya.

“Karena itu, perlakuan terhadap para suporter ini tampak tidak proporsional.”

Dari sisi hukum, pengacara para suporter, Patrick Kabou, mengaku kliennya sempat belum mengetahui secara jelas dakwaan yang dikenakan. Ia juga menyebut sebagian dari mereka melakukan mogok makan sebagai bentuk protes atas penahanan.

Kabou menilai hukuman tersebut sulit dipahami dan menyebut kliennya sebagai korban.

Terlepas dari kontroversi besar yang terjadi, Senegal akhirnya keluar sebagai juara. Setelah laga dilanjutkan kembali pasca protes pemain, Teranga Lions memastikan kemenangan 1–0 di babak perpanjangan waktu.

Insiden ini kini bukan hanya menjadi catatan kelam final AFCON, tetapi juga memicu ketegangan diplomatik antara dua negara Afrika yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat.

Sumber: Aljazeera.com

× Image