5 Penyebab Retaknya Hubungan Xabi Alonso dan Real Madrid yang Berujung Perpisahan

SKOR.id - Xabi Alonso kini telah resmi meninggalkan posisinya sebagai pelatih Real Marid.
Laga melawan Barcelona di Piala Super Spanyol yang berakhir kekalahan 2-3, menjadi terakhir kali Xabi Alonso memimpin Real Madrid.
Dilansir dari laman realmadrid.com, posisi Xabi Alonso kini sementara ditempati oleh Alvaro Arbeloa.
Alvaro Arbeloa sebelumnya telah berpengalaman menangani tim akademi Real Madrid.
Ada beberapa faktor yang disebut menjadi penyebab berakhirnya hubungan Real Madrid dengan Xabi Alonso.
Dilansir dari Marca, salah satunya adalah permasalahan di ruang ganti yang memengaruhi hubungan pelatih dan pemain, berikut ini selengkapnya:
1. Masalah Sejak Piala Dunia Antarklub
Kurang baiknya hubungan Xabi Alonso dengan para pemain disebut sudah dimulai keikutsertaan ajang Piala Dunia Antarklub.
Real Madrid gagal menang, kekalahan melawan PSG di babak semifinal sempat menjadi sorotan.
Meski berikutnya Real Madrid sempat tampil baik hingga dipermalukan Atletico Madrid 2-5, kekalahan pertama musim 2025-2026 yang berakibat fatal pada akhirnya.
2. Performa Tim
Performa tim yang dijanjikan tak pernah berhasil ditunjukkan di era Xabi Alonso, para pemain kurang bersemangat dan bertenaga, dengan persiapan fisik yang diragukan.
Xabi Alonso juga kesulitan menghadapi tim dengan pertahanan rapat, sama seperti saat Carlo Ancelotti memimpin tim.
Performa mereka disamakan dengan penampilan tim di bawah Carlo Ancelotti pada musim 2024-2025.
3. Permintaan Tidak Dituruti
Permintaan Xabi Alonso agar Real Madrid mendatangkan otak permainan tim tak dituruti. Klub sudah berinvestasi untuk mendatangkan Franco Mastantuono.
Martin Zubimendi yang sempat diincar justru merapat ke Arsenal, hengkangnya Luka Modric juga membuat Xabi Alonso kehilangan sosok penting.
Los Blancos punya Aurelien Tchouameni, Eduardo Camavinga, hingga Fede Valverde, tetapi mereka bukan tipe pengatur tempo. Jude Bellingham punya kualitas tersebut, tetapi ia telah bermain di banyak posisi, sehingga dinilai tak mampu mengetahui kriteria yang dibutuhkan.
4. Masalah di Piala Super Spanyol
Pada ajang Piala Super Spanyol, para pemain Real Madrid dinilai kurang baik dalam meengalirkan bola, ketika melawan Atletico Madrid, Thibaut Courtois hampir membuat 40 tendangan jauh untuk mengatasi tekanan lawan.
Permainan seperti ini disebut menggambarkan citra tim kecil, tanpa sumber daya dan tanpa keberanian, di mana umpan panjang cara utama sebuah tim menyerang.
Di Madrid, yang terpenting bukan hanya pencapaian, tetapi juga bagaimana mencapainya, permainan di Piala Super Spanyol ini memberikan penilaian buruk.
5. Krisis Ruang Ganti
Xabi Alonso pelatih yang memberikan perhatian khusus kepada detail taktis, video, hingga manajemen klub, sesuatu yang tidak disukai pemain Real Madrid.
Para pemain Real Madrid telah terbiasa dengan gaya santai di era kepelatihan Carlo Ancelotti. Xabi Alonso juga disebut memiliki masalah dengan Vinicius Junior.
Keputusan Xabi Alonso yang tak memberikan keberlanjutan komitmen dengan pemain muda seperti Arda Guler dan Franco Mastantuono menjadi sorotan lain di era kepemimpinannya.
