Home > Liga Inggris

Raja Sapta Oktohari: Soal Aprilia Manganang Jangan Salah Presepsi

Image
Nizar Galang

 

  • Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari mengatakan publik jangan sampai salah presepsi masalah Aprilia Manganang.
  • Raja Sapta Oktohari ingin masyarakat Indonesia tidak membesar-besarkan masalah Aprilia Manganang.
  • Ia membandingkan kasus Aprilia Manganang dengan kasus atlet angkat besi Indonesia, Citra Febrianti yang memerlukan proses yang sangat panjang.

SKOR.id - Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari mengatakan publik jangan sampai salah presepsi terkait masalah Aprilia Manganang.

Pada Selasa (9/3/2021) sore, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa mengampaikan informasi soal koreksi status Aprilia Manganang. 

Mantan pevoli timnas Indonesia itu dinyatakan sebagai laki-laki, menyusul serangkaian tes medis yang dilakukan TNI AD sejak awal Februari lalu. 

Diketahui memang selama ini sososk Aprilia Manganang dikenal sebagai pevoli putri andalan Indonesia.

Akan kondisi ini, Raja Sapta Oktohari ingin masyarakat Indonesia tidak membesar-besarkan masalah terlebih sampai salah presepsi.

"Hal yang terjadi saat ini bukan hal yang luar biasa, ini adalah hal yang biasa. Sepenuhnya ini wewenang dari tim kedokteran dan atlet tidak salah apa apa," ujar Okto di kantor KOI, Senayan, Rabu (10/3/2021).

Belakangan ketakutan dampak dari perubahan gender Aprilia Manganang adalah lengsernya raihan medali timnas voli Indonesia di SEA Games.

Saat dibela Aprilia Manganang, timnas voli putri menyabet satu medali perunggu dan perak di SEA Games 2015 dan 2017.  

Okto membandingkan kasus Aprilia Manganang dengan kasus atlet angkat besi Indonesia, Citra Febrianti yang memerlukan proses yang sangat panjang.

Perjalanan Citra Febrianti untuk mendapatkan haknya sebagai peraih medali perak Olimpiade London 2021 sangat berliku.

Pada Olimpiade London 2012, Citra Febrianti yang turun di kelas 53 kilogram sebenarnya hanya menempati peringkat empat.

Citra Febrianti berada di bawah Zulfiya Chinshanlo (Kazakhstan), Hsu Shu-ching (Taiwan), dan Christina Lovu (Moldova).

Hasil itu kemudian berubah pada 2016 setelah Zulfiya Chinshanlo dan Christina Lovu terbukti menggunakan doping.

"Kasus ini hampir sama seperti kami mengurus Citra, dia itu bertanding di tahun 2012, tapi di 2016 baru diketahui ada doping dari pesaing yang mendapat medali dan akhirnya Citra baru dapat prestasi medali perak," ujar Okto.

"Sekali lagi kepentingan NOC Indonesia adalah menjaga kepentingan (prestasi) Indonesia. Sehingga kita akan berusaha semaksimal mungkin agar mendapatkan komposisi tawar yang terbaik terkait masalah Aprilia Manganang," Okto menambahkan.

× Image