Home > Liga Inggris

Kalah Telak dari Arsenal, Sunderland Dapat Pelajaran Mahal di Stadion Emirates

Sunderland kalah telak 0-3 dari Arsenal di Stadion Emirates, Sabtu (7/2/2026).
Image
Muhamad Rais Adnan Editor : Muhamad Rais Adnan
Sunderland kalah telak 0-3 dari Arsenal di Stadion Emirates, Sabtu (7/2/2026). (Foto: Dok. Sunderland/Grafis: Skor.id)
Sunderland kalah telak 0-3 dari Arsenal di Stadion Emirates, Sabtu (7/2/2026). (Foto: Dok. Sunderland/Grafis: Skor.id)

SKOR.id - Sunderland kalah telak 0-3 saat dijamu pemuncak klasemen sementara Premier League 2025-2026, Arsenal, di Stadion Emirates, London, Sabtu (7/2/2026).

Angka itu sekilas memberi kesan pertandingan berjalan satu arah. Namun bagi mereka yang menyaksikan langsung di London Utara, terutama ribuan pendukung Sunderland, cerita di lapangan jauh lebih kompleks.

Sunderland kalah, itu fakta. Tapi kekalahan ini juga menjadi potret paling jujur tentang kerasnya Premier League. Taktik bisa disusun rapi, kerja keras bisa dimaksimalkan, namun kualitas individu tetap menjadi pembeda yang tak terbantahkan.

Sejak menit awal, pasukan asuhan Regis Le Bris tampil disiplin dan terorganisasi. Blok pertahanan rapat yang mereka bangun sempat membuat Arsenal frustrasi. The Gunners dipaksa memutar bola, mencari celah, dan berkali-kali menemui jalan buntu di sepertiga akhir.

Sunderland bermain lugas dan spartan. Ruang dipersempit, jalur tembak ditutup, dan Arsenal harus bersabar. Namun di titik inilah perbedaan kualitas individu berbicara lantang.

Saat sistem bertahan Sunderland sudah bekerja nyaris sempurna, Arsenal cukup membutuhkan satu momen. Bahkan bukan celah besar—cukup sepersekian detik, satu sentuhan ekstra, atau satu keputusan brilian.

Gol-gol yang menembus gawang Robin Roefs bukanlah hasil kesalahan mendasar lini belakang Sunderland. Itu lahir dari aksi-aksi individual kelas atas: Sepakan melengkung dari sudut sempit, umpan terobosan yang membelah pertahanan, hingga dribel tajam yang mematahkan dua sampai tiga pemain sekaligus. Momen-momen “ajaib” yang biasanya hanya dimiliki tim dengan ambisi juara.

“Skor tetaplah skor. Arsenal bermain tanpa henti dan menunjukkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan setiap peluang yang kami berikan,” ucap Le Bris, usai pertandingan seperti dikutip laman resmi Sunderland.

“Mereka bermain tanpa henti, mereka berada di puncak liga dan juga memimpin di Liga Champions, jadi kami tahu kami menghadapi tim yang sangat kuat,” tambahnya.

Kerja Keras Tak Selalu Cukup

Secara kolektif, Sunderland tak kalah berjuang. Mereka berlari lebih jauh, bertarung lebih sering, dan tak ragu mengorbankan badan demi menghalau bola. Namun pada akhirnya, energi dan determinasi itu runtuh oleh sentuhan-sentuhan berkualitas tinggi dari pemain-pemain Arsenal—pemain yang nilai transfernya bisa jadi setara dengan anggaran satu musim Sunderland.

Robin Roefs pun berada di posisi sulit. Sang kiper sudah melakukan sejumlah penyelamatan penting dan tampil sigap sepanjang laga. Namun ketika bola diarahkan dengan presisi nyaris sempurna ke sudut gawang, bahkan penjaga gawang terbaik dunia pun sering kali hanya bisa terpaku.

“Kami harus menerima hasil ini dan mengambil pelajarannya. Arsenal membangun tim ini selama bertahun-tahun, dan pengalaman itu sangat terasa. Mereka benar-benar komplet di setiap aspek permainan,” ujar Le Bris

“Kami masih tim promosi dan sejauh ini kami menjalani musim dengan baik. Hari ini kami tetap kompetitif, dan itu menunjukkan kami terus berkembang melalui berbagai pengalaman,” tutur pelatih asal Prancis itu.

Kekalahan 0-3 ini layak dipandang sebagai “uang sekolah” di panggung elite. Bertandang ke markas Arsenal selalu menjadi ujian realitas, terlebih bagi tim yang masih membangun.

Tak ada alasan bagi Sunderland untuk larut dalam kekecewaan. Mereka kalah karena perbedaan kualitas, bukan karena kurangnya mental atau semangat juang. Laga ini menjadi pengingat bahwa sistem permainan yang solid saja belum selalu cukup tanpa kehadiran faktor X—pemain dengan kualitas individu yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap.

Pulang dari London dengan tangan hampa dan kebobolan tiga gol memang menyakitkan. Namun Sunderland pulang dengan kepala tegak. Ini adalah kekalahan yang terhormat dari tim yang berada di level—dan bujet—berbeda.

Kini fokus harus kembali ke laga-laga yang lebih realistis untuk dimenangkan. Musim masih panjang, dan pelajaran mahal dari Emirates Stadium diyakini akan menempa mental skuad muda Sunderland menjadi lebih matang ke depannya.

“Levelnya memang seperti ini dan kami harus menghadapinya. Ketika lawan lebih kuat, situasinya memang sulit. Kami harus membangun dari sisi-sisi kuat permainan kami dan menganalisis apa yang perlu diperbaiki,” kata Le Bris.

Sumber: www.safc.com

× Image